
Juno membawa Amora ke ruangannya kembali. Di sana mereka mulai bicara lagi. Kali ini Juno tidak lagi bersikap dingin padanya, bahkan Amora masih berada di pelukannya di sebuah sofa empuk di ruangan Juno. Walau raut wajah Juno masih menyimpan kesalnya. Tapi, Amora tidak peduli.
"Aku ingin melupakan semua tentang dia, dan memulai hubungan kita dengan lebih baik lagi. Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya Juno. Akan aku mulai dengan menyingkirkan semua yang berhubungan dengan dia dari hidup aku. Aku mau balikin barang-barang yang dia kasih dulu sama aku dan bicara dengannya juga Ratih," tutur Amora. Ada guratan kesedihan di wajah Amora saat menceritakan itu.
"Aku tidak ingin mereka salah paham lagi, dan aku ingin berdamai dengan semuanya Juno. Mau nggak kamu percaya sama aku kali ini aja. Aku hanya ingin menyelesaikan permasalahan kami saja, tidak lebih. Aku tidak akan macam-macam Juno. Aku janji," ujar Amora yang kali ini menatap Juno dalam. Juno melihat kejujuran di mata Amora. Dia mulai berfikir. Mungkin Amora memang pantas mendapatkan kesempatan kedua.
"Percayalah Juno, aku sayang sama kamu. Melihat bagaimana kamu marah dan mengabaikan aku belakangan ini buat aku sadar, kalau aku nggak bisa kehilangan kamu. Horner hanya masa lalu aku yang belum usai aja. Cinta aku sama kamu, Juno," ujar Amora sekali lagi meyakinkan. Juno tersenyum dan mengangguk pelan. Amora seketika tersenyum sumringah saat mendapat kan izin dari Juno.
"Makasih sayang!" Seru Amora yang langsung berhamburan kepelukan Juno dengan tangis haru. Juno menarik Amora dari dekapannya dan menangkup wajah Amora dengan tatapan dalam.
"Aku ada di sini, di tempat yang sama. Kapan pun kamu berbalik, aku selalu ada di belakangmu, Amora." Juno mengangkat dagu istrinya yang tertunduk itu.
"Terimakasih Juno," lirih Amora seraya mempererat pelukannya pada Juno. "Kamu selalu sabar dan yakin sama hubungan kita selama ini. Harusnya aku bisa terima kenyataan kalau hubungan aku dan Horner sudah lama berakhir. Akan tetapi aku masih saja mengharapkan dia bahkan saat kamu peluk aku. Tapi ... Mulai sekarang aku janji, aku akan jadi milik kamu seutuhnya. Kamu nggak perlu paksa aku lagi, aku akan lakukan sepenuh hati mulai saat ini. Kamu nggak perlu takut makan di rumah, aku yang akan temenin kamu. Dan ...." tutur Amora terputus. Ia menatap Juno dan menyentuh wajah itu lembut dengan tatapan dalamnya. "Kamu jangan merasa sendirian lagi, kita akan punya banyak anak-anak nantinya, kita akan besarkan mereka semua hingga kita punya keluarga besar, dan kamu nggak perlu nangis lagi lihat KK yang hanya ada nama kamu. Kita akan buat KK kita bahkan tidak cukup satu lembar untuk mencatat nama anggota keluarganya. Aku akan lahirkan dia untukmu. Tapi ... Jangan kayak semalam, aku benar-benar kesakitan pagi tadi," tutur Amora cemberut yang membuat Juno terkekeh mendengarnya. Dia memeluk istrinya itu dalam dan cukup lama, hingga Amora merasa sesak dan mendorong Juno.
"Makasih, sayang. Makasih ... Aku nggak salah pilih, kamu orang yang tepat," ucap Juno tulus. Amora pun mempererat pelukannya. Sesaat mereka larut dalam cinta kasih mereka.
Setelah itu Amora mulai menceritakan perjalanan nya bersama Horner. Bagaimana dulu Horner yang bekerja di Jepang dan Amora yang mahasiswa di Jepang bertemu dan mulai menjalin kisah cinta mereka. Horner mulai sukses dengan karirnya di Jepang dan belakangan saat kembali, ke Indonesia Amora baru tahu jika Horner sudah memiliki istri. Amora menjauhi Horner karena hal itu tapi situasi malah terus mendekatkan mereka berdua, hingga Horner menceraikan istrinya. Dan mereka kembali bersama.
__ADS_1
Juno mendengar semuanya dengan penuh pengertian dan perlahan Juno memahami jika Amora tipikal wanita yang selalu sepenuh hati saat jatuh cinta.
"Lupakan semua, sekarang ... Biarkan dia bahagia bersama pilihan dia. Kamu hanya salah waktu datang, tapi mungkin berkat kedatangan kamu yang salah juga mereka mulai menyadari cinta diantara mereka itu kuat. Ikhlaskan mereka bahagia, Amora. Ayo kita mulai dengan hidup kita lagi mulai sekarang. Lupakan semua tentang mereka," nasehat Juno dengan seulas senyuman hangat. Amora mengangguk dan memeluk suaminya erat, Juno tersenyum simpul akhirnya Amora mau memeluknya dengan erat.
"Makasih ya, kamu mau dengerin curhatan aku," tutur Amora terharu.
"Sebenarnya capek juga sih dengerin kamu aja dari tadi," tutur Juno mulai iseng lagi. Amora pun mengambil tangan Juno dan mengigit nya membuat Juno berteriak meminta ampun.
Begitu lah hari itu berakhir dengan sangat indah bagi mereka berdua.
"Eh, iya. Boleh nggak aku nemuin Horner buat balikin barang-barang dia?" tanya Amora hati-hati.
"Mereka kayaknya akan pulang hari ini. Raya sudah sembuh dan di bolehkan pulang.
"Ya udah, aku mau nemuin dia sekarang aja." Amora bangkit bersiap akan keluar. Juno menatap Amora dengan tatapan aneh. "Ya udah kita bareng ke sana biar dia nggak salah paham." Amora seolah paham dengan arti tatapan Juno itu.
"Ogah, ngapain aku ikut konflik kalian," tutur Juno buang muka. Itu membuat Amora membulatkan matanya marah.
__ADS_1
"Rasti gila itu nanti tuduh aku mau rebut suaminya lagi,"
"Kan emang bener, kamu mau rebut suaminya dulu," tutur Juno mulai terlihat cari masalah.
Amora segera melepaskan heelsnya hendak melempari Juno.
"Iya, iya ... Aku temenin," tutur Juno langsung bangkit dan langsung mengecup kening isrtinya itu di sambut Amora dengan pelukan manjanya dan kembali mm engenakan heelsnya.
"Kamu itu dikit-dikit lempar. Sakit, tau!" Seru Juno seraya memegang kepalanya yang tadi sempat Amora lempar dengan botol minuman kosong, membuat Amora terkekeh.
***
Mereka segera berjalan menuju ruang rawat Raya. Saat sampai di pintu. Juno membiarkan Amora masuk sendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Sedangkan dia menunggu di luar. Amora menatap Juno sekali lagi sebelum ia mengetuk pintu kamar tersebut. Juno tersenyum seolah mengatakan bahwa ia mengizinkan Amora kali ini. Amora pun mulai yakin, ia mengetuk pintu kamar tersebut hingga seseorang membukakan pintu kamar tersebut. Kebetulan yang membuka pintu ruangan itu adalah Rasti. Rasti sempat terkesiap melihat siapa yang datang. Sesaat dia bingung harus bereaksi bagaimana atas kedatangan Amora yang tak terduga ini. Rasti menatap tajam ke arah Amora yang menenteng sebuah box yang lumayan besar.
"Aku mau bicara! Aku datang bersama suami aku. Aku tidak akan membuat masalah lagi. Tenang saja," tutur Amora dengan seulas senyum tenangnya.
Rasti melirik keluar, ternyata benar ada Juno yang tengah berdiri di belakang Amora. Rasti sedikit kaget tapi ia langsung tersenyum ke arah Juno, terlihat kaku, mungkin karena dia yang masih kaget dengan kedatangan mereka berdua yang tak terduga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...