Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Mengunjungi Dia


__ADS_3

Setelah puas menangis dan kembali dapat menguasai emosinya, Amora segera menemui Juno, tapi Juno masih sibuk di ruang polinya. Tercatat poli umum dokter Herjunot Wiryawan di atas pintu prakteknya. Amora memperhatikan nama itu. Dia pun memutuskan untuk menunggu di sebuah bangku yang ada di luar ruangan tersebut.


Dia terus memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Pasien Juno terlihat keluar masuk dari ruangannya silih berganti, ternyata poli yang Juno pegang cukup ramai. Amora memang sempat dengar, jika Juno merupakan salah satu dokter favorit di rumah sakit ini. Selain karena dia yang tampan dia juga pandai mengobati pasiennya dengan keramahannya yang membuat pasien suka dan nyaman. Setelah melihatnya langsung Amora pun percaya.


Menunggu cukup lama membuat Amora kembali larut dalam kenangannya bersama Horner dulu. Bagaimana lelaki dewasa, tenang dan bijak itu dulu begitu menjaganya. Dia membuat Amora nyaman saat bersamanya. Dia selalu memperlakukan Amora dengan lembut dan baik.


Ah, seandainya Horner mau ia ajak kabur bersama saat itu pasti sekarang ia sudah bahagia bersama lelaki itu dan melupakan permasalahan mereka. Ia tidak perlu terjebak di pernikahan konyol ini dan Horner tidak perlu kembali dengan istrinya yang egois dan pembuat Raya anak tunggal mereka celaka.


'Hmmm... Takdir selalu tidak memihak kita Horner,' batin Amora yang tanpa sadar kembali membuat Amora menitikkan air matanya. Ia pun segera menyekanya kembali.


'Sadar Amora, kamu sudah menikah dan sekarang pria itu juga akan kembali pada istrinya,' batin Amora kembali seraya menepuk pipinya pelan.


Untuk mengusir pikiran liarnya, Amora pun kembali membuka handphone yang ia beli bersama Juno di Swiss itu. Amora tampak masih bingung kenapa Juno membelikan handphone jelek seperti itu dengan alasan untuk sementara pakai. Ia melihat beberapa potret yang sempat ia ambil dengan handphone itu. Walau buram karena memang model lama tapi masih bisa di nikmati gambarnya, Amora tersenyum melihat potret-potret yang Juno kirim padanya itu.


"Dasar nggak jelas, otak encer tapi kelakuan kayak anak kecil," kekeh Amora sendirian seraya menatap foto konyol Juno yang ia kirim kepada Amora saat mereka sama-sama di Swiss tepatnya sebelum keberangkatan mereka, sebelum Amora banting lagi kepala Juno dengan tasnya, karena setelah itu Juno pusing dan mual sepanjang perjalanan.


"Hmmm... Dia sabar juga, ya." Ada seulas senyum di bibir Amora saat mengenang kelakuan Juno padanya. Mungkin karena jarak mereka yang hanya 3 tahun membuat Juno masih mau bersikap konyol dan kadang seperti pecicilan saat bersama Amora. Berbeda dengan Horner yang jauh lebih dewasa dari Amora, yaitu 15 tahun lebih tua dari Amora, tapi karena itu juga Amora sangat menyukainya.


***


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Juno keluar dari ruangannya. Saat dia keluar tampak seorang perawat memanggilnya. Dan merek seperti membicarakan sesuatu. Amora masih melihatnya dari posisinya. Lalu saat Juno terlihat tidak sibuk lagi baru Amora mendekatinya.


"Juno!" seru Amora.

__ADS_1


Juno pun menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum saat tahu yang datang adalah Amora istrinya.


"Udah lama?" tanya Juno tersenyum sumringah saat tahu Amora datang mengunjunginya.


"Lumayan," jawab Amora singkat.


"Udah selesai?" tanya Amora lagi.


"Udah. Tunggu aku temuin dokter ikhwar dulu buat kasih rekap medis ini sama dia," ujar Juno dan kembali berlalu meninggalkan Amora. Amora pun kembali duduk ke posisinya tadi kembali, sedangkan Juno segera pergi menemui dokter Ikhwar.


Sesaat seseorang datang menemui Amora.


"Buk Amora, ya?" sapa beberapa perawat di sana. Amora menoleh dan tersenyum ke arah 3 orang perawat cantik tersebut.


"Oh, ya. Kalian juga kerja di sini?" tanya Amora ramah. Mereka pun segera duduk mengerubungi si cantik Amora. Amora hanya tersenyum mendapati dia di ke rubungi begitu.


"Iya, kita magang, buk. Eh, tapi buk. Kita cuman mau ngasih tau, kalo di sini itu ada cewek yang gayanya udah kayak istrinya dokter Herjunot di sini. Nyebelin, sok cantik, dan suka ngatur-ngatur. Dia asisten dokter Herjunot. Pokoknya kalo ada dia nggak boleh ada yang dekat-dekat dokter. Dokternya aja ramah, eh dia yang sok ngatur-ngatur. Bilangin buk sama dokter Herjunot, ganti aja asistennya. Kita susah kalo ada dia. Mending dia nikah aja jadi ada yang di jagainnya selain resein kita deketin dokter. Kita kan cuman mau ngobrol sama dokter," adu salah satu diantara mereka yang membuat Amora tertawa geli melihat gaya mereka yang masih muda dan bersemangat. Sepertinya mereka adalah calon perawat muda yang masih dalam tahap pelajar. Dari gaya mereka yang menggebu-gebu dan sangat antusias dalam menceritakan sesuatu.


"Iya, buk. Kalo kita selfie bareng dokter kan lumayan bisa nambah followers padahal, buk." Sungut salah satu diantara mereka. Membuat Amora tertawa mendengarnya.


Tapi ini juga membuat Amora penasaran, siapa perawat yang di maksud. Tidak lama Juno pun datang. Dia melihat istrinya tengah di kompori oleh 3 perawat muda itu.


"Ayo lagi ngadu apalagi ini?!" seru Herjunot mengagetkan semua seraya memukul kepala ketiganya satu persatu dengan gulungan kertas pelan. Ke tiganya pun langsung kabur dengan tawa riang mereka yang renyah. Membuat Amora ikut tertawa bersama Juno.

__ADS_1


"Udah, nggak usah diambil pusing. Itu perawat magang, mereka biangnya di sini," ujar Juno.


"Eh, bukannya udah ada ya handphone yang kita beli di Swiss itu?" tanya Juno pada handphone yang ia belikan.


"Kamu itu beli asal, di tempat barang rongsokan lagi, foto aja nggak jelas mana mulut mana mata. Itu yang kamu bilang handphone?" rutuk Amora kesal.


"Ya udah ayok beli yang baru, itu dulu cuman buat jagain kamu biar nggak ilang aja," tutur Juno.


Juno pun segera menggandeng tangan Amora keluar rumah sakit. Amora kaget saat mendapatkan perlakuan itu, ia sedikit terseret saat pertama melangkah lalu setelah beberapa langkah ia pun bisa mengimbangi langkah Juno. Entah kenapa Amora merasa sangat bahagia saat di gandeng seperti ini oleh Juno. Ada debaran aneh di hatinya.


Tidak lama mereka sampai di parkiran. Juno membukakan pintu untuk Amora. Mereka langsung menuju mall yang Amora maksud. Mereka segera menuju toko handphone yang di inginkan. Setelah memilih handphone yang di inginkan, mereka segera membayar dan langsung menuju salah satu restoran yang ada di mall tersebut.


Setelah memesan makanan mereka pun menunggu pesanan mereka datang di salah satu bangku outdoor yang ada di restoran tersebut.


Pikiran Amora kembali teringat akan Horner. Dia merasa bingung dengan perasaannya. Apa dia di sebut berselingkuh jika dia masih menyimpan perasaan pada lelaki lain. Kenapa dia merasa bersalah kepada Juno. Walaupun dia tidak menyukai Juno, tapi dia merasa Juno telah memilikinya sebagai istrinya. Dia menatap Juno yang ada di hadapannya. Lelaki itu tengah sibuk membaca laporannya. Entah apa itu, Juno tampak terus fokus ke lembaran-lembaran itu.


"Kamu sering kesini?" tanya Amora.


"Nggak juga, sih. Paling sama Sinta kalo lagi kesini," tutur Juno. Saat Juno menyebut nama wanita lain ada perasaan lain di hati Amora.


"OOO ....," seru Amora malas untuk melanjutkan. Juno menatap Amora sekilas lalu kembali pada laporannya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2