
Juno terus tidur membelakangi Amora, Amora hanya menatap punggung Juno dengan tatapan kesal. Lalu ia pun berbalik memunggungi Juno juga. Tapi rasa kesalnya kepada lelaki ini lama-lama terasa tidak tertahankan. Ia berbalik menatap punggung Juno lagi dan bangkit dengan mata tajam dan nafas yang tersengal menahan emosinya. Tiba-tiba, dan...
BUUKKK...
Sebuah sendal lembut berbahan seperti boneka yang sering Amora kenakan mendarat tepat di kepala Juno. Juno menoleh pada Amora dengan tatapan tajam.Amora kini juga tengah menatapnya juga.
"Aku emang hubungin Horner tadi, aku juga nggak nemuin kamu. Karena kamu sibuk sama asisten ganjen kamu itu. Kamu ngeselin, tau nggak? 2 hari nggak pulang dan ngasih kabar. Kamu pikir nunggu tanpa kabar itu enak apa? Dan pulang-pulang liat muka asem kamu yang nggak ngenakin kayak gini," Teriak Amora yang kini tengah duduk di ranjang.
Juno masih menatapnya tajam.
"Apa pentingnya aku ngasih kabar atau nggak sama kamu? emang kamu peduli? Bukannya selama ini kamu nggak peduli? Apa kamu mau jadiin ini pelampiasan kekesalan kamu hari ini ke aku?!" Lalu ia bangkit dan mulai lelah meladeni Amora yang suka main tangan padanya, lama-lama membuat Juno jengah juga akhirnya. Lelah, mengantuk, emosi semua menumpuk di hati Juno saat ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk dia meluahkan semuanya.
Dia mengambil sendal milik Amora dan balik melempar Amora yang tepat mengenai wajah Amora. Juno pun tersenyum senang. Dia merasa puas dapat membalas perbuatan Amora padanya selama ini. Sedangkan Amora jadi bertambah merah mukanya karena menahan marah. Dia tiba-tiba menyerang Juno dan melakukan apapun yang bisa membuat Juno kesakitan. Mencakar, menjambak, menarik dan Juno yang tidak siap akan serangan tiba-tiba itu hanya bisa pasrah seraya mendekap dirinya dengan selimut.
Akan tetapi dia tidak bisa terus bagitu. Akhirnya dia membalik keadaan. Dia membalas perbuatan Amora padanya, dia lakukan apapun untuk menyakiti wanita ini, walau masih ia tahan agar tidak terlalu parah. Pertengkaran mereka bak seperti 2 anak kecil yang sedang berkelahi rebutan mainan favoritnya.
Lelah dengan pertarungan konyol mereka. Dia langsung membalik Amora dan membuat Amora kini berada di bawahnya, dengan posisi Juno berada di atas perut Amora dan kedua tangan Amora yang Juno tahan keatas kepalanya. Amora hanya bisa terbaring pasrah tanpa perlawanan berarti.
Kini nafas mereka sama-sama tersengal-sengal karena kelelahan. Mereka terdiam beberapa saat, cengkraman tangan Juno cukup keras hingga membuat dia kesulitan untuk melawan, apalagi kini Juno juga menindihnya membuat dia juga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia terkunci dengan posisi di bawah.
__ADS_1
Lalu Juno sedikit menekan Amora dengan mengunci pegangan tangannya Amora hingga membuat Amora berteriak kesakitan.
"Aaaahhhh...!!!" teriak Amora.
"Sakit?!" Seru Juno kesal. "Aku juga sakit tiap kali kamu kesal main lempar, Main tampar, main cakar aja. Lihat kamu nemuin laki-laki lain di tempat aku kerja dan dengar orang lain aduin itu sama aku. Kamu pikir aku nggak sakit apa!" seru Juno lagi dan kali ini Juno mencumbuinya dengan agak kasar pada leher dan meninggalkan sedikit bekas dengan gigitan kecil yang ia tujukan untuk membalas perbuatan Amora padanya selama ini.
"Juno! hentikan!" seru Amora menyerah. Juno pun tersenyum puas, dia berhasil membalas perbuatan Amora padanya selama ini.
Lelah memberontak membuat keduanya sama-sama kelelahan.
Amora tampak tidak berkutik hanya bisa diam tak bergeming dengan sorot mata tajam dengan posisi masih di tahan Juno dan nafas yang masih terlihat tersengal-sengal. Dan bibirnya yang di manyunkan membuat Juno merasa gemas dengan expresi lucu Amora.
"Kamu juga ngeselin. Nggak ngasih kabar, nggak hubungin aku sama sekali. Kenapa? Enak bareng Sinta? Terus aja bareng Sinta sana. Cewek keganjenan, demen laki orang. Dia pikir ...., " teriak Amora terputus.
Juno tiba-tiba membungkam mulut Amora dengan ciuman luma*an panas nya. Dia ******* bibir Amora dengan sedikit kasar. Amora hanya bisa membelalakan matanya tanpa bisa melawan saat mendapat ciuman mendadak itu. Kini Juno benar-benar ******* mulut Amora yang seketika terdiam. Dia hanya bisa pasrah akan perlakuan Juno padanya, karena ia benar-benar terkunci oleh Juno.
Berlahan Juno melepaskan cengkraman tangannya pada Amora saat ia merasa Amora tidak melakukan perlawanan lagi. Kini ia malah membuka pakaiannya lalu kembali mencumbui Amora. Amora hanya diam pasrah dengan mata yang terpejam. Juno terus membuka pakaian mereka berdua hingga tak menyisakan sehelai benangpun. Amora membuka matanya mendapati Juno masih menindihnya dengan cumbuannya yang tak henti dan tangan yang terus bergerilya menelusuri tiap lekuk tubuh istrinya itu dengan sesekali memberikan kecupan lembut di sana. Dan memainkannya dengan sedikit liar dan menggairahkan. membuat Amora semakin terbawa suasana.
__ADS_1
Kini mereka benar-benar dalam hubungan suami-istri yang sesungguhnya. Mereka melepaskan hasrat emosi yang tadi sempat membakar jiwa mereka, kini berganti dengan deru hasrat ken*km*tan yang bergejolak dan membawa mereka semakin tinggi ke alam nirwana.
Tampak nafas semakin memburu mereka dan semakin lama-lama membawa mereka ke perasaan yang membuncah keawang-awang membuat mata mereka terpejam saat menikmatinya. Amora memperhatikan wajah suaminya yang tengah berada dia puncak hasratnya. Tampak buliran keringat mulai membasahi wajah tampannya. Mengalir dari sudut wajahnya yang tirus dan panjang, hidung mancung itu juga hampir meneteskan keringatnya di ujung hidungnya, sungguh pemandangan yang membuat Amora terkesiap. Dia tak pernah menyadari betapa seksi nya Juno saat seperti ini, karena selama ini Juno selalu melakukannya dengan tergesa-gesa dan memaksa hingga Amora tak menyadarinya.
Lalu berlahan kekuatan itu melemah dan berhenti. Amora merasakan sesuatu di dalam tubuhnya atas perlakuan Juno padanya. Entah kenapa laki-laki ini selalu melakukannya di saat yang tak terduga bagi Amora. Pertengkaran kecil mereka berakhir pada adegan ranjang yang panas.
"Apa?" seru Juno saat membuka matanya dengan nafas tersengal dan masih di posisi yang sama belum melepaskan diri dari Amora. Amora memalingkan wajahnya. Juno mengecup lembut pipi merah itu.
Ia bangkit dan mengambil celana piyama tidurnya. Ia menuju ke kamar mandi meninggalkan Amora yang masih mematung di posisinya. Ia segera mengambil tisu di samping tempat tidur.
Sesaat Juno sudah keluar dari kamar mandi dan ia terbaring di samping Amora seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dengan mata bulat Amora yang masih menatapnya dengan tatapan kesal. Ia hanya membalas dengan senyuman puas kembali, berbalik dan membelakangi Amora.
"Aku capek. Tenaga aku udah habis. Please kita jangan berantem lagi, kita gencat senjata dulu," gumam Juno dengan mata yang terpejam dan posisi membelakangi Amora.
Amora menatap tubuh polos Juno yang bidang, masih terlihat mempesona meski dari belakang. Tapi Amora tidak pernah mengungkapkan itu kepada Juno, bahwa perlahan dia mulai mengagumi ketampanan Juno. Karena Juno sendiri selalu membandingkan dia dengan biri-biri dan tidak pernah bersikap manis layaknya seorang kekasih. Sebelum memejamkan matanya Amora sempat tersenyum simpul hingga menampakkan lesung pipinya lalu ia berlahan ikut tertidur.
Entah hubungan seperti apa ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1