
Amora merasa sangat marah dan kecewa dengan pertengkarannya dengan Juno. Apalagi mendengar ucapan Sinta padanya, membuat Amora semakin stress. Dia butuh sesuatu untuk meluahkan semuanya. Bisa-bisanya lelaki itu menyentuh tangan wanita lain. Mengingat itu membuat Amora semakin marah, dia memacu mobilnya ke sebuah klub malam.
Dia masuk kesana dan terdengar suara musik berdentum dengan keras menghentak. Amora menarik nafas panjang sebelum memutuskan masuk. Ia memotret foto klub itu dan mengirimnya pada Juno.
***
Di rumah, Juno dan Sinta berusaha menjelaskan duduk perkaranya kepada nenek.
"Nek, aku sama Sinta nggak ada hubungan apa-apa. Ini hanya salah paham Amora saja," terang Juno meyakinkan. Dia menatap Sinta. Dia bingung harus menjelaskan duduk perkaranya seperti apa.
"A-Amora ... Amora, nemuin Horner mantan pacarnya di rumah sakit tanpa sepengetahuan Juno, nek. Makanya Sinta yang tau juga marah. Tapi ... Amora salah paham ngira Sinta mau rebut Juno dari dia," terang Juno. Neneknya masih tampak berpikir. "Ini ... Ini hanya salah paham aja kok, nek. Nenek jangan khawatir, ya," tambah Juno lagi. Nenek menatap Sinta yang hanya diam saja.
"Lalu kenapa sampai Amora mengira kamu mau nikahin Sinta? Apa yang kalian lakukan hingga Amora bisa mengatakan itu? Tidak mungkin kan dia katakan itu kalau tidak ada yang mendasarinya?" tanya nenek lagi seraya menatap Sinta dan Juno.
"I-itu ... Itu ....," ujar Juno terputus.
__ADS_1
"Sinta nggak tahan sama sikap Amora yang suka seenaknya sama Juno, nek. Makanya Sinta bilang ke dia. Kalo dia sia-siain Juno Sinta akan rebut Juno dari dia. Karena ... Karena Sinta juga mencintai Juno, nek. Nenek juga tau, kan? Jangan bilang nenek tidak tau, nenek bisa tau kan dari cara aku sama Juno. Melihat orang yang Sinta cintai sepenuh hati di sakiti itu buat Sinta nggak tahan, nek. Kalau Amora sia-siakan kan Juno Sinta mau gantikan posisi Amora. Sinta tau ini kedengarannya kayak Sinta nggak tau malu. Tapi ... Sinta tulus sama Juno, nek ...." tutur Sinta berlinangan air mata dengan nenek yang semakin terdiam dan Juno yang semakin khawatir dengan kenekatan Sinta saat ini.
"Ka-kalian berdua tidak boleh jatuh cinta. Kalian berdua itu cucu nenek," ungkap nenek masih tidak percaya dan berusaha menahan perasaannya.
"Sinta hanya berusaha jujur, nek. Karena Sinta sakit hati lihat cara Amora menyakiti Juno begitu. Kenapa Juno harus jatuh cinta pada perempuan kasar seperti Amora. Kenapa Juno memilih dia," isak Sinta seraya terus menyeka air matanya. Juno hanya bisa diam, dia tidak tau harus melakukan apa. Satu sisi dia merasa ini aneh, tapi di lain sisi dia tidak ingin menyakiti Sinta. Dia benar-benar sudah menganggap Sinta seperti adiknya sendiri selama ini.
"Ini urusan rumah tangga Juno, Sinta. Kamu tidak boleh ikut campur begitu. Nenek yakin, kamu hanya tengah cemburu karena Juno tidak bisa bermain bersama kamu lagi seperti biasanya. Waktu Juno terbatas untuk Amora saja. Mungkin karena itu kamu cemburu. Kalian berdua jangan buat skandal yang memalukan seperti ini. Apa kata orang-orang dan keluarga Amora nanti kalau tau. Hentikan semua ini. Nenek tidak mau lihat kalian seperti ini lagi," tutur nenek mulai merasa kacau. Juno hanya tertunduk sedangkan Sinta terus menyeka air matanya.
"Kamu bukan wanita seperti itu Sinta. Kamu tidak boleh begini, nak. Juno ini suami orang, mereka sudah menikah dan bukannya pacaran. Kamu tidak boleh menyimpan harapan seperti itu pada Juno, nak. Belajarlah untuk menerima bahwa Juno tidak seperti dulu lagi. Cobalah terima keberadaan Amora. Mungkin dengan begitu kamu bisa tahu kalau kamu tidak tengah jatuh cinta pada Juno. Tapi, kamu hanya tengah tidak ingin kehilangan waktu bersama Juno saja. Coba ajak Amora bicara baik-baik Sinta. Mungkin dengan begitu kamu bisa menerima keadaan ini, nak. Nenek tidak mau hubungan kalian rusak karena ini. Amora dan Juno jadi kacau, dan kamu juga jadi rusak hubungannya," tutur nenek.
"Untuk Amora yang menemui mantan pacarnya di rumah sakit. Coba kamu bicarakan lagi Juno. Jangan di buat jadi masalah, nak. Coba tanyakan baik-baik, jangan bicara saat kalian sama-sama emosi. Jika mereka sekedar bertemu dan tidak melakukan apapun, apa salahnya kamu bicarakan baik-baik dulu dengan Amora, nak. Nenek lihat Amora sangat menyayangi kamu. Dia selalu menunggu kamu datang. Bahkan tadi, dia tampak khawatir saat kamu belum datang. Nenek yakin Amora tidak berniat berselingkuh dengan mantan pacarnya," nasehat nenek. Juno hanya tersenyum kecut. Dia tidak ingin neneknya khawatir. Dia tidak ingin melibatkan neneknya dalam permasalahannya.
"Nenek harap kalian bertiga bisa akur dan tetap menjadi teman baik tanpa harus ada yang cemburu lagi. Nenek menyayangi kalian bertiga," tutur neneknya lagi.
"Sinta jadi lah adik Juno. Juno sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jangan begini, nak. Nenek sayang sama kamu, tapi tidak untuk jadi istri Juno. Nenek tidak mau kehilangan kamu. Jangan rusak hubungan kalian," nasehat nenek Juno yang membuat Sinta langsung pecah tangisnya.
Sedangkan Juno hanya bisa terdiam dan tertunduk. Dia juga sangat menyayangi Sinta, tapi hanya sebagai adiknya. Dia cukup resah dengan pernyataan Sinta ini. Ia takut kehilangan Sinta dari sisinya, dia juga tidak bisa menerima Sinta sebagai kekasihnya.
__ADS_1
***
Setelah bicara dengan Juno dan Sinta nenek pun meninggalkan Sinta dan Juno berdua. Nenek sengaja meninggalkan mereka untuk membicarakan masalah mereka.
"Maaf Juno, aku tidak bermaksud membuat kau dan Amora bertengkar. Aku hanya tidak ingin kau di sakiti Amora saja. Aku hanya tidak ikhlas melihat kau selalu di sakitinya, Juno. Aku tau kamu sangat mencintainya. Tapi, aku tidak ingin jika kamu terus di sakitinya seolah kamu tidak bisa di hargai olehnya," tutur Sinta.
"Iya, Sinta. Terimakasih atas kebaikan kamu selama ini. Aku juga nggak mau hubungan kita berubah karena ini. Aku rasa ada benarnya apa yang di ucapkan nenek. Mungkin kamu hanya tengah merasa kehilangan waktu bersama kita saja. Jangan kamu salah artikan perasaan kamu sama aku, Sint. Aku nggak mau kita kacau karena ini. Kamu tau kan dari dulu aku sangat mencintai Amora." Sinta tertunduk malu mendengarnya, dia merasa seakan-akan tengah menjadi perusak rumah tangga Juno dan Amora karena sudah lancang mengungkapkan perasaan cintanya.
"Maaf, Jun. Maafin aku, aku hanya ingin kamu bahagia, jika kamu bahagia aku nggak masalah, Jun." Sinta tengah berusaha berdamai dengan keadaannya saat ini. Mungkin benar, apa yang tengah ia lakukan saat ini bisa jadi merusak bukannya membuat Juno nyaman.
Dia tau sekarang betapa Juno sangat mencintai Amora. Dia tidak tahu apa-apa tentang bagaimana Amora dan Juno menjalani hubungan mereka selama ini. Dia hanya orang asing di rumah tangga mereka, berani-beraninya dia menyela diantara mereka berdua selama ini dan menghalangi mereka, bahkan sejak mereka kecil. Sinta kembali ingat bagaimana dulu dia mengusir Amora dan dia selalu menantang Amora untuk tidak mendekati Juno bahkan saat mereka sudah menikah pun Sinta terus menentang Amora. Dia tidak ingin menjadi begitu.
"Sint ... Aku nggak mau kamu berubah sama aku karena ini. Aku sayang sama kamu kayak aku sayang sama adik aku, kayak aku sayang dengan si kembar dulu. Jadi, jangan berubah ya sama aku. Tetap jadi Sinta yang dulu. Kita anggap saja tidak pernah ada pembahasan ini. Kalau soal Amora biar aku yang atasi. Tapi, aku harap kalian berdua bisa berdamai, ya," pinta Juno seraya menggenggam tangan Sinta yang saling meremas. Kelihatannya Sinta mulai merasa tidak enak hati. Itu terlihat dari senyumnya yang terlihat kaku dan masih tidak berani menatap Juno. Juno paham bagaimana perasaan Sinta saat ini, dia tidak ingin membuat Sinta tidak nyaman lagi.
"Yaudah, Jun. Aku ke kamar dulu, ya," tutur Sinta lalu meninggalkan Juno sendirian. Juno hanya menatap kepergian Sinta.
__ADS_1
'Aku harap kamu nggak berubah, Sint. Aku nggak mau kamu pergi karena nggak nyaman dengan permasalahan ini,' batin Juno seraya menatap kepergian Sinta dari hadapannya.
BERSAMBUNG...