
Pagi itu Juno bangun dan Amora tampak sudah bangun. Juno kaget saat melihat sudah ada pakaiannya yang terenggak dengan rapi di pinggir ranjang dan Amora terlihat baru keluar dari kamar mandi.
"Air panasnya udah aku siapin. Kamu mau mandi sekarang?" tanya Amora lembut dengan tatapan yang tampak melunak. Juno bangkit tanpa sepatah katapun. Ia langsung ke kamar mandi. Setelah selesai, Amora memperhatikan Juno yang tengah memakaikan pakaiannya satu persatu.
"Kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Amora.
"Nggak tau!" jawab Juno dingin seraya mengenakan jam tangannya. Amora tertunduk seraya meremas tangannya. Juno benar-benar marah dan mengacuhkannya sekarang.
Setelah semua siap, Juno bersiap keluar kamar dan di ikuti Amora yang membawakan tasnya menuju meja makan. Hari ini mereka sarapan bersama lagi. Karena ayah Amora sedang ada di rumah. Juno dan ayah Amora tampak akrab, dan Juno bersikap normal kepada ayah mertuanya walau dia mengacuhkan Amora. Amora terus memperhatikan Juno, walau Juno tidak menyapanya sedari tadi, tapi Juno terlihat biasa saja saat bersama yang lain.
"Juno! Kalau Amora begitu lagi sama kamu, kamu bisa bilang sama Papa," tutur mertuanya pada kejadian semalam seraya menatap Amora tajam. Juno hanya menjawabnya dengan senyuman, sedangkan ibu Amora tampak dingin menanggapinya dan Amora hanya tertunduk.
Pagi ini suasana sarapan menjadi agak tegang pasca kejadian semalam.
***
Selesai sarapan Juno berangkat kerja dan diantar oleh Amora. Juno langsung masuk mobil tanpa menyapa Amora, Juno kembali terlihat dingin padanya. Dia bahkan tidak menyapa Amora sama sekali.
Amora terpaku menatap mobil Juno yang berlalu di hadapannya. Ia melihat hingga Juno hilang di belokan pun dia masih berdiri disana.
'Maaf Juno?' batin Amora.
Amora pun melangkah masuk ke rumah besarnya itu, para pelayan tampak begitu patuh menghormati nyonya muda nya yang melalui mereka, mereka menundukkan kepala kepada nyonya muda yang bahkan tak menatap mereka karena terlalu larut dengan pikirannya.
"Amora!" panggil seseorang. Amora pun menoleh, ternyata itu adalah ayahnya. Dia meng-kode Amora agar duduk di sampingnya. Amora pun dengan patuh menurutinya.
Kini Amora, ayah dan ibunya duduk bersama bertiga.
"Amora, Papa harap kejadian kayak semalam itu pertama dan terakhir kalinya terjadi. Jangan perlakukan Juno seperti itu lagi. Dia itu orang asing yang kita jadikan keluarga, kalau kita yang di rumah memperlakukan dia tidak baik seolah tidak menerima dia, kasihan dia. Papa dengar bahkan dia untuk makan pun tidak berani. Dia jarang makan malam di rumah, sarapan pun tidak. Kenapa kalian seperti itu? Apa kalian tidak kasihan dengannya? Dia itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain neneknya yang sudah tua. Papa juga lihat dia sudah sangat ngalah sama kamu, tapi kamu malah kayak gitu sama dia," nasehat ayahnya panjang lebar. Amora semakin tertunduk.
" Sudah, lain kali jangan gitu lagi sama dia. Mama juga, Mah," tutur ayah Amora menatap istrinya. Dona hanya diam di peringati begitu.
Lalu ayah Amora pun Pergi meninggalkan mereka berdua. Amora pun ikut pergi setelah ayahnya berlalu, meninggalkan ibunya sendiri di sofa.
__ADS_1
***
Amora berjalan menuju kamar nya. Ia melihat koper Juno. Ia pun membukanya dan mulai membongkarnya.
"Mungkin sebaiknya aku yang menaruhnya di lemari. Sudah saat nya dia mendapatkan tempatnya," gumam Amora.
Amora pun mulai menyusun semua pakaian Juno di walk in closed. Dia kerjakan itu seharian ini. Satu persatu barang-barang milik Juno sudah Amora pindahkan, termasuk buku-buku dan peralatan lainnya. Amora tersenyum melihat pakaian Juno yang kini tersusun rapih di lemarinya. Dia menatap baju-baju itu.
"Baiklah, ayo kita memulainya lagi mulai sekarang," tutur Amora dengan seulas senyum seraya menyentuh lembut pakaian Juno yang baru saja ia susun itu.
Sesaat mata Amora tertuju pada sebuah lingerie merah miliknya. Lingerie itu di beli ibunya saat sebelum pernikahannya, belum pernah ia kenakan selama ini. Amora pun mengambilnya dan memantaskannya di depan kaca besarnya dengan seulas senyum malu-malu.
"Apa lebih baik aku kenakan ini untuk menunjukkan jika aku ingin berdamai dengannya," pikir Amora dengan seulas senyum seraya membayangkan sesuatu yang membuatnya tersenyum tersipu seraya menggigit kukunya karena entah kenapa ia merasa malu membayangkannya.
Amora kembali mengingat bagaimana saat mereka kecil, Juno remaja selalu membantu Amora walau dia tidak banyak bicara, karena saat itu Juno masih berduka pasca meninggal anggota keluarganya.
Juno sering kali melindungi Amora dari gangguan anak-anak nakal, hingga tidak ada yang berani mengganggunya lagi.
FLASHBACK IS ON
Dia tidak banyak bicara dan tampak sangat bersedih, dia sering kali termenung dan tatapannya seringkali terlihat kosong. Amora yang 3 tahun lebih muda saat itu masih berusia 10 tahun dan tidak pernah memiliki teman karena sikap galaknya dan egoisnya yang tidak mau kalah dalam bermain hingga membuat tidak ada teman yang mau berteman dengan Amora.
***
Hari itu Amora tengah bermain di depan rumahnya sendirian. Amora tiba-tiba di ganggu oleh beberapa anak nakal.
"Amora rambut kamu kayak nenek sihir, ngembang, hahaha... " Ejek mereka. Amora tampak sangat kesal dengan ejekan itu. Kulitnya yang putih seketika menjadi merah karena marah, dia segera mengambil sebuah batu di dekatnya dan dengan cepat melemparnya hingga mengenai kepala salah satu diantara anak nakal itu.
"Heh ... Berani-beraninya nih cewek!" seru salah satu diantara ke tiga anak itu bersiap akan memukul Amora untuk membalas perbuatan Amora, Amora seketika menjadi ketakutan saat melihat dia akan di sakiti.
"Heh, mau ngapain?" Seru Juno yang entah sejak kapan berada di belakang Amora yang tengah ketakutan hingga membuat ketiga anak itu berlarian terbirit-birit saat melihat Juno yang lebih besar melindungi Amora dengan wajah sangarnya. Karena memang Juno berperawakan tinggi sejak remaja.
Amora menatap kedatangan Juno, perlahan dan mereka saling tersenyum. Mulai hari itu mereka pun menjadi akrab. Amora yang tidak memiliki teman pelan-pelan mulai bisa memiliki teman bermain. Dia mulai tidak takut lagi bermain di luar karena Juno selalu melindunginya dari kejauhan. Jika ada yang mengganggu Amora maka dia dengan segera akan datang melindungi Amora. Amora yang merupakan anak tunggal sangat senang saat itu, karena ia merasa memiliki kakak laki-laki, apalagi Juno juga berparas tampan. Hingga ada beberapa remaja putri bahkan yang selama ini acuh pada Amora malah ingin berteman dengan Amora demi bisa berkenalan dengan Juno walau Juno tidak pernah menggubris mereka.
__ADS_1
Tapi semua mulai berubah, saat Juno harus kembali ke kediamannya. Amora dengan berat hati melepas kepergian Juno. Walau di hadapan Juno dia tidak menunjukkan sedihnya tapi saat Juno remaja sudah pergi Amora kecil berlari ke kamar dan menangis hingga berhari-hari karena merasa kehilangan teman bermain.
Ibunya dan Ros terus mencoba membujuknya, tapi tetap tidak berhasil. Saat ayah Amora berinisiatif akan membawa Juno kembali kerumah ibunya malah sangat menentangnya hingga ia mempengaruhi Amora agar juga membenci Juno dan melupakan Juno.
Karena tidak tahan rindu pada Juno. Amora nekat meminta supirnya mengantarkan dia ke rumah Juno secara diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya sepulang dari les pioanonya. Tapi tiap kali ia ke rumah Juno selalu saja seorang gadis kecil mengatakan bahwa Juno tidak ingin menemuinya.
"Juno nggak ada. Pulang gih," usirnya, Amora langsung kesal di usir begitu saja.
"Kamu siapa?" tanya Amora tak mau kalah.
"Aku temennya Juno. Kamu ngapain kesini tiap hari nyariin Juno?" Ujarnya dengan wajah sinis tampak sangat tidak menyukai kedatangan Amora.
"Aku juga temannya Juno, aku mau ketemu Juno. Mana dia?" sahut Amora dari luar pagar. Mereka berdua berkomunikasi dengan di pisahkan pagar besi yang tinggi.
"Dia nggak mau ketemu kamu lagi. Udah pulang aja. Dia nggak suka kamu, mana kamu galak sama dia," tutur si gadis kecil lagi yang sebaya dengan Amora itu.
"Kenapa?" tanya Amora tidak mengerti.
"Nggak tau! Juno bilang mama kamu galak, dia nggak suka sama kamu juga," jawabnya ketus lalu pergi menuju rumah besar itu kembali tanpa mau membukakan pintunya untuk Amora. Amora tertegun di tempatnya berdiri dengan wajah yang sedih. Dia berjalan berlahan menjauhi pagar besi itu dan masuk kembali ke mobilnya.
Tanpa Amora sadari, Juno melihat kedatangan Amora. Baru saja dia berhasil membuka pintu pagarnya Amora sudah pergi bersama supirnya.
Suatu saat Amora berhasil bertemu Juno, tapi saat Amora mendekat, Juno malah berlari ke halaman rumahnya. Amora sangat bersedih saat melihat ternyata benar Juno membencinya. Saat itulah Amora benar-benar membenci Juno yang dianggapnya sudah tak menyayanginya lagi. Si gadis kecil yang saat itu juga bersama Juno hanya tersenyum melihat Amora di tinggalkan begitu saja.
Gadis kecil itu dialah Sinta. Seorang gadis kecil yang sangat protektif pada Juno sedari kecil dan tidak ingin Juno dekat dengan siapapun kecuali dia.
Amora pulang sambil menangis karena kecewa akan sikap Juno yang mengabaikannya dan dia bersumpah tidak akan mau menemui Juno lagi. Ternyata rasa benci itu tumbuh hingga dia dewasa, saat Juno melamarnya dia mati-matian menolaknya walau dia sudah bertahun-tahun tidak bertemu Juno saat itu, bahkan dia sampai nekat ingin kabur bersama Horner dan Horner malah mengantarkan Amora kembali pulang dan memaksa Amora menerima lamaran Juno dan menikah dengan Juno.
Inilah yang menjadi alasan Amora sangat membenci Juno, karena ia merasa Juno mengkhianatinya dan mengacuhkannya saat dia terus merindukan Juno remaja hingga dia sakit, tapi saat bertemu Juno malah sangat mengecewakannya.
FLASHBACK IS OFF
Amora kembali tersenyum mengingat kisah masa kecilnya saat bersama Juno. Dia mengusap salah satu foto dia bersama Juno yang dia simpan di kotak kecil miliknya.
"Harusnya aku tidak membencimu karena itu. Aku sangat naif, ya," ujar Amora seraya mengusap foto tersebut dengan seulas senyum penuh arti.
__ADS_1
Ia kembali pada kegiatannya menyusun barang-barang Juno di walk in closed. Ia menyeret koper Juno dan mulai membawa satu persatu pakaian Juno ke ruang walk in closed.
BERSAMBUNG...