Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Tamu Istimewa


__ADS_3

Pagi menjelang, Amora terbangun dan mendapati Juno yang masih terlelap. Ia kembali mengingat ke jadian semalam. Ia tersenyum dan mengecup lembut wajah suaminya itu. Betapa tampannya lelaki ini saat ia tertidur. Wajahnya terukir rapi sebagai ukiran yang sempurna, sudah sejak lama ia mengagumi ketampanan pria ini namun selama ini sulit untuk ia akui karena dendam masa kecilnya. Tapi saat ini betapa ia menggilainya, bahkan dia tidak sanggup jika harus berpisah lama dari Juno. Sekarang dia sering menelpon Juno hanya untuk meminta lelaki ini segera pulang dan bersamanya.


Tiba-tiba Amora merasa aneh. Tiba-tiba dia merasa sangat mual, itu membuat dia dengan cepat berlari menuju kamar mandi. Terdengar dari kamar mandi Amora muntah-muntah. Entah kenapa dia merasa sangat mual.


"Aku salah makan, ya!" pikirnya. Baru saja dia akan melangkah keluar dari kamar mandinya tiba-tiba dia kembali mual, dia pun kembali ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya yang masih kosong.


Juno yang mendengar ada yang berisik pun terbangun. Dia melihat Amora yang baru keluar dari toilet.


"Kenapa?" tanya Juno yang masih separuh sadar.


"Nggak tau, tiba-tiba mual aja rasanya," terang Amora.


Juno mulai berpikir.


"Coba sini aku lihat." Amora pun melangkah mendekati.


"Apa perut kamu sakit?" tanya Juno seraya mengecek keadaan istrinya itu. Amora menggeleng seraya duduk di pangkuan suaminya dengan manja.


"Kamu udah dapet tamu bulanan belum bulan ini?" tanya Juno yang mulai mencurigai sesuatu. Amora mengambil handphone Juno di nakas di samping Juno.


"Kayaknya udah 2 Minggu ini aku telat," tutur Amora. Juno pun tersenyum.


"Ya udah, nanti kita beli testpack, ya," ujar Juno seraya memeluk istrinya itu.


"Kenapa? Aku hamil ya?" tanya Amora yang masih di dekapan suaminya itu dengan senyum cerah yang terpancar dari wajahnya.


"Ya belum pasti juga. Coba aja kita lihat nanti," tutur Juno yang masih tidak mau banyak berharap, walau hati kecilnya sebagai seorang suami mengatakan jika istrinya ini tengah berbadan dua. Sedangkan Amora masih terdiam terpaku tidak percaya.

__ADS_1


"Udah, jangan kegeeran dulu ntar kecewa." Juno mencubit hidung istrinya itu seraya tertawa.


"Juno! Aku hamil?" teriak Amora seraya memeluk Juno erat.


"Udah, ah. Belum pasti juga. Kita cek aja dulu," ujar Juno seraya melepaskan Amora dari pelukannya dan bangkit mengenakan pakaiannya kembali seraya berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Amora masih terpaku di posisinya tidak percaya. Sesaat dia tersadar dan mengusap perutnya yang masih rata itu.


Sesaat Juno sudah keluar dari kamar mandi. Dan kembali duduk di ranjang seraya bersandar di kepala ranjang.


"Juno! Kamu nggak punya testpack apa?" tanya Amora yang segera memeriksakan tas suaminya itu. Juno melirik Amora sekilas.


"Mana ada aku simpan yang kayak gituan. Nanti siang aja kita ke apotik buat cek benar atau nggaknya," tutur Juno yang tengah sibuk dengan gawainya. Sesaat Amora kecewa karena tidak berhasil menemukan apa yang dia cari dari tas Juno. Dia pun segera menghampiri Juno lagi dan bersandar di dada Juno seraya memeluknya manja.


"Aku nggak sabar punya anak. Pasti nanti dia lucu banget." Amora mulai menghayal dan tersenyum-senyum sendiri. Juno hanya tersenyum simpul dengan tingkah istrinya itu.


"Belum pasti juga, udah kegeeran," tutur Juno seraya melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Amora yang masih senyam-senyum Sendiri


***


Saat tengah larut dengan pikirannya, tiba-tiba Darsih lewat di hadapan nenek Juno.


"Sih!" panggil nenek pada Darsih.


"Dalem, ndoro," sahut Darsih.


"Kalau kita jenguk Juno ke tempat Amora kira-kira Ndak papa, kan Darsih?" tanya Nenek Widya.


"Ya, Ndak papa Ndoro. Kan kita niatnya mau silaturahmi," terang Darsih lugu. Nenek Widya tersenyum mendengar jawaban lugu Darsih.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kamu siap-siaplah kita ke sana, ya," jawab nenek Widya seraya bangkit dari kursi goyangnya.


***


Di sisi lain Juno dan Amora tampak tengah menemui dokter kandungan. Dia datang mengecek kandungan Amora. Karena setelah mereka cek dengan testpack tadi pagi memang sudah ada 2 garis merah yang pudar menandakan adanya tanda kehamilan dalam diri Amora. Untuk lebih pasti mereka pun siangnya datang mengunjungi dokter kandungan.



"Sudah lama momen ini saya tunggu-tunggu, dok. Anda datang bawak istri cek ketempat saya," sambut sang dokter yang kebetulan juga merupakan rekan kerja Juno di rumah sakit. Karena itu mereka dapat langsung menemuinya tanpa antri panjang terlebih dahulu. Juno hanya tertawa mendengar guyonan sang dokter dengan Amora yang tersenyum malu-malu.


Sang dokter pun segera memeriksakan kandungan Amora, dia dan asistennya mulai melakukan tindakan USG pada perut rata Amora. Amora yang di dampingi Juno tampak tegang menunggu hasilnya.


"Ini memang udah mulai keliatan. Baru 3 Minggu ini baru mau masuk 4. Masih muda. Masih perlu hati-hati ayah sama bundanya kalo mau main," terangnya dengan canda membuat mereka semua tertawa.


Selesai dengan dokter kandungan Juno dan Amora pun mulai langsung permisi pergi dengan sebelumnya ia mengambil obat ke apotik rumah sakit tersebut terlebih dahulu. Melihat yang datang adalah Juno bersama Amora membuat semua suster di sana mengerubunginya karena mereka yang ikut senang dengan berita kehamilan Amora. Jadi lah Amora di wawancarai oleh mereka, sedangkan Juno langsung ke ruang apotik untuk menanyakan resep obat Amora.


"Wah akhirnya, buk. Kita udah lama loh nungguin nya. Kan kita penasaran kalau dokter Herjunot yang ganteng dan ibuk Amora yang cantik kalo punya anak secakep apa gitu," tutur salah satu diantara mereka. Dan di sambut senyum bahagia oleh yang lain serta senyum malu-malu Amora karena terus di goda oleh perawat dan suster muda itu. Mereka terus menggoda Amora hingga Juno selesai mengambil resep obatnya.


"Ck, kalian ini. Istri saya lagi mabuk malah di ke rubungi kayak semut gini," tutur Juno pura-pura marah seraya berjalan mendekati Amora dan yang lain.


"Ih, dokter. Kita itu seneng. Nggak sabar pengen lihat bayinya juga," tutur salah satu perawat di sana.


"Sukses kerja malamnya, dok," canda yang lain mengundang tawa. Juno yang sudah terbiasa dengan canda perawat-perawat muda itu hanya santai menanggapinya bahkan menjawab guyonan mereka dengan tak kalah usilnya. Hanya Amora yang terlihat banyak diam tersenyum seraya mendengar dengan tangannya yang terus Juno gandeng. Membuat para perawat itu semakin heboh karena Juno terlihat agak berbeda bersama Amora, biasanya Juno jarang menunjukkan kedekatannya dengan Amora tapi kali ini ia terlihat lengket terus.


Karena bercanda dengan para perawat muda ini yang tidak pernah bisa usai Juno dan Amora pun memutuskan untuk pergi saja.


"Bye dokter Juno, kita tunggu baby nya," seru mereka yang tampak sangat bahagia. Juno hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik dan terus berjalan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2