Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Wanita Lain


__ADS_3

Sebelum ke rumah sakit, Juno mampir ke tempat neneknya. Dia melihat neneknya yang tengah duduk di teras sambil menikmati kursi goyangnya di teras. Saat melihat kedatangan cucu tampannya datang. Dia langsung bangkit dan tersenyum sumringah.



"Juno! Kapan kamu pulang sayang?" seru si nenek antusias.


"Kemaren, nek," ujar Juno seraya menyalami dan mencium tangan neneknya.


"Loh, kok jidat kamu di perban? Kamu kenapa?" tanya neneknya khawatir.


"Nggak papa kok, nek. Cuman sempat jatuh aja waktu di Swiss. Jadi ke jedut. Ini juga udah nggak papa, kok," ujar Juno tidak ingin neneknya khawatir.


"Kamu itu loh ya mbok hati-hati," ujar neneknya masih khawatir seraya menyentuh lembut kening cucu semata wayangnya itu.


"Iya, lain kali hati-hati," ujar Juno seraya mengusap tangan neneknya lembut dengan posisi masih duduk berjongkok di hadapan neneknya yang tengah duduk di kursi goyangnya.

__ADS_1


"Nenek gimana? Apa kabarnya? Tensinya ada naik nggak selama Juno nggak ada?" tanya Juno lembut penuh kasih sayang, neneknya pun tersenyum mendapatkan perlakuan manis seperti itu.


Juno memang sangat menyayangi neneknya, bagi Juno neneknya adalah segalanya di dunia. Hanya yang tersisa di hidup Juno. Sebenarnya memutuskan pindah tinggal bersama Amora adalah pilihan sulit bagi Juno, karena neneknya yang sudah tua sering kali mengalami masalah kesehatan, biasanya Juno lah yang selalu menanganinya. Kini Juno hanya bisa mempercayakannya pada Sinta sahabat sekaligus tetangganya yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Nenek sehat. Kan selama kamu tidak ada, ada Sinta yang nemenin nenek di rumah. Dia nenek mintak tidur di sini sama nenek. Dia rawat nenek baik sekali. Biasanya sebentar lagi di juga datang. Nanti kamu bisa berangkat kerja sama dia. Motor dia lagi di bengkel katanya. Pagi-pagi tadi dia jemput bajunya ke rumahnya," terang di nenek.


Semenjak ayahnya yang ASN pindah tugas, Sinta tinggal sendirian di rumahnya bersama adiknya yang kini juga masih kuliah. Sedangkan Sinta bekerja di tempat yang sama dengan Juno di rumah sakit yang cukup besar di kota tersebut. Karena itu sekarang Juno bisa mempercayakan neneknya pada Sinta.


Benar saja, tidak lama Sinta pun datang sudah lengkap dengan seragam perawatnya. Dia kaget saat melihat kehadiran Juno. Sudah lama dia menunggu kepulangan Juno. Sekarang hari yang di tunggu pun datang.


"Baru kemarin," ujar Juno.


"Eh kok jidat kamu! Ini Kenapa?" tanya Sinta seraya menunjuk jidat Juno yang di perban. Dia terlihat sangat kaget sekaligus khawatir.


"Oh, ini aku sempat jatuh terus kejedut. Makanya luka, nggak parah kok, cuman di perban aja biar aman," terang Juno tidak ingin membuat khawatir.

__ADS_1


Setelah mengobrol sebentar mereka pun akhirnya pamit pada nenek Juno untuk berangkat kerja. Nenek Juno terus melambaikan tangannya hingga Juno hilang dari pandangannya.


Seorang pembantu pun keluar dari rumah. Dia menemui nenek Juno untuk menyerahkan teh hijau permintaan nenek Juno tadi.


"Harusnya den Juno nikahnya sama neng Sinta, ndoro. Mereka itu serasi. Dari kecil juga udah sama-sama," ujar si pembantu lugu.


"Husshh... Kamu itu. Ndak baik ah, nanti kedengeran sama istrinya Juno ndak enak loh," tegur nenek Juno yang membuat si pembantu segera menutup mulutnya karena malu mendapat teguran majikannya itu.


"Habis nya, ndoro. Neng Sinta seperti patah hati waktu den Juno nikah. Dia jadi banyak diam. Saya juga pernah mergoki dia lagi nangis liat den Juno ijab kabul waktu itu. Sedih saya liatnya ndoro," terang si pembantu itu lagi.


"Namanya juga jodoh, mbok. Siapa yang tau. Lagian orang tua Amora itu juga kan baik sama Juno. Dan keluarga Amora kenalan lama kita juga kan, sampe ayah Juno sendiri bisa percayakan hotel dan bisnisnya sama keluarga Amora. Pernikahan ini juga buat bikin hotel dan bisnis keluarga kita Ndak jadi sengketa, ya mending tak jodohin aja ahli warisnya kan. Jadi ndak usah ribut lagi buat bagi saham dan hasilnya," terang si nenek membuat Darsih pembantu keluarga itu pun manggut-manggut tanda mengerti.


"Gitu ya, ndoro," ujar si pembantu lagi. Nenek Juno pun hanya tersenyum seraya menikmati teh hangatnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2