Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Perasaan Aneh


__ADS_3

Pagi-pagi saat bangun Amora mendapati Juno sudah tidak ada di ranjangnya, akan tetapi dari kamar mandi terdengar suara gemericik air menandakan ada seseorang di kamar mandi. Benar saja, tidak lama Juno keluar dengan handuk yang melilit sebatas pinggang sampai lututnya, hingga memperlihatkan tubuh sixpack Juno yang putih bersih.


Dia mulai mencari pakaiannya di koper miliknya yang terenggak begitu saja di sudut kamar. Masih belum ia tata di almari. Dia terus mengenakan pakaiannya satu persatu di hadapan Amora dan seolah tak menyadari keberadaan Amora dengan rambutnya yang masih basah.


Amora masih berdiam diri di atas ranjangnya sambil memperhatikan Juno yang berganti pakaian di hadapannya. Amora heran, Juno sama sekali tidak malu melakukan apapun di hadapannya.


'Nih setan nggak ada malunya ganti baju depan aku. Apa dia nggak anggap aku ada disini? Kayak yang sering dia bilang aku itu domba. Ih, nyebelin!' batin Amora yang terus mengutuk Juno.


Selesai berpakaian dan berjas putih khas seragam dokter Juno terlihat semakin menawan. Sebenarnya Amora tidak bisa memunafikan bahwa Juno memang seorang lelaki yang rupawan, hanya saja karena Juno sering mengajaknya bertengkar itu membuat dia selalu kesal terhadap Juno dan tak pernah mau mengakui bahwa Juno tampan.


"Jas kamu nggak cocok sama kelakuan kamu," seru Amora yang masih di atas ranjang,kali ini ia duduk bersandar di kepala ranjangnya dengan lutut yang ia angkat dan tatapan datar pada Juno.


Juno yang mendengar pernyataan tiba-tiba Amora pun menatap Amora lekat-lekat, lalu ia tersenyum. Ia melangkah berlahan ke arah Amora yang masih duduk di ranjangnya dengan tatapan waspada. Dia terus mendekat perlahan hingga membuat Amora memundurkan tubuhnya seraya menarik selimut menutupi tumbuhnya hingga leher. Ia merasa takut karena kini wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak 5 cm saja. Bau segar parfum Juno bisa tercium dengan jelas oleh Amora.

__ADS_1


"Kalo mau bilang aku ganteng pakek seragam dokter bilang aja, nggak usah di tutupin. Banyak kok yang bilang gitu, bukan kamu saja. Jadi jangan malu buat ngakuinnya," ujar Juno seraya mengerlingkan matanya dan mengecup kening Amora cepat hingga Amora tidak bisa menghindarinya lagi. Setelah itu ia pun kabur meninggalkan Amora yang masih terbelalak tak percaya akan tindakan tiba-tiba Juno itu.


"Ih! JUNO!" teriak Amora kesal seraya mengelap keningnya bekas kecupan Juno. Juno hanya tertawa mendengar rutukan Amora padanya.


"Udah bangun. Udah pagi ini," kekeh Juno seraya mengambil tasnya dan mengalungkan stetoskop nya di leher dan ia pun keluar kamar sambil menenteng tasnya.


"Nyebelin! Pagi-pagi udah bikin kesel," rutuk Amora kesal.


Tiba-tiba Amora kembali mengingat kejadian saat di Swiss waktu itu. Jika di ingat-ingat sebenarnya ia tidak sepenuhnya menolak dengan apa yang Juno lakukan padanya, bahkan saat Juno melepaskan hasratnya pada Amora, Amora di saat bersamaan malah sama menikmatinya dengan Juno. Bahkan ada rasa penasaran Amora yang kadang sedikit menggelitik untuk melakukannya lagi.


Karena itu dia tidak merasa ketakutan atau pun jijik saat bersama Juno, selayaknya seseorang yang memang terpaksa melakukannya. Apa karena Juno seorang dokter, jadi dia sudah hapal bagaimana cara nya berhubungan dengan baik tanpa membuat trauma pada pasangannya.


Akan tetapi mustahil jika seorang tanpa perasaan bisa menikmatinya. Apa dia benar-benar membenci Juno? Tetapi kenapa saat Juno menikahinya dia juga sempat merasakan debaran jantungnya yang seolah juga menginginkan pernikahan ini.

__ADS_1


"Tidak! Ini pasti salah. Aku nggak cinta sama anak setan itu. Mana mungkin aku suka sama cowok gila kayak gitu. Ini pasti karena efek aku marahan sama Horner. Jadi karena itu aku jadi bingung sama perasaan aku sendiri saat ini." Amora mencoba menampik perasaan aneh itu untuk kesekian kalinya.


Dia mendekap wajahnya dengan lututnya yang ia angkat hingga setinggi dagunya. Tapi pikirannya malah terus mengingat sosok Juno. Dia menggeleng-geleng mencoba menghilangkan pikiran anehnya.


"Arrrggghhhh...." teriak Amora seraya menggelengkan kepalanya dengan keras. "Nggak ... nggak mungkin," gumam Amora terus mencoba meyakini dirinya sendiri.


Dari pada dia semakin aneh lebih baik sekarang dia mandi saja agar pikirannya yang kacau tidak semakin kacau lagi.


"Mending mandi terus beli handphone baru. Handphone aku kan udah nggak ada gara-gara di Swiss kemaren. Si kampret itu beli handphone mode pelit, handphone rongsokan," ujar Amora melirik handphone nya yang ada di atas meja.


Ia kembali bersemangat dan melupakan kejadian tadi. Ia pun segera bangkit dan melangkah ke kamar mandi dengan riang.


Ia melangkah dengan bersenandung kecil menuju ke kamar mandinya dan bersiap akan mandi lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2