Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Berkompromi dengan Keadaan


__ADS_3

Juno keluar kamar, dan melihat Sinta masih di sofa tadi. Dia pun menghampirinya dan duduk di samping Sinta.


"Aku mau tunangan, Jun. Mungkin lusa aku pulang ke kampung lagi. Jadi, kalo kamu urus nenek sendiri nggak apa-apa kan? Aku di sana mungkin sekitar seminggu atau lebih, tergantung acaranya juga, sih. Sebab pihak laki-laki mendesak mau tunangan dulu, katanya aku kan tugasnya masih di sini, jadi biar hubungan kami jelas dulu gitu," terang Sinta. Juno tersenyum, ada gurat sedih di wajahnya. Karena, itu artinya Sinta sebentar lagi akan pergi meninggalkannya mengikuti suaminya tugas dan mereka akan berpisah.


"Akhirnya kita pisah juga, ya. Aku bakal sendirian jagain nenek," tutur Juno sedih dengan seulas senyum yang ia paksakan.


"Jun, aku juga sedih. Sebab kita sama-sama udah dari kecil. Puluhan tahun kita biasa sama-sama terus. Aku ingat waktu kecil aku itu cumburuan sama kamu. Kamu nggak boleh Deket sama orang lain, pasti aku gangguin setiap ada yang deketin kamu," kekeh Sinta mengingat masa kecil mereka.


"Termasuk Amora. Makanya dia kesel sama aku. Dia bilang gara-gara kamu dia nggak bisa ketemu sama aku waktu kecil," tutur Juno seraya tertawa.


"Oh, iya. Amora aku usir terus waktu itu. Tiap sore dia datang, jadi sebelum kamu bisa nemuin dia, aku tungguin dia dulu di depan pagar buat usir dia, tapi ketahuan juga sama kamu akhirnya dan kamu marahin. Eh, tapi semenjak itu dia nggak datang-datang lagi, loh," ingat Sinta heran


"Dia udah ngambek. Makanya dia benci banget sama aku. Horner bilang bahkan itu kebawa sampe dia gede. Makanya dia nolak di jodohin sama aku, karena trauma sama kamu." Sontak membuat Sinta kaget dia membelalakkan matanya tidak percaya.


"Oh ya? Segitu berpengaruhnya yang aku lakuin waktu kecil sama hubungan kalian waktu udah nikah? Hmmm... Berarti dia benci kamu selama ini itu gara-gara aku? Ah, maaf ya, Jun. Aku mau lindungin kamu dari dia tapi ternyata biang masalah nya malah aku," ujar Sinta dan mereka berdua pun kembali terkekeh-kekeh berdua.


"Hah... Tapi sekarang kamu ninggalin aku. Nggak akan ada lagi yang lindungin aku di rumah sakit lagi. Asisten yang cekatan, dan rencana kita bukak praktek kayaknya juga nggak akan pernah terlaksana, ya," tutur Juno tertunduk sedih.


"Segitu dekatnya kita, Jun, selama ini." Tiba-tiba Sinta langsung menangis. Juno pun sontak kaget, ia memeluk Sinta. Sinta malah bertambah deras air matanya, ia akan berpisah dengan lelaki lembut yang sabar ini. Dia akan kehilangan sosok kakak laki-laki seperti Juno.

__ADS_1


"Aku janji, suatu saat aku akan kesana nanti buat berkunjung. Kamu tenang saja. Kita masih bisa ketemu, kan," tutur Juno seraya menyeka air mata Sinta. Gadis kecil yang selalu menguntit Juno kini sudah dewasa dan akan meninggalkannya. Terus terang ini pukulan berat bagi Juno, apalagi dengan keadaan dia yang sekarang. Saat dia memang butuh seseorang untuk bersandar, Sinta malah akan sibuk dengan pernikahannya.


Tanpa terasa waktu semakin larut, karena asyik mengobrol membuat mereka tidak ingat dengan waktu.


"Eh, udah malam ini. Tidur lagi, yuk," ajak Sinta dan di jawab anggukan oleh Juno. Mereka pun akhirnya pergi ke kamar masing-masing.


Di kamar Juno melihat Amora tampak sudah sangat terlelap. Dia mendekati Amora dan berbaring di sampingnya. Dia menatap wajah cantik itu. Sangat lugu saat tertidur. Juno meraba perut Amora yang masih datar itu.


"Sebentar lagi kita akan punya anak, kamu jangan suka galak-galak lagi ya. Kasihan anak kita kalo kamu galak gitu terus," tutur Juno seraya tersenyum dan sebelum ikut tidur ia pun mengecup kening istrinya itu. Pelan-pelan rasa kantuk mulai menyerangnya dan ia pun ikut tertidur.


***


Keesokan harinya, Dona dan Kevin datang menemui nenek Juno untuk menyelesaikan permasalahannya. Juno datang menyambut kedatangan ayah dan ibu mertuanya itu beserta Amora juga. Dona tampak tidak terlalu suka datang ke sini. Dia merasa tidak bersalah, dia merasa hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Lalu kenapa dia di salahkan.


"Udah mendingan, Pah. Mari Pah, Mah, aku antar ke kamar nenek," ucap Juno. Mereka pun segera menuju kamar nenek Juno.


Di kamar tampak nenek Juno tengah duduk bersandar di ranjangnya. Dia masih terlihat tidak menyukai kedatangan Kevin dan Dona. Dona pun masih terlihat setengah hati untuk datang meminta maaf. Mereka sekarang duduk di pinggiran ranjang nenek Juno, sedangkan Juno dan Amora duduk di seberangnya lagi.


"Bagaimana kabarnya, buk?" sapa Kevin lembut setelah mereka semua sama-sama duduk di kamar tersebut.

__ADS_1


"Baik," jawab nenek Widya singkat dan datar, dia masih tampak marah pasca kejadian kemarin.


"Saya dengar katanya ibuk sakit, makanya kita datang sekalian Dona juga mau minta maaf atas ke jadian kemarin, buk," terang Kevin perihal kedatangannya.


"Iya, buk. Saya minta maaf buat yang kemarin. Saya habis minum wine, jadi omongannya agak ngelantur. Saya harap ibuk tidak ambil hati dengan ucapan saya kemarin," tutur Dona seraya melirik ke arah suaminya.


"Aku sakit hati kalau cucuku di perlakukan semena-mena begitu, Kev. Aku titipkan cucuku sama kamu itu karena aku percaya dengan keluarga kalian. Tapi, yang aku dengar, buat makan saja dia sungkan di rumah kamu. Kalau kalian tidak menyukainya, aku tidak keberatan kalau memang kalian mau cari menantu yang lebih dari cucuku," tutur nenek yang masih tampak emosional.


"Nek, aku selalu makan dengan baik kok di rumah. Siapa bilang aku nggak di tawarin makan. Cuman kadang aku nggak sempat aja, Nek," ucap Juno menengahi.


"Kamu jangan menutupinya lagi, Jun. Jangan kamu tutupin semua dari nenek. Nenek tau semua bagaimana buruknya ibu mertuamu ini selama ini sama kamu." Nenek Widya tampak tidak bisa menahan amarahnya.


Kevin dan Dona hanya bisa terdiam. Juno semakin tidak enak hati dengan ayah mertuanya, karena bagaimana pun dia selalu di perlakukan dengan baik oleh ayah mertuanya itu.


"Nggak, nek. Yang nenek dengar itu salah. Yang tau bagaimana aku di sana itu cuman aku. Papa sama Mama sangat baik sama aku selama ini. Mereka udah kayak Papa mama aku juga selama ini, nek. Yang kemaren itu cuman salah paham, aja," terang Juno lagi berusaha meluruskan semua.


"Iya, buk. Kita sangat sayang dengan Juno selama ini. Apalagi Amora, dia sangat menyayangi Juno. Demi Juno bahkan dia rela belajar masak, beres-beres, dan semua keperluan Juno dia sendiri yang siapkan. Kami semua sangat menyayangi Juno, Buk. Yang kemarin itu murni karena Dona sedang agak teler saja," terang Kevin lagi. Nenek menatap Juno dan Amora, mereka berdua memang tampak saling menyayangi. Dia tidak mungkin memisahkan mereka berdua, apalagi Amora juga tengah mengandung anak Juno. Mungkin jika dia persulit ini lagi maka akan berdampak pada kehamilan Amora yang mana itu juga merupakan calon cicitnya kelak.


"Baik, kali ini aku beri kalian kesempatan. Aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan ku, Kevin. Aku tidak mau jika cucuku di perlakukan begitu lagi," tutur nenek Juno melunak.

__ADS_1


Semua pun tersenyum lega. Akhirnya permasalahan ini bisa mereka selesaikan dengan baik.


BERSAMBUNG...


__ADS_2