
Hari itu nenek Juno bersiap akan mengunjungi Juno ke kediaman Amora. Tampak ia tengah menunggu taksi. Tidak lama taksi yang di tunggu pun datang, beliau segera pergi bersama bik Darsih. Setelah masuk taksi, taksi tersebutpun segera membawa mereka ketempat tujuan. Di dalam mobil nenek mengobrol bersama Darsih.
"Sudah 1,5 tahun mereka menikah, aku tidak pernah datang berkunjung. Rasanya agak kurang sopan ya Darsih? Tapi kita datang juga tidak kasih kabar dulu. Apa nanti ini tidak malah membuat mereka repot dengan kedatangan kita?" ujar nenek.
"Ndak papa lah, ndoro. Kan kita datang berkunjungnya juga sebentar, sekedar bersilaturahmi saja," jawab Darsih. Nenek pun tersenyum tenang.
Tidak lama mobil tersebutpun sampai di rumah besar itu, mereka di sambut oleh satpam yang segera membukakan pintu gerbang. Saat masuk butuh beberapa lama lagi untuk sampai ke pintu utama. Saat sampai mereka di sambut oleh Ros kepala pelayan, dia datang dan langsung membukakan nenek pintu mobilnya dan membimbing beliau.
"Kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau datang nyonya? Semua orang sedang tidak ada di rumah. Nyonya besar dan tuan sedang ada acara, nona muda dan tuan muda sedang pergi keluar juga," terang Ros agak tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, saya tidak lama, hanya ingin melihat keadaan mereka saja. Jangan repot-repot," tutur nenek seraya duduk di sofa empuk super mewah itu dengan Ros yang terus mendampingi dengan sopan.
"Tetap saja kalau begini kan nyonya jadi kesannya tidak ada yang sambut. Nanti saya hubungi nyonya dan tuan muda dulu ya, nyonya," ucap Ros yang langsung pergi meninggalkan nenek dengan sopan. Nenek mengangguk dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya . Rumah besar ini tampak rapih, sangat indah dan sangat mewah.
"Rumah yang besar dan terawat ya, Sih. Nggak kayak rumah kita, kalo kata Amora menyeramkan," kekeh nenek Juno anggun.
"Iya, ndoro. Bahkan anak-anak sampe bilang tuan Juno itu vampir karena ganteng tapi tinggal di rumah besar yang sepi," kekeh Darsih bersama nenek.
__ADS_1
"Rumah itu terlalu besar untuk kita, tapi juga penuh kenangan. Ya, mau bagaimana lagi," ungkap nenek lagi. "Itu juga warisan Juno, mana mungkin aku jual Darsih. Semua milik orang tuanya harus aku simpan untuk dia kelak, agar dia tidak kekurangan apapun saat aku sudah tidak ada. Agar dia tidak ke susahan dan tidak menyusahkan orang lain," ungkap nenek lagi.
Tidak lama datang pelayan yang datang membawakan mereka cemilan dan minuman. Nenek pun segera meminum teh nya, karena beliau juga sudah merasa haus sedari tadi.
"Hai, tunggu dulu. Bisa ngobrol sebentar?" tanya nenek pada salah seorang pelayan. Si pelayan pengantar makanan tadi pun segera menghampiri nenek lagi.
"Iya, nyonya, saya," tuturnya sungkan. Nenek pun mengangguk.
"Duduk lah, aku mau bertanya," tutur nenek lagi seraya menepuk tempat di sampingnya. Si pelayan dengan ragu pun duduk di sana. Dia bersedia duduk setelah di paksa oleh nenek.
"Bagaimana Juno di sini? Apa semua orang baik padanya?" tanya nenek penasaran. "Dia itu cucuku satu-satunya, jadi aku harus tau bagaimana cucuku di perlakukan. Bisa kau ceritakan? Aku janji tidak akan mengatakan apapun," ucap nenek meyakinkan.
"Kenapa? Ceritakan saja," ucap nenek menjadi penasaran.
"Nyonya besar ... Sepertinya agak tidak suka dengan tuan muda, nyonya. Beliau tidak pernah menyapa tuan muda, dan ... Tuan muda seperti agak takut dengan nyonya, pernah sekali dulu tuan muda pulang malam dan mau makan malam, eh nyonya besar ke dapur menghampiri kami bilang tidak boleh menyajikan makanan. Akhirnya tuan muda mintak di buatkan telor ceplok pakai kecap untuk makan. Setelah itu ... Kalau di rumah tidak ada tuan besar atau nona muda telat bangun, tuan muda tidak pernah sarapan. Karena nyonya besar akan pergi kalau tuan muda datang sarapan bersamanya." Seketika pernyataan pelayan itu membuat nenek tersentak. Dia langsung berubah expresinya menjadi sangat gusar. Begitu pula Darsih, dia tidak kalah khawatirnya, dia takut ini akan membuat majikannya drop lagi.
"Ndoro!" Gumamnya khawatir. Tapi nenek tampak berusaha keras menyembunyikan gejolak batinnya dengan sikap anggun dan tenang.
"Terus apa lagi, apa tuan besar juga begitu?" tanya nenek masih penasaran.
__ADS_1
"Kalau tuan besar tidak nyonya. Dia sangat baik, bahkan dia selalu membela tuan muda. Pernah suatu malam tuan besar marah sekali waktu nona muda tidak mau membukakan pintu kamarnya untuk tuan muda. Dia memarahi semua orang dan mengancam nyonya besar dan nona muda jika berani mengulanginya lagi. Tuan besar sangat baik nyonya," lapor si pelayan. Nenek sedikit lega, setidaknya ada yang masih dengan tulus menerima cucunya di rumah ini.
"Nona muda sekarang sudah tidak galak lagi sama tuan muda, nyonya. Kalau dulu sering kali kita harus membereskan kamar mereka yang berantakan karena nona muda mengamuk kepada tuan muda. Tapi ... Sekarang nona muda sudah baik. Bahkan dia melarang kami mengurus tuan muda karena dia sendiri yang akan mengurus tuan muda. Tapi ... Nyonya besar sampai sekarang tampaknya masih tidak menyukai tuan muda, nyonya," lapor si pelayan. Setelah merasa cukup dengan informasinya. Nenek pun memberi izin si pelayan untuk pergi.
"Ya, sudah. Terimakasih, ya. Kamu bisa kembali bekerja," tutur nenek seraya menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu diam-diam ke tangan si pelayan tepat saat Ros tampak datang akan menghampiri mereka.
"Maaf, nyonya. Saya lama. Tadi katanya tuan Juno dan nona Amora dalam perjalanan pulang. Nyonya juga akan pulang," ungkap Ros.
"Tidak apa-apa. Jangan buat semua repot dengan kedatangan kami. Saya hanya ingin melihat cucuku saja, sudah beberapa hari ini dia tidak datang, saya khawatir dia sakit atau terjadi sesuatu padanya. Mak maklum, dia cucu saya satu-satunya. Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain dia," ungkap nenek yang kembali tampak tenang saat Ros datang.
Nenek tidak ingin apa yang dia ketahui tadi di ketahui oleh Ros. Dia tidak ingin terkesan ingin ikut campur, bagaimana pun dia hanya ingin yang terbaik untuk Juno.
"Bagaimana Juno di sini? Apa dia merepotkan?" tanya nenek.
"Oh, tidak, nyonya. Dia sangat baik dan sopan. Semua orang di sini pun menyukainya. Hanya saja mungkin tuan Juno jarang di rumah, hanya Sabtu dan Minggu saja dia sering di rumah." terang Ros sopan dan ramah.
"Syukur lah kalau begitu, aku sering khawatir kalau Juno tidak bisa beradaptasi dengan baik di sini." Nenek tersenyum ramah dan hangat.
Ros dan nenek terus mengobrol sementara menunggu yang lainnya pulang.
__ADS_1
BERSAMBUNG...