
Juno menatap Sinta dengan diam. Dia agak tak menyukai drama ini. Tapi dia juga tidak tau harus berbuat apa. Sinta yang melihat Juno pergi tanpa sepatah kata hanya bisa ikut terdiam. Dia hanya berusaha mengungkapkan apa yang selama ini ia tahan dalam hatinya.
Mungkin ini sangat mengagetkan Juno juga. Ia pun mencoba untuk memahaminya, apalagi saat ini status Juno adalah suami dari Amora. Mungkin saja yang ia lakukan saat ini akan membuat Juno bermasalah nantinya.
***
Di sisi lain. Amora terus melaju mobilnya ke kediaman nenek Juno. Dia tau Juno pasti tidak akan pulang hari ini. Apalagi saat ini ayahnya sudah tidak ada di rumah lagi. Pasti Juno akan kerumah neneknya untuk menghindarinya lagi. Amora pun memutuskan akan menunggu Juno di kediaman nenek Widya.
Dia segera mencari nenek Widya. Dan saat melihat keberadaan nenek, Amora langsung berlari ke pelukan sang nenek. Membuat si nenek kaget. Karena tiba-tiba Amora datang dan memeluknya dalam keadaan menangis. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Sang nenek yang tengah duduk di kursi goyangnya itu.
"Ada apa Amora?" tanya nenek kaget.
Amora hanya menggeleng, dia ingin menceritakan semua, tapi dia takut semua akan berantakan nanti jika ia ceritakan. Amora akhirnya memilih untuk menyimpannya saja dulu. Dia menahan aduan yang sudah di ujung lidahnya itu.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa nangis?" tanya Sang nenek lagi.
"Aku kesel, nek. Juno jarang pulang, tadi aku telpon nggak diangkat," tutur Amora mengalihkan pada cerita lain. Mendengar aduan Amora nenek pun terkekeh.
"Aku nggak bisa tidur kalo nggak ada Juno yang peluk, nek. Lihat mata aku udah bengkak gara-gara nggak bisa tidur. Suruh Juno tidur di rumah aja, ya nek. Jangan pulang malam-malam lagi," rengek Amora manja.
"Hahaha... Iya sayang, nanti nenek suruh Juno pulang sore, ya. Biar cucu mantu nenek bisa tidur dan matanya nggak mata panda lagi," ujar si nenek penuh kasih sayang. Amora tersenyum mendengarnya. Ia pun memeluk sang nenek dengan erat.
'Aku sedang takut kehilangan cucumu, nek. Aku tidak mau Juno berpaling pada Sinta. Bagaimana cara aku mengatakannya tanpa membuatmu membenci Sinta dan marah pada Juno? Bagaimana caranya aku mengatakan jika Sinta tengah mencoba merebut Juno dari ku, nek. Ah, sakit sekali rasanya mengalah dan menahan perasaan seperti ini,' batin Amora seraya menitikkan air matanya.
"Ya sudah, kamu tunggu Juno di kamar saja, ya. Sebentar lagi dia pasti pulang sama Sinta," ujar sang nenek lagi. Amora mengangguk dan berjalan ke kamar Juno di lantai atas.
***
__ADS_1
Sorenya Sinta sampai rumah terlebih dahulu tanpa Juno. Dia langsung salim pada nenek Widya saat nenek datang menyambutnya.
"Loh, Juno mana? Bukannya kalian biasanya pulang bersama? Apa dia pulang ke tempat Amora?" tanya nenek. Sinta tersenyum kecut.
"Nggak tau, nek. Mungkin iya dia pulang kerumah Amora. Nek, aku ke kamar dulu, ya," ucap Sinta lalu langsung pergi ke kamarnya. Nenek merasa ada yang aneh dari Sinta. Dia tampak menyimpan sesuatu.
Tidak lama terdengar mobil Juno yang baru masuk halaman rumah. Nenek pun segera keluar melihatnya. Benar saja, itu adalah Juno yang baru datang. Beliau pun menunggu kedatangan Juno di depan pintu.
"Nek!" seru Juno menyambut neneknya. Neneknya tersenyum menyambut cucunya itu.
"Amora ada di kamar, tadi dia datang terus nangis. Dia bilang kamu jarang pulang dan sering ninggalin dia. Bujuk istrimu di kamar cepet, sana" perintah neneknya. Juno hanya bisa mendengus kesal mendengarnya.
"Sinta udah pulang belum, nek?" tanya Juno.
"Sudah, dia pakai taksi kayaknya tadi. Kalian bertiga itu kenapa? Yang satu nangis, yang satu merenggut baru pulang, dan kamu kelihatannya juga kusut," ujar nenek membuat Juno tersenyum kecut.
"Ya sudah, temui Amora sana," ujar neneknya sekali lagi. Juno pun segera menuju kamarnya.
***
Di kamar dia melihat Amora yang tengah berbaring seraya memainkan ponselnya. Dia bangkit saat melihat kedatangan Juno.
"Juno!" seru nya saat melihat kedatangan Juno. Juno masih bersikap dingin, dia mengacuhkan Amora seolah Amora tidak ada di kamar itu. Dia langsung meletakkan tasnya dan langsung menuju kamar mandi. Amora hanya bisa tertunduk lesu melihat reaksi Juno padanya.
Dia duduk di pinggir ranjang sambil menunggu Juno keluar dari kamar mandi. Tidak lama, Juno pun keluar dari kamar mandi. Dia segera menghampirinya.
"Juno! Aku minta maaf, aku nggak mau kamu sama Sinta, Juno. Juno aku nggak akan nemuin Horner lagi. Tapi, kamu jangan sama Sinta Juno. Aku janji akan berubah. Aku akan nurut sama kamu. Aku nggak akan ngelawan lagi," bujuk Amora sambil menangis seraya terus mengikuti langkah Juno mengganti pakaiannya di hadapan Amora. Sedangkan Juno terus tampak cuek dan sibuk dengan kegiatannya.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian Juno pun bersiap akan keluar. Tapi segera di hentikan oleh Amora. Amora memeluknya agar tidak keluar.
"Juno dengerin aku dulu, jangan keluar dulu, Jun. Aku mohon jangan temuin Sinta," pinta Amora. Juno hanya diam bergeming. Menatap Amora dengan tatapan dingin.
"Aku lapar belum makan tadi siang," ujar Juno cuek seraya menyingkirkan Amora.
Amora pun beringsut karena dorongan Juno. Dia terdiam dengan perasaan sedih karena tidak berhasil membujuk Juno.
"Kenapa? Kau juga mencintai Sinta? Kalian sudah saling jatuh cinta juga?" ucap Amora berkaca-kaca. "YA SUDAH, CERAIKAN SAJA AKU DAN NIKAHI SINTA SAJA SANA!" teriak Amora histeris sambil menangis membuat nenek yang menguping pembicaraan dari pintu kamar mereka yang sedikit terbuka pun kaget.
Amora tidak tahan dan berniat keluar, alangkah kagetnya dia saat mendapati nenek tengah berdiri tegap di hadapannya. Dia menatap pada Juno dan Amora. Amora yang masih tampak emosional hanya menatap nenek Juno sesaat lalu ia pun pergi.
Saat ia keluar ia melihat Sinta yang tengah menatap kepergiannya di depan pintu kamar. Dia masih tampak bingung dengan apa yang terjadi.
Sedangkan nenek masih menatap Juno yang kini tertunduk.
Tatapan nenek terlihat sangat geram pada Juno yang semakin tertunduk. Jelas dia tidak ingin ini terjadi, karena bagaimana pun ini sangat janggal dan membuatnya risih. Sinta dan Juno sudah dianggapnya seperti kakak adik.
"Jadi karena ini kalian bertiga tampak tidak baik-baik saja? Kau berselingkuh dengan Sinta, Juno? Sudah kau apakan Sinta hingga Amora bisa menangis begitu? Sejak kapan kau dan Sinta menjalin hubungan, JUNO?" teriak nenek histeris.
"Ng-nggak, nek. Nenek cuman salah paham. Juno nggak ngapa-ngapain sama Sinta. Kita cuman temenan, nek. Percayalah, nek. Ini cuman salah paham," bujuk Juno pada neneknya.
Juno sekarang bingung, hendak mengejar Amora atau menjelaskan permasalahan ini pada neneknya dulu. Tapi jika dia kejar Amora bagaimana dengan neneknya nanti dia akan terus salah paham. Juno pun akhirnya memilih untuk memilih untuk menjelaskan permasalahan ini pada neneknya.
"Ya udah ya, nek. Aku jelasin sama nenek dulu. Ini nggak bener, aku sama Sinta nggak ada hubungan apapun, kok," ungkap Juno meyakinkan. Tepat saat Sinta yang baru keluar kamar juga menyaksikan pertengkaran Amora dan Juno tadi. Juno jadi bertambah bingung saat neneknya menatap tajam ke arah Sinta seolah tidak percaya.
"Ya udah, nek. Yuk kita ngomong bertiga dulu," ajak Juno seraya membimbing neneknya pada sebuah sofa dan meng-kode Sinta agar juga ikut dengannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...