
Hari itu sahabat Dona mengadakan pesta kecil-kecilan bersama para sahabat sosialitanya. Tentu saja di sebuah restoran ternama dan termahal. Mereka tampak asyik mengobrol dengan hidangan seafood yang menggugah selera. Mereka sibuk bercanda ria dengan di selingi tawa khas mereka.
"Eh, tau nggak kemarin Merry dapat Lambo loh dari Raka. Biasa anak berbakti hadiah ulang tahun katanya," goda Santi pada sahabatnya itu membuat Merry salah satu sahabat Dona itu menjadi tersipu malu.
"Merry mulai, deh julidnya," sergah Santi.
"Kan emang bener," tutur Merry yang di sambut kekeh yang lain.
"Aku suami di beliin mantu motor Harley, kan waktu itu dia mintak beliin, ya aku tolak lah, baru beli mobil minta Harley lagi katanya mau ikut touring. Udah tua kali... Eh sama mantu besoknya di beliin," tutur yang lain. Itu membuat Dona sedikit miris. Karena dia merasa tidak ada yang bisa ia banggakan dari menantunya Juno.
"Hah... Kalian kayaknya enak ya. Anak kaya raya, menantu kaya raya, bisa di beliin ini, di beliin itu. Nah aku, dia kerja sampe lembur 2 hari tapi penghasilannya paling banyak juga belasan juta. Mana sanggup dia kasih kita ini itu yang ada kita yang tutupin kekurangannya," tutur Dona seraya menyuapkan udang ke mulutnya dengan expresi kesal.
"Lah, bukannya itu menantumu dari keluarga Wiryawan? Mantan konglomerat itu, walau dia udah nggak ada kan asetnya mereka banyak," timpal Merry merasa heran.
"Banyak apanya, kuliah dia saja sering di bantu suamiku buat tambahan. Aku bingung sama Kevin, ada Horner yang jelas-jelas pengusaha sukses yang suka anaknya malah dia paksa nikah dengan anaknya Hanna yang masih bau kencur. Yang ada setelah nikah ribut mulu mereka berdua, kadang yang laki kemana yang perempuan kemana. Yang kasihan itu Amora yang terus di paksa Kevin terus," keluh Dona yang terlihat sangat kesal.
"Ih, jangan gitu, Don. Mereka itu sudah nikah. Ya, lagian kan kerjaan dia kan juga bagus, banyak atau sedikit yang penting dia tanggung jawab loh. Aku malah lebih setuju dengan suaminya Amora dari pada Horner. Ketuaan buatku Amora dengan Horner, apalagi dia ada anak. Mending suaminya yang jelas bujangan belum ada beban hidup terus ganteng lagi," timpal Regina sahabatnya.
"Hmmm... Gaji sebulan cuman sekian juta. Tapi lagaknya kayak yang paling sibuk," keluh Dona lagi.
__ADS_1
"Kamu ini kesal karna dia yang penghasilannya kecil atau karena dia anaknya Hanna, sih? Seingatku, kalian pernah ribut kan dulu? Terus sering perang dingin juga. Ayo ngaku?" seloroh yang lain dan mereka pun terkekeh-kekeh sedangkan Donna hanya diam tak menjawab.
***
Juno akhirnya pulang juga, setelah 2 hari dia menginap di rumah sakit. Saat baru sampai dia di sambut oleh pelayan yang membukakan pintu untuknya. Juno berjalan seraya memijit tengkuknya yang pegal. Ia melepaskan kacamata dan menyeret lemah langkahnya menuju anak tangga. Ingin rasanya ia segera sampai kamar dan segera berbaring.
Seluruh badannya terasa pegal semua. Dia sangat butuh istirahat sekarang. Saat belum sempat ia ketuk pintu kamar, tiba-tiba Amora sudah membuka nya dengan expresi wajah datar. Juno menatapnya sekilas lalu melewatinya karena rasa lelah yang sangat amat tengah mendera Juno. Juno bersikap tidak peduli, dia langsung masuk dan merebahkan dirinya di ranjang, Amora masih menatap Juno tajam seraya bergelut dada.
"Betah ya di rumah sakit. Ada yang ngelonin, 2 hari nggak pulang dan nggak kasih kabar. Aku pikir kamu udah mati di sana," sungut Amora tajam. Juno tertawa lemah mendengar omelan Amora yang terdengar lucu di telinganya. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Amora dalam posisi masih tertidur terlentang.
"Badan aku rasanya mau remuk semua. Dokter di rumah sakit itu lagi keluar semua, cuman aku yang ada sama beberapa dokter muda yang belum berpengalaman. Jadi mereka nggak bisa terlalu diandalkan, takutnya kalo aku tinggal ada yang salah dalam nanganin pasien, bisa-bisa rumah sakit yang di tuntut. Makanya aku mungkin dalam sebulan ini akan sering lembur. Kamu sebagai istri dokter yang sabar, ya," ujar Juno lagi dengan senyum usilnya menyeringai membuat Amora sinis menanggapinya.
"Aku nggak nungguin kamu karena kangen, tapi bisa ngga kamu itu kalo nggak pulang kasih kabar, bukan kayak setan yang datang sama perginya nggak tahu kapan gini," rutuk amora. Dia masih terus tampak kesal. "Papa lagi ada di rumah, seharian dia nanyain kamu udah pulang apa nggak, kapan kamu pulang? Kok belum pulang? aku nggak tahan dengar dia nanyain kamu terus tiap menit," tutur Amora membuat Juno segera bangkit dan seketika semangatnya bangkit.
"Papa udah balik? Kapan?" tanya Juno semangat.
"Kemaren malam, makanya dia nyariin kamu terus. Udah sana kamu mandi dulu, kita makan malam malam ini. Jangan sampe dia ngomelin aku lagi kalo kamu telat," ujar Amora. Juno pun segera ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
__ADS_1
Dia selalu senang saat ayah Amora ada di rumah, dia merasa ayah Amora sudah seperti ayahnya sendiri sangking dekatnya dia dengan ayah mertuanya itu.
***
Setelah rapi dan wangi Juno pun turun menemui ayah mertuanya itu ruang keluarga lantai ata. Ayah mertuanya menyambut Juno dengan tak kalah antusiasnya, ia merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Juno dan memeluk erat menantu kesayangannya.
"Eh, menantu kesayangan papah sudah pulang? Papa cariin kamu dari kemaren, katanya kamu lembur," ujar ayah mertuanya itu memperlakukan Juno layaknya putranya sendiri.
"Iya, Pah. Soalnya di rumah sakit dokter senior lagi kosong, makanya aku nggak bisa ninggalin rumah sakit, dan gantian sama beberapa dokter buat stay di rumah sakit. Mungkin sebulan ini aku bakal sibuk terus di rumah sakit, Pah," tutur Juno.
"Yah, padahal Papah pengen punya cucu cepat, tapi kamu malah sibuk lembur gini. Gimana ini," ujar ayah mertuanya seraya tertawa.
Juno pun ikut tertawa, mereka mengobrol akrab hingga waktu makan malam tiba, bahkan obrolan mereka masih berlanjut hingga ke meja makan.
Amora dan ibunya hanya diam menyaksikan keakraban mertua dan menantu ini. Mereka mengobrol seolah tidak pernah kehabisan bahan, gelak tawa mereka terdengar sangat renyah. Ini membuat Juno merasa memiliki ayah lagi, ini lah alasan Juno setuju menikahi Amora, karena dia sangat menyayangi ayah Amora yang telah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1