Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Salam Perpisahan Yang Menyebalkan


__ADS_3

Hari itu Juno dan Amora berencana akan pergi ke pernikahan Horner dan Rasti. Mereka melakukan persiapan sebelum berangkat.


"Kurang waras apalagi aku coba. Istri selingkuh malah di temenin buat ngucapin salam perpisahan sama selingkuhannya," ujar Juno santai sambil terus berkemas-kemas dengan memasukkan beberapa barang ke dalam tas ranselnya yang akan ia bawa nanti dengan agak kasar. Amora yang juga tengah beberes pun terkekeh mendengar pernyataan suaminya itu.


"Hah, uji nyali banget, ya?" sambung Amora seraya menghampiri Juno yang kini tengah duduk di pinggir ranjang mereka dengan tawa puasnya karena berhasil memaksa suaminya menemaninya pergi.


"Uji kekuatan jantung aku," balas Juno seraya melepaskan kaca matanya dan menekan pelipisnya seolah tengah pusing dengan tingkah istrinya seraya menghempaskan tubuhnya ke ranjang.


Amora tertawa dan langsung memeluk suaminya itu dan menciumnya bertubi-tubi karena sangking gemasnya dia dengan tingkah Juno. Juno hanya memanyunkan bibirnya seolah ngambekan ia bangkit dan kembali terus dengan kegiatan berberes-beresnya.


"Ih, jelek banget sih kalo lagi ngambek," goda Amora.


Juno hanya meliriknya sekilas. Karena tidak tahan melihat expresi Juno yang bagi Amora sangat menggemaskan itu. Dia mencium pipi Juno bertubi-tubi kembali hingga Juno tidak bisa berbuat apa-apa. Karena terus disudutkan dengan kejahilan Amora Juno pun segera menjatuhkan Amora ke ranjang. Membuat Amora terpekik kaget. Dia tepat jatuh menimpa tubuh Juno.


"Juno!" teriak Amora seraya tertawa bersama Juno.


***


Selesai berberes-beres mereka pun menemui ibu dan ayah Amora yang tengah berada di ruang keluarga, mereka tampak tengah mengobrol berdua.


"Pah aku mau pergi bareng Juno. Kita mau ke Bali buat bulan madu," terang Amora yang tidak berani mengatakan tujuan sebenarnya.


"Eh, kok mendadak?" tanya ibunya kaget.

__ADS_1


"Ya, kan kebetulan Juno juga nggak tugas beberapa hari ini. Jadi mungkin kita pergi sekitar 3 harian aja, kok, Mah. Dah itu kita balik. Lagian udah lama kita nggak liburan juga, kan," Terang Amora seraya melirik Juno yang sedari tadi hanya diam.


"Ya sudah. Hati-hati saja di jalan," ucap Kevin santai seraya menikmati kopinya. Dona langsung menatap suaminya tajam karena mengizinkannya begitu saja.


"Biarin ajalah, Mah. Toh, Amora pergi kan sama suaminya. Lagian Juno lebih berhak atas Amora. Mau di bawa kemana juga terserah mereka berdua, kan mereka sudah nikah," jawab Kevin yang kini kembali sibuk dengan korannya.


Amora dan Juno hanya tersenyum mendengarnya. Dona tampak kurang setuju. Tapi mau di katakan apalagi jika Kevin sudah bersuara Dona tidak akan berani membantah lagi.


Sebelum pergi mereka bersalaman pada Kevin dan Dona. Mereka diantara oleh supir untuk ke bandara.


Sesampainya bandara mereka segera memesan tiket dan menunggu waktu keberangkatan mereka yang ternyata masih 2 jam lagi. Kepergian mereka ini memang tidak terencana. Karena Juno sempat menolak hingga dengan kekuatan rayuan Amora akhirnya Juno setuju tapi dengan syarat hanya bisa hari ini, dan hanya 2 hari.


Dari pada bosan menunggu lama, mereka pun memutuskan untuk ke kafe terdekat sambil menikmati jus dan nasi goreng seafood di sana.


"Apa Sinta udah kasih kabar?" tanya Amora pada Juno di sela makan siang mereka.


"Kamu mau ngapain pengen banget ke nikahan Horner? Mau ngapain, coba?" tanya Juno.


"Nggak, cuman mau berdamai dengan keadaan aja,"


"Dan ... Mau ngasih tau kamu dan mereka kalau ini semua benar-benar sudah berakhir," tutur Amora. Juno hanya menatap Amora dengan tatapan datar tak paham.


"Udah lah, anggap aja aku gila. Gitu singkatnya." Juno tersenyum seraya geleng-geleng kepala mendengar pernyataan Amora.

__ADS_1


***


Setelah menunggu akhirnya sampai lah waktu keberangkatan mereka. Kali ini mereka duduk di bangku yang sama dengan damai, tidak seperti saat bulan madu mereka dulu. Malah Juno yang terkesan cuek dan banyak diam, sedangkan Amora sedari tadi terus-menerus memeluk Juno dengan Juno yang tampak acuh dan lelah karena masih kesal di paksa menemani Amora menemui Horner.


"Aku itu udah Deket sama keluarganya dia, masak di undang aku nggak dateng," tutur Amora mencoba memberi pengertian.


"Dulu aku sempat di bawa Horner ke keluarganya juga," terang Amora. "Kita itu udah deket bukan dari aku sama raya aja, tapi juga keluarga. Mama juga sering ketemu Horner. Cuman papa aja yang nggak suka. Jadi aku nggak enak kalo pergi kayak gini. Mereka kan mau pindah dan menetap di sini juga. Pasti kita nggak akan ketemu lagi nantinya. Apa salahnya aku ngucapin selamat juga buat pernikahan dia buat terakhir kalinya. Toh, juga sama kamu, kan. Nggak akan macam-macam aku di sana. Percaya, deh," terang Amora panjang lebar.


"OOO... Sempat jadi calon menantu ternyata?" tutur Juno semakin sinis. Kali ini Amora kehabisan kesabaran menghadapi Juno yang terus ngambek-an.


"Ah, auk, ah ....," kesal Amora akhirnya. Lebih baik dia tidur dari pada terus menghadapi Juno yang tidak mau di bujuk dari tadi.


***


Akhirnya mereka berdua pun sibuk dengan mimpi masing-masing hingga pesawat sampai ke kota tujuan. Suasana ramai bandara menyambut mereka. Juno walau dia kesal dan setengah hati menemani Amora, dia tetap menjaga istrinya itu dengan baik. Dia menggandeng tangan Amora tanpa melepasnya sedari tadi hingga mereka menemukan taxi untuk menuju hotel mereka. Juno meminta Amora untuk mencari hotel yang tidak terlalu dekat dengan tempat acara dengan alasan agar mereka tidak terlalu sering bertemu keluarga Horner nantinya saat di sana. Amora pun mengikutinya karena dia tidak mau Juno ngambekan lagi.


"Udah, donk. Ini udah lumayan jauh dari tempat acaranya" bujuk Amora.


Juno masih tidak banyak bicara. Dia benar-benar tidak ingin datang, baginya ini konyol. Mengucapkan selamat tinggal pada mantan saja musti harus sampai datang ke acara pernikahannya dan membawa kado spesial segala. Dia merasa cemburu pada perlakuan Amora yang seolah masih tak ingin melepaskan Horner di matanya.


Amora menatap Juno yang terus sibuk dengan handphonenya untuk menghindarinya sedari tadi. Dia tau mungkin ini sedikit berlebihan, tapi dia sebenarnya juga ingin sekalian berlibur seperti bulan madu kedua bersama Juno juga sekalian di sini. Tapi, sesampainya di sini dia malah di sibukkan dengan ambekan Juno yang sedari keberangkatan mereka tadi.


Dia terus mengusap lembut paha Juno dengan tatapan yang tak lepas dari lelaki tampan itu yang masih saja buang muka darinya.

__ADS_1


"Kita habis ini kan bisa sekalian jalan-jalan. Udah donk ngambeknya. Kamu nggak capek apa kayak gini terus dari tadi? Anggap aja tujuan kita bukan ke pernikahan itu tapi buat liburan kita aja," bisik Amora kali ini ke telinga Juno langsung dengan gaya menggodanya. Tapi tetap tidak ada reaksi dari Juno.


BERSAMBUNG...


__ADS_2