
Sesaat mereka sampai di rumah sakit. Para staf rumah sakit segera menyambut kedatangan mereka dan dengan sigap melakukan pertolongan pertama pada luka Juno. Amora dan lelaki yang mengantarnya tadi diminta untuk menunggu di luar ruangan perawatan.
Amora menunggu dengan perasaan berdebar dan gelisah di luar ruang tunggu. Pakaiannya penuh dengan bercak darah Juno. Dia berkali-kali mengintip dari kaca melihat Juno yang tengah di tangani oleh beberapa suster dan dokter yang sibuk di ruang tersebut. Dia terus berjalan hilir mudik dengan perasaan tidak tenang.
"Sudah, nggak apa-apa, mbak. Suami mbak pasti sembuh. Mbak yang tenang, ya," ujar si pria mencoba menenangkan Amora dan mengajak Amora duduk di sebuah kursi di salah satu sudut lorong rumah sakit tersebut.
Amora mencoba untuk tenang, dia menarik nafas gelisah. Sekarang apa yang harus dia lakukan tanpa Juno. Bagaimana jika Juno meninggal, apa yang harus dia sampaikan kepada ayah dan ibunya apalagi kepada nenek Juno. Beliau pasti shock dan marah, mungkin juga akan mengutuk Amora. Ah, kenapa baru sekarang ia berpikir jernih. Selama ini dia selalu berniat membunuh lelaki itu tapi itu hanya ungkapan kesalnya bukan benar-benar berniat membunuhnya seperti ini.
Sesaat Amora baru sadar jika dia tidak punya cukup uang. Ia membelalakkan matanya panik, dia kembali mengintip ke ruang perawatan Juno. Juno sepertinya membutuhkan perawatan lebih, pasti sangat mahal.
'duh gimana nih? Aku nggak punya uang, kayaknya dia lumayan parah pasti biaya perawatannya juga mahal,' batin Amora gusar.
Amora menatap lelaki di sampingnya yang menemaninya membawa Juno ke rumah sakit tadi. Sekarang dua tidak punya pilihan lain selain meminta kepada bantuan kepada laki-laki ini. Mungkin akan terdengar lancang dan tidak sopan, meminjam uang kepada orang asing yang baru ia kenal. Namun, dia tidak punya pilihan lain, Amora menarik nafas panjang bersiap akan bicara. Belum lagi Amora mengutarakan maksudnya, seorang perawat bagian admistrasi sudah datang menemui Amora untuk meminta biaya rumah sakit agar segera di lunasi.
"Mbak, suster ini bilang kita harus melunasi biaya nya sekarang," jelas si pria sebagai penerjemah. Amora bingung harus menyampaikannya bagaimana, tapi dia tidak bisa diam saja. Akhirnya dengan nekat Amora pun mengatakannya.
__ADS_1
"Maaf tapi kami tidak punya uang, karena kami habis ke rampokkan juga tempo hari," ujar Amora memelas dan sedikit malu-malu tidak enak hati. Si pria tersenyum mengerti.
"Pakek uang saya saja dulu. Kebetulan saya punya sedikit," ujar lelaki baik hati itu. Amora langsung bisa bernafas lega dan berkali-kali ia mengucapkan rasa terimakasih nya, akhirnya ia mendapatkan bantuan juga, lagi, dari lelaki ini. Lelaki ini seperti keajaiban yang di kirim tuhan untuk Amora, dia merasa sangat bersyukur. Entah apa yang tejadi jika seandainya lelaki ini tidak datang membantunya tadi.
Lelaki tersebut pun segera ke admistrasi dan mengurus semuanya. Amora pun mengikutinya langkahnya dari belakang. Sesampainya di tempat tujuan mereka pun segera mengurus semuanya, setelah menandatangani beberapa berkas Amora pun dapat bernafas lega, akhirnya satu permasalahannya selesai. Sekarang dia tinggal menunggu kabar dari Juno yang entah bisa selamat atau tidak, karena dia masih di tangani para dokter sedari tadi.
Sedangkan Amora masih dengan setia menunggu Juno selesai di periksa dokter. Dia mengintip dari kaca luar berkali-kali, tampak Juno yang mulai sadar dan jahitan di kepalanya pun sudah selesai.
Si pria penolong terlihat datang menghampiri Amora.
"Bagaimana keadaan suami kamu?" tanyanya saat baru sampai.
"Nggak papa, kebetulan saya juga lagi ada sedikit uang. Kalau sekedar biaya rumah sakit masih ada lah," ujarnya ramah.
Tiba-tiba Amora ingat sesuatu. Dia ingat pernah menyimpan nomer ayahnya di dalam kopernya.
__ADS_1
"Oh ya, kalo nggak salah di koper ada nomer papa saya. Bisa nggak kamu bantu saya telpon. Nanti saya akan minta dia transfer uang ke sini. Ya tuhan kenapa aku baru ingat, ya ....," seru Amora senang, kelihatannya ia mulai menemukan jalan keluar dari permasalahan mereka.
'Mudah-mudahan itu masih ada ya tuhan. Aku sangat membutuhkannya saat ini,' batin Amora penuh harap.
"Bisa. Nanti kita coba hubungi ayah mbak. Oh ya, suami mbak gimana? Lebih baik kita lihat keadaan dia dulu," ujar si lelaki.
Mereka pun segera menuju kamar Juno. Juno sudah kembali tertidur. Mungkin karena pengaruh obat bius membuat dia kembali tertidur. Tubuh Juno tampak sangat lemah dengan jaitan yang lumayan lebar di pelipisnya.
Untuk pertama kalinya Amora merasa bersalah atas tindakannya kali ini kepada Juno. Ia menatap wajah yang tengah kesakitan itu, mungkin juga dia merasakan sangat pusing saat ini. Mengingat Amora memukulnya cukup keras hingga guci itu pecah berhamburan. Tapi jika mengingat apa yang Juno lakukan padanya semalam, sepertinya ini pantas untuk lelaki ini terima. Amora kembali berbalik lagi hatinya jika mengingat yang semalam.
Akan tetapi tetap saja ada rasa khawatir di hati Amora jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap Juno. Apa yang harus ia lakukan jika dia sendirian di sini tanpa Juno. Dia menggenggam tangan Juno yang masih belum sadar, dia terus berharap lelaki ini akan baik-baik saja. Ia menatap wajah tampan itu, baru kali ini ia menyadari betapa tampannya Juno saat tertidur.
Sudah lama ia mengenali Juno, jauh sebelum mereka menikah, bahkan ayahnya sangat menyukai Juno yang dianggapnya sangat cerdas dan baik. Karena dia merupakan dokter favorit bagi pasiennya di rumah sakit dan ayah Juno juga merupakan teman akrab ayah Amora sejak di bangku SMA hingga mereka menikah pun mereka tetap menjadi sahabat sejati. Oleh karena itu saat ayah Juno meninggal, dia menjadi orang pertama yang ingin merawat Juno seperti anaknya sendiri dan tidak ingin kehilangan Juno. Untuk itu lah dia menikahkan Juno dengan putrinya Amora, semata-mata karena dia ingin tetap menjaga Juno dan membuat Juno menjadi bagian dari keluarga yang sesungguhnya.
Walau sudah lama saling mengenal, entah kenapa Amora dan Juno jarang sekali akur. walaupun mereka sudah bersama sejak mereka SMP dan mereka terpisah saat mereka kuliah saja. Juno di kedokteran dan Amora memilih untuk kuliah di Jepang.
__ADS_1
Jarak mereka hanya 3 tahun, setelah mereka sama-sama selesai dengan bangku kuliah dan mendapatkan pekerjaan, ayah Amora pun menikahkan mereka berdua.
"Coba aja kamu nggak nyebelin, mungkin akan terlihat jauh lebih baik. Tapi tetap aja aku nggak mau nikah sama kamu," gumam Amora.