
Pagi-pagi Juno terbangun dan langsung ke kamar mandi. Setelah mandi ia memeriksakan dirinya di depan cermin, karena dia merasa perih pada beberapa bagian tubuhnya, ia melihat dirinya di depan cermin, tampak beberapa bekas cakaran Amora semalam di tangan dan lehernya. Gadis itu benar-benar menyerangnya membabi buta semalam. Tapi ia juga puas karena sudah mengungkapkan semua perasaannya pada Amora semalam.
Juno mengolesi salap cream pada luka goresan itu sambil tersenyum simpul. Sesekali dia menahan perih dari olesan salep sambil terus mengolesinya. Dia kembali mengingat kejadian semalam. Bagaimana untuk pertama kalinya Juno melawan serangan Amora kepadanya dengan cara yang sama, biasanya Juno selalu mengalah.
"Hmmmhhh... Ternyata menyenangkan juga bisa balas dia!" gumam Juno seorang diri seraya melihat bekas luka gores di tangan, leher dan wajahnya itu dengan senyum simpul. Luka itu jadi terlihat jelas karena kulit Juno yang putih halus dengan bulu lembut di tangannya menambah kesan manis padanya.
Amora selalu menyerangnya selama dengan berbagai alasan. Mungkin itu salah satu upaya Amora membuat Juno tidak nyaman, tapi lama-lama Juno seolah semakin menikmati gaya hubungan seperti itu. Dia merasa lepas saat bersama Amora, dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut atau merasa canggung lagi. Entah kenapa mereka selalu seperti itu. Akan tetapi mereka menikmati itu sebagai salah satu cara yang membuat mereka semakin dekat.
Selesai mengobati dirinya. Ia pun keluar dan melihat Amora yang masih tertidur pulas. Ia menghampirinya dan mengecup lembut kening Amora, tapi Amora tetap lelap dalam tidurnya.
"Selalu bangun siang. Kapan kamu mau urus aku coba!" gumam Juno seraya mengelus rambut Amora lembut. Terlihat bibir merah yang kecil menawan itu, tapi sangat cerewet saat terjaga. Juno sangat menyayangi wanita ini walau dia kasar dan galak. Entah kapan perasaan Juno bisa terbalaskan. Juno masih sabar menunggu itu terjadi.
Sebelum pergi, Juno mengecup lembut kening Amora. Mungkin karena tidur Amora yang terlalu nyenyak hingga dia tak menyadari perlakuan manis Juno padanya. Juno tersenyum lalu kembali bersiap akan berangkat kerja lagi. Dia segera mengenakan pakaiannya dan setelah rapi ia pun pergi meninggalkan Amora yang masih terlelap dalam tidur nyenyaknya. Ia menutup pintu perlahan takut membuat Amora terbangun.
***
Ia segera melangkah turun kelantai bawah, di meja makan sudah ada ibu Amora yang tengah sarapan sendirian, ayah Amora masih belum kembali dari perjalanan bisnis nya. Juno pun memutuskan untuk langsung berangkat kerja saja, ia melupakan sarapannya pagi ini. Ia sengaja lakukan itu karena ia tau ibu Amora pasti tidak akan sudi sarapan bersamanya. Mengingat bagaimana sikap dingin ibu Amora selama ini padanya, apalagi beberapa kali ibu Amora memang menunjukkan pertentangan nya kepada Juno. Dan Ibu Amora juga selalu menghindari Juno, Juno menyadari itu. Hanya saja dia terus menjaga etikanya saat bertemu ibu Amora karena merasa sungkan.
***
Dona menatap kepergian menantunya tanpa sarapan, biasanya Juno selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersamanya walau mereka tidak saling sapa atau hanya Juno yang menyapanya, tapi kali ini dia tidak melakukan itu. Apa karena makan malam semalam yang ia sembunyikan, hingga membuat Juno hanya makan malam dengan telor ceplok kecap.
Tampaknya Juno mulai ingin menjauhi mertuanya, mungkin dia mulai lelah mengambil hati mertuanya itu. Mulai ada keraguan di hati mertuanya saat melihat sikap Juno tersebut. Bagaimana pun seharusnya dia tidak boleh begitu terhadap menantu tunggalnya itu, bagaimana jika suaminya mengetahuinya. Tentu ini akan menjadi masalah baginya. Tapi memanggil Juno pun sudah terlambat, lelaki itu sudah keburu pergi.
__ADS_1
"Nanti malam kalau dia mau makan siapkan semua untuknya. Jangan seperti semalam lagi, ya," pesan Dona sebelum berangkat kerja juga.
Si pelayan pun menunduk dan mengangguk dengan senyuman sopan dan ramah. Ros yang kebetulan juga mendengarnya jadi ikut tersenyum bahagia.
Saat akan berangkat Dona berpapasan dengan putrinya Amora. Dia melihat Amora sedikit berbeda pagi ini.
"Kamu kenapa sayang? Kamu sakit?" tanya ibunya khawatir dengan tangan reflek menyentuh kening putrinya. Amora menggeleng pelan. "Terus kenapa kamu pucet, nak?" tanya ibunya lagi. Tanpa sengaja ibunya melihat sesuatu di tubuh Amora.
"Ini bekas apa? Kok merah gini? Kamu diapain sama suami kamu? Kamu di sakitinnya?" tanya ibunya tambah panik. Amora menggeleng cepat.
"Nggak. Apaan sih, Mah. Udah deh, kalo mau pergi kerja pergi aja," tutur Amora takut ibunya tahu apa yang terjadi semalam. Walau dia tidak suka kepada Juno tapi dia juga tidak ingin membuat Juno terkena masalah.
"Beneran kamu nggak papa?" tanya ibunya lagi sekali lagi.
Sedangkan Amora segera pergi kembali ke kamarnya. Tadinya dia berniat menyusul Juno yang berangkat kerja karena ingin menanyakan nomer handphone nya yang lupa Amora save. Tapi ternyata Juno sudah pergi.
Sedangkan Dona pun sudah berangkat.
***
Siang itu Juno baru selesai makan siang bersama rekannya dan ia duduk di taman rumah sakit tersebut. Sinta datang menemuinya dan duduk di sampingnya, Sinta memang sering datang sekedar mengobrol atau berbagi rahasia kecil diantara mereka.
__ADS_1
"Semalam aku ribut sama Amora. Nggak parah, cuman bisa buat aku lega bisa ngomong sama dia, walau resikonya aku harus siap di serangnya," ujar Juno seraya terkekeh dan memperlihatkan tangannya yang tergores.
"Kamu ngapain sama dia?" tanya Sinta seraya ikut terkekeh.
"Nggak tau. Semalam aku capek, tapi dia mau marah-marah nggak jelas. Yaudah, aku ajak aja ribut sekalian,"
"Terus, kalian melanjutkannya dengan adegan yang erotis," seru Sinta menunjuk tanda merah di leher Juno. Membuat Juno baru sadar. Dia segera melihatnya melalui kamera handphone nya. Dan dia baru sadar jika bekas itu terlihat dari kerah bajunya. Ia pun tertawa bersama Sinta.
"Tapi aku puas, aku bisa ungkapin semuanya," tutur Juno. Sesaat mereka terlibat keheningan.
"Hmmmhhh... Kamu tau kenapa aku suka kerja di rumah sakit?" Tanya Juno lagi. Sinta pun menggeleng.
"Karena di sini aku bisa lihat di mana keluarga saling menjaga dan melindungi. Mereka terus berdoa penuh harap dan cinta kasih yang besar agar anggota keluarga mereka tetap utuh dan tak kehilangan. Aku ingin ada yang seperti itu padaku suatu saat nanti, jika aku tidak ada mereka akan rindukan aku. Ada yang penuh harap aku akan tetap bertahan bersama mereka, yaitu sebuah keluarga." Ada rasa sakit yang Juno tahan saat ia mengungkapkan itu. Sinta dapat rasakan jika saat ini Juno tengah merindukan keluarga yang utuh. Bagaimana pun dulu dia kehilangan semua secara mendadak dalam hidupnya, wajar jika itu terus menghantuinya sampai saat ini.
"Juno, kamu punya itu, kok. Jangan bersikap seolah aku sama nenek, Darsih dan keluarga Amora nggak berarti," tutur Sinta.
"Bukan seperti itu. Tapi ... Entah lah. Aku merasa nenek sebentar lagi akan meninggalkan aku seperti yang lain. Amora janganlah di tanya, aku tidak banyak berharap padanya. Aku sama dia itu kayak ngasih tanpa berharap dia balas dengan cara yang sama ... kamu pun suatu saat nanti juga akan pergi. Kamu akan menikah dan akan memiliki keluarga yang lain. Sekarang aku sangat berharap kalau aku akan punya anak, darah daging aku sendiri yang bisa aku percaya 100% kalo dia akan benar-benar ada waktu aku butuh. Seenggaknya aku bisa paksa buat dia terima keberadaan aku sebagai seorang ayah yang nggak mungkin dia tolak. Aku ... Aku sangat berharap memiliki seorang anak sebelum nenek meninggal, Sint. Seenggaknya aku nggak merasa sendirian. Ada orang yang bisa aku sebut benar-benar keluarga dalam diri aku. Nggak benar-benar sendirian," ungkap Juno dalam dengan tatapan hampa dan matanya seolah menahan sakit sekuat tenaganya. Sinta memegang bahu Juno. Membuat Juno menelan salivanya. Sesaat dia tak bisa tahan dan membuang mukanya dari Sinta. Sinta tahu Juno tengah menyeka air matanya. Sebegitu takutnya seorang Herjunot Wiryawan di tinggal sendirian. Ini lah alasan mengapa Sinta takut Juno di dekati orang lain. Apalagi orang yang salah. Hati lelaki ini terlalu lembut dan rapuh. Keluarga selalu keluarga yang ia rindukan. Dia cari itu dari setiap orang yang ia kenal, hingga Juno sering kali menyerahkan hatinya sepenuhnya pada seseorang yang membuat dia gampang terluka jika di sakiti. Setulus itu dia pada setiap orang dan sekejam itu Amora menyakitinya. Dan b@ngs@tnya dia tak bisa lindungi Juno karena pilihan Juno pada Amora terlalu keras. Dia tak memberi celah Sinta untuk melindungi hatinya yang di sakiti Amora. Hanya ia ungkapkan saat seperti ini saja dan Sinta hanya bisa mendengarnya dan terdiam.
"Di rumah sakit aku bisa lihat keluarga yang hangat dan saling peduli. Karena itu, aku senang berada di sini. Aku bisa melihat keluarga yang utuh di sini." Juno tersenyum simpul ke arah Sinta yang tampak sedih mendengar ucapan Juno barusan.
"Kita keluarga, Juno," lirih Sinta seraya menepuk lembut bahu lelaki tampan ini. Ia tersenyum ke arah Sinta, senyum yang membuat Sinta terpana dan ... Tak bisa ia ungkapkan, tak boleh ia ungkapkan pada Juno.
BERSAMBUNG...
__ADS_1