Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Setelah kepulangan ayah dan ibu Amora. Juno menghampiri neneknya ke kamar, sedangkan Amora dan Sinta sudah sibuk berdua di luar. Hanya Juno dan nenek yang berada di kamar sekarang.


"Nenek jangan banyak pikiran lagi, ya," nasehat Juno pada neneknya.


Nenek tersenyum dan mengangguk. Ia mengusap wajah Juno lembut. Dia seringkali berpikir, apa mendidik cucunya menjadi laki-laki yang lembut seperti ini juga merupakan kesalahan baginya. Sekarang dia melihat Juno banyak menahan perasaannya demi semua orang. Terkadang nenek mulai berpikir bagaimana nanti jika dia sudah tiada, mungkinkah Juno akan tertekan bersama orang-orang di luar sana. Dia sangat takut jika memikirkan seandainya Juno terlalu pengalah dan selalu menyembunyikan lukanya begini.


"Jun!" seru nenek.


"Hmmm... Iya, nek," jawab Juno lembut dengan senyum hangat.


"Nenek harap, kalau nenek sudah tidak ada nanti kamu harus bisa jaga diri, ya. Jangan banyak menyembunyikan perasaan kamu. Kamu harus bisa bahagia seperti orang lain, kamu harus hidup dengan baik. Jangan biarkan siapapun merenggut kebahagiaan kamu, nak," ujar nenek berkaca-kaca. Juno mengangguk seraya menggenggam tangan neneknya.


"Nenek akan sehat, nenek akan lihat anak aku nanti. Jadi, nenek harus semangat. Nenek jangan banyak beban pikiran lagi, ya." Nenek mengangguk.


***


Di sisi lain di dapur, Sinta dan Amora tampak sibuk dengan kegiatan mereka. Sibuk di dapur membuat Amora bisa melupakan rasa mualnya sejenak. Mereka berdua tampak asyik masak bersama Darsih juga. Apalagi ini hasil kebun mereka juga yang baru mereka panen dari kebun belakang tadi.



"Eh, katanya kamu mau tunangan dan persiapan pernikahan, ya? Nggak ketemu lagi donk kita." Amora tampak sedih menatap Sinta sambil terus dengan kegiatannya mencuci sayuran. Sedangkan Sinta tampak sibuk dengan ulekan sambalnya.

__ADS_1


"Iya, besok malam mungkin aku berangkat. Di jemput sama saudaranya dia juga yang kebetulan kita berangkat bareng," terang Sinta.


"Eh, aku semalam kan sama Juno cerita-cerita tentang masa kecil kita. Juno cerita kalo kamu itu sebel sama masa kecil kita sampe kamu nikah sama Juno? Emang iya? Katanya kamu kesel gegara aku usir kamu waktu kecil dan Juno cuekin kamu gitu gegara aku. Aku minta maaf ya, aku pasti nyebelin banget waktu kecil," tutur Sinta. Membuat Amora terkekeh.


"Iya. Habis gara-gara kamu aku sampe sakit kangen Juno kamu malah usir aku nggak bolehin ketemuan sama Juno. Aku pikir emang Juno yang udah nggak suka sama aku lagi. Makanya waktu kita nikah aku jijik sama Juno. Habis dia selama ini nggak pernah datengin aku tetiba mau nikah sama aku. Terus sangking sebelnya aku sama dia, aku sampe getok dia pakek guci waktu di Swiss. Tapi, anehnya aku nggak bisa jauh dari dia, sebenci-bencinya aku sama dia, aku tetap nungguin kabar dari dia, loh kalo dia nggak pulang. Terus waktu Horner nikah juga gitu, aku itu kayak ngerasa hilang feel sama Horner. Apa aku itu jatuh cinta sama Juno sejak kecil, ya? Cuman ketutup sama rasa kesel aku aja sama dia selama ini," tutur Amora panjang lebar.


"Iya. Kamu itu ngomongnya benci, tapi diajak Juno main nggak nolak. Nolak-nolak tapi tuntas juga sampe hamil gini," ledek Sinta membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


"Eh, Sint. Kalo kamu udah nikah kita pasti nggak bisa ketemu lagi, ya. Pasti rumah ini jadinya beda kalo kamu udah nggak ada. Terutama buat nenek dan Juno."


"Nanti sekali-kali aku pasti ke sini, kok. Tenang aja. Rumah aku kan juga Deket sini. Jadi kalo kesini pasti mampir sini juga," tutur Sinta dengan seulas senyum. Amora langsung memeluk sahabat barunya ini. Sinta yang tengah mengulek sambal pun hanya bisa merespon dengan mengangkat tangannya ke bahu Amora tanpa bisa memeluk balik karena tangannya yang berlumuran sambal.


"Udah, yuk. Kita buru-buru lagi, ini udah siang, pasti Juno sama nenek udah laper, ntar Juno ngamuk lagi kalo kita lelet. Udah tiga babu di dapur tapi masih juga lama masaknya," canda Sinta lagi.


"Lah, mbok dari mana?" tanya Sinta pada Darsih.


"Mbok dari beli ikan sama ayam. Den Juno pasti ndak akan suka ikan asin, makanya mbok beliin ikan sama ayam buat makannya den Juno," tutur si pembantu.


"Oh, iya ya, diakan nggak suka ikan asin. Untung aja di ingetin, mbok. Kalo nggak bisa-bisa dia ngambek lagi waktu makan siang nggak ada yang dia suka," tutur Amora baru ingat dengan selera makan suaminya itu.


"Hmmm... Kalo Juno udah ngambek itu biasanya lama, diem, ditanya nggak akan jawab, di sapa nggak akan nengok. Kita dianggapnya mati di depan mata dia," tutur Sinta.

__ADS_1


"Bener, aku sering diambekin nya berhari-hari, nggak di sapa, nggak ditegor, pengen nangis aku jadinya, baru dia mau nyapa. Tapi, bagusnya dia nggak ngamuk kalo marah, jadinya nggak ngomong kasar," tutur Amora sambil terus dengan kegiatannya bersama Sinta.


"Dia dari kecil memang sering gitu. Nggak bisa ngomong kasar, kalo udah kasar dia ngomongnya, itu artinya kita udah keterlaluan dan dia pasti udah nahan-nahan itu. Makanya, kamu ati-ati, jangan sampe dia merajuk, dia itu bukan tipe orang yang kita tau kapan dia marahnya," nasehat Sinta. Amora ingat jika Juno pernah sangat murka saat dia mengatakan kata-kata menyakitkan pada Juno di hadapan Horner. Itu pertama kalinya Amora melihat kemarahan yang dalam dari seorang Juno.


Amora kembali tersenyum mengingat kejadian itu.


"Eh, malah bengong lagi," seru Sinta yang mengagetkan Amora.


***


Setelah seharian terbaring di ranjang, Akhirnya nenek merasa bosan di kamar terus, ia pun meminta Juno membawanya ke luar. Ternyata di luar tepatnya di dapur Amora dan Sinta tengah menyiapkan makan siang mereka.


Saat mereka datang, tepat semua masakan sudah siap di masak dan tinggal mereka hidangkan lagi bersama lalapan kesukaan nenek Juno.



"Nek, kita bikin sayur lalapan kesukaan nenek, dengan ikan asin sambal mentah nya," terang Sinta. Amora masih agak kaku dengan nenek Juno paska pertengkaran ibunya dan nenek kemarin. Juno yang paham akan keadaan pun segera ambil posisi duduk di samping Amora.


"Kamu nggak mual lagi?" tanya Juno pada Amora mencoba mencairkan suasana hati Amora. Amora menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Amora, kalau kamu suka mangga muda, di belakang ada banyak, ambil saja mana yang kamu suka. Biasanya kalau lagi mual buat menetralisir rasa mual ibu hamil suka buat rujak itu," tutur nenek yang seketika membuat senyum terukir di wajah Amora karena akhirnya nenek menyapanya juga setelah sedari kemarin nenek tidak menyapanya. Juno pun tersenyum melihat Amora kembali ceria di hadapan neneknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2