Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Mengunjungi Nenek Juno


__ADS_3

Amora menghubungi ayahnya untuk menanyakan alamat rumah nenek Juno. Setelah di berikan ayahnya, Amora pun segera bersiap. Walau sebenarnya dia tidak menyukainya. Dia harus kesana jika tidak mau bermasalah lagi dengan ayahnya. Dan dia juga harus kembali bekerja di hotel, dia harus meyakini ayahnya bahwa dia sudah berbaikan dengan Juno.


Selesai bersiap Amora pun keluar kamar. Ros memperhatikan Amora yang sudah berdandan cantik dari kejauhan. Lalu ia kembali melanjutkan tugasnya untuk mengatur para pelayan.


Amora pun melajukan mobilnya ke rumah nenek Juno. Setelah mencari-cari akhirnya Amora sampai pada rumah besar yang tampaknya sudah cukup tua namun bersih dan asri. Saat turun dari mobilnya Amora di sambut tukang kebun yang menanyakan perihal ke datangan Amora.



"Ini benar rumah nenek Widya neneknya dokter Herjunot?" tanya Amora tanpa melepaskan kaca matanya.


"Benar, non. Nona ini siapa, ya?" tanya si tukang kebun.


"Saya istri Herjunot. Nenek Widya ada?" tanya Amora kembali. Sontak itu membuat senyum sumringah terpancar dari wajah sang tukang kebun yang segera membuka pagar rumah besar tersebut.


"Oh walah, cucu menantunya nenek, toh. Masuk-masuk, Non. Beliau ada lagi di kamar kayaknya. Maaf maklum sudah tua suka lupa, sampe sama majikan mudanya pun bisa lupa," seru si pelayan mempersilahkan Amora masuk, Amora hanya tersenyum tipis dan kembali mengenakan kacamata hitamnya. Ia segera kembali ke mobilnya untuk memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan memarkirkannya.


Setelah itu Amora segera masuk kerumah dengan sebelumnya ia melepaskan kaca mata hitamnya dan membenahi penampilannya.

__ADS_1


Saat masuk Amora di sambut seorang pembantu dan suasana rumah yang sejuk, nyaman, bersih dan antik ala Eropa klasik dengan dominan warna gold dan putih. Ada banyak foto keluarga yang terpajang dan banyak keramik antik nan cantik juga yang menghiasi ruang depan dengan nuansa gold yang sangat kentara. Hingga kursi tamu yang besar di tengah ruangan pun berwarna gold. Ini memberi kesan jika betapa kaya raya keluarga Juno saat itu, tapi saat tak terawat sekeluruhan ruangan malah memberi kesan menyeramkan saat malam tiba, karena terlalu banyak barang antik yang menjadi koleksi nenek Juno yang tampak keramat dan mistis jika malam hari. Bahkan ada lemari kaca besar yang terbuat dari jati m, berisikan bermacam-macam bentuk keramik antik yang kelihatannya juga bukanlah koleksi sembarangan.


Sesaat Amora di kagetkan dengan panggilan dari pembantu yang memanggil Amora, hingga membuyarkan lamunan Amora. Amora segera di giring menuju sebuah kamar di lantai atas. Sebuah kamar yang tak kalah klasiknya bergaya ala bangsawan Eropa yang elegan. Di sana sudah ada seorang perawat muda nan cantik yang menemani nenek Juno. Kelihatannya dia baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada nenek Juno.



Saat melihat kedatangan Amora nenek Juno tampak kaget sekaligus senang.


"Eh, cucu nenek sudah datang. Apa kabar kamu, nak? Kemaren Juno bilang kamu sakit. Sudah sembuh?" tanya nenek Juno ramah seraya memeluk dan mencium pipi Amora dengan hangat penuh kasih sayang dengan posisi masih duduk di ranjangnya.


Ada perasaan tidak enak di hati Amora saat di katakan bahwa dia sakit, sebenarnya itu hanya alasan dia karena menolak untuk datang. Amora pun hanya bisa tersenyum kecut mendengar pernyataan nenek Juno itu.


Nenek Juno yang menyadari akan kehadiran si perawat yang lupa ia kenalkan pun segera ingat untuk memperkenalkan mereka berdua.


"Oh iya, ini Sinta. Dia rumahnya dekat sini. Dia habis cek nenek, biasa di suruh Juno. Dia ini juga teman Juno sejak kecil. Makanya sudah biasa di rumah ini," ujar nenek Juno kepada Amora. Si perawat hanya tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya dengan senyum ramah yang terasa hambar. Itu yang Amora rasakan.


"Sin, ini Amora cucu menantu nenek, istri Juno. Cantik, kan!" ujar nenek Juno memperkenalkan Amora dengan bangga dan senyum hangatnya. Amora pun tersenyum seraya mengulurkan tangan kepada Sinta dan di sambut keduanya dengan menyebut nama masing-masing.

__ADS_1


"Juno masih di rumah sakit. Mungkin jam 5 nanti dia baru pulang. Semalam dia nginap di sini. Apa dia sudah kasih tau? Sudah nenek paksa pulang tapi tidak mau," ujar nenek Juno. "Dia selalu khawatir dengan nenek. Keadaan nenek ya begini lah, sering sakit-sakitan," ujar si nenek lagi dengan seulas senyum hangatnya. Amora membalas tersenyum dan mengangguk. Dia masih merasa malu dan kaku bersama nenek Juno karena selama ini mereka jarang mengobrol.


"Sinta ini juga perawat yang kerja di rumah sakit yang sama dengan Juno. Dia juga teman Juno sejak kecil. Rumahnya tidak jauh dari sini," ujar nenek Juno tentang si perawat.


"Dari kecil teman Juno ya dia. sekolah bareng, main bareng. Kadang suka di ledekin orang-orang kalau Juno dan Sinta itu pacaran," kekeh nenek Juno yang membuat semua tertawa begitu pula Sinta. Ada raut wajah sumringah di wajah si wanita saat membicarakan Juno. Mungkin ini pula alasan dia tidak menyukai Amora, karena Amora adalah istri Juno.


"Eh waktu besar malah Juno yang duluan nikah. Kamu kapan nyusulnya? Jangan lama-lama loh," goda nenek Juno seraya menyentuh pelan bahu si perawat muda itu dia tersenyum ramah ke arah si nenek, senyumnya kali ini terlihat lebih hangat dan tulus, berbeda saat bersama Amora tadi.


"Belum ada yang mau, nek. Nanti kalo ada yang kayak Juno lagi Sinta bakal nikah," goda Sinta membuat keduanya terkekeh, tapi entah kenapa Amora merasa jika ucapan itu serius. Amora merasa jika Sinta benar-benar menginginkan lelaki seperti Juno. Mungkin kah Sinta diam-diam selama ini jatuh hati kepada Juno? Curiga Amora.


"Jangan. Juno sudah ada yang punya. Kamu sama si polisi tampan itu saja. Kalau cocok jangan di tunda lagi. Tidak baik itu," ujar nenek, Sinta hanya tersenyum mendengarnya.


"Sinta mau cari yang baik, nek. Biar ada yang sayang, biar ada yang anggap kalo lagi di rumah, nggak kayak orang asing," tutur Sinta seolah menyindir Amora tentang sikapnya terhadap Juno.


Amora sedikit mengernyitkan dahinya, dia merasa wanita ini tahu terlalu banyak tentang dia dan Juno. Siapa dia? Kenapa Juno bisa terbuka dengan wanita ini? Kenapa dia yang sudah kenal Juno lama tidak pernah mendengar nama wanita ini sebelumnya?


Sesaat Amora tersadar jika dia pernah bertemu dengan Sinta sebelumnya di rumah sakit bersama Juno, saat ia berkunjung ke rumah sakit.

__ADS_1


'Ah, iya! Dia perempuan itu,' batin Amora yang baru ingat. Amora pun sedikit menyunggingkan senyumnya, dia mulai paham akan keadaan sekarang.


BERSAMBUNG...


__ADS_2