
Seharian di rumah tanpa kegiatan membuat Amora bosan. Ia melirik handphone nya lagi, berharap ada notifikasi yang masuk. Tapi tidak ada apa-apa, karena nomernya masih tidak banyak yang tahu. Ia mencoba membuka sosmed, berselancar mencari info terbaru dari orang-orang di alam sana.
Sesaat mata Amora tertuju pada akun milik Horner. Dia melihat pria itu tengah mempromosikan restoran terbarunya. Sepertinya ini adalah cabang baru miliknya. Amora menyunggingkan senyumnya. Dia ingin menemui pria itu, dia sangat merindukan pria itu. Pria lembut yang sangat dewasa dan kalem. Berbeda dengan Juno yang kasar dan suka mengganggunya. Yang pasti dia juga adalah satu-satunya laki-laki yang sangat Amora cintai hingga detik ini.
FLASHBACK ON
1 tahun lalu. Amora dan Horner sepakat untuk bertemu di sebuah kafe. Ada hal serius yang ingin Amora sampaikan. Begitu katanya. Amora datang terlebih dahulu, dia menunggu kedatangan lelaki itu dengan tidak sabar. Berkali-kali ia melihat jam di tangannya berharap lelaki itu segera datang dan menemuinya. Tidak lama lelaki jangkung dengan perawakan tinggi dengan sedikit jambang tipis menyelimuti wajah tampan dan tegas itu. Terlihat sangat berwibawa dan berkharismatik. Memang dia jauh lebih dewasa dari Amora. Dia adalah seorang duda yang sudah memiliki anak. Namun itu tidak menghalangi cinta mereka. Amora tetap mencintai lelaki yang 15 tahun lebih dewasa darinya itu.
Dia segera duduk di hadapan Amora dengan nafas yang masih tampak tersengal-sengal seraya menyeka keringatnya dengan sapu tangan.
"Maaf telat, tadi aku ada urusan sebentar. Kenapa? Kok tiba-tiba ngajak ketemuan mendadak?" tanyanya lembut. Amora tampak ragu dengan apa yang akan ia sampai kan ini. Melihat itu, Horner segera menggenggam tangan Amora dan menatapnya dalam.
"Ada apa? Kamu bisa cerita. Jangan takut," tuturnya meyakinkan Amora.
"Papa bersikukuh mau jodohin aku sama dia. Aku nggak mau Horner. Horner ayo kita pergi saja. Aku nggak mau nikah sama dia, aku benci sama dia. Aku nggak sanggup kalo harus di paksa nikah sama dia," tutur Amora dengan mata berkaca-kaca penuh harap. Kedua tangannya menggenggam tangan Horner.
Kini Horner yang balik tampak ragu, ia menatap Amora dalam sebelum mulai bicara.
__ADS_1
"Amora ... Raya anakku sakit. Dia tidak pernah sehat semenjak kami bercerai, hari ini dia harus di rawat di rumah sakit, dia terus memintaku untuk tinggal bersamanya dan ibunya. Keluarga pun sudah berembuk akan hal itu, mungkin ... Kita juga harus mengakhiri hubungan kita, karena aku tidak bisa mengorbankan Raya hanya untuk egoku saja. Dia sangat terluka dengan perceraian kami selama ini. Amora ... maaf ... Aku tidak punya pilihan lain. Aku dan Rasti mungkin akan kembali rujuk. Terus terang sebenarnya aku juga masih mencintainya, mungkin saat itu kami hanya tengah kacau saja. Jadi, aku harap ... Kamu ... Bisa mengerti juga, Amora," tutur nya. Sedangkan Amora sudah tak dapat membendung air matanya lagi. Dia tidak percaya Horner akan lakukan hal ini padanya.
"Lalu? Aku selama ini apa buat kamu? Mainan kamu? Pelarian kamu sampai kalian bisa berbaikan lagi? Aku bahkan menolak perjodohan ku demi kamu, apa kamu tidak bisa lakukan hal yang sama untukku? Kenapa kamu egois Horner? Aku juga mencintaimu, aku juga bisa terluka jika kehilangan kamu. Hubungan kita bukan hubungan terlarang, kita bersama setelah kamu bercerai. Jadi, kenapa sekarang aku seolah jadi orang ketiga diantara kalian? Hingga kalian bisa singkirkan aku begitu saja tanpa memperdulikan perasaan aku," histeris Amora hingga menarik perhatian pengunjung lainnya. Horner terus berusaha meminta Amora untuk bisa lebih tenang. Amora sudah tidak tahan lagi. Ia pun segera mengambil ponsel dan tasnya. Ia pergi dengan tangisnya sepanjang perjalanannya.
***
Hingga dengan perasaan terluka Amora menyetujui pernikahannya bersama Juno. Ia lakukan hanya untuk melampiaskan kemarahannya kepada sikap Horner. Ia harap itu bisa membuat dia sedikit puas, tapi ternyata bayangan Horner tetap menghantuinya hingga saat ini. Hubungan yang tengah bersemi indah di paksa kandas saat itu juga. Mungkin membuat Amora sulit untuk melupakan Horner hingga saat ini.
FLASHBACK OFF
Ah, melihat potret Horner membuat dia kembali mengingat pria itu lagi. Amora membuang handphone nya ke atas kasur dan mengusap wajahnya kasar. Saat ia melirik handphone nya kembali, Amora menatap wallpaper handphonenya yang terdapat potret Juno dan dia. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Juno. Juno membuat Amora kesal, tapi juga menggilainya, ia menolak tapi tak bisa menolaknya saat ia benar-benar memaksa untuk di terima. Amora akan memberontak tapi Juno selalu berhasil menuntaskan apa yang menjadi inginnya pada Amora.
***
Karena bosan. Amora pun putuskan untuk mengunjungi nenek Juno ke rumahnya. Ia masuk ke rumah besar nan sepi itu. Di sana ia di sambut oleh Darsih.
"Nenek mana?" tanya Amora pada Darsih.
__ADS_1
"Ada di belakang, non. Ndoro lagi di kebun," jawab Darsih sopan. Seraya mengantar Amora menuju kebun sayur belakang. Benar saja, di sana sudah ada nenek Juno yang tengah sibuk berkebun. Amora pun berjalan berlahan menghampiri nenek Juno yang seketika langsung tersenyum sumringah menatap kedatangan Amora.
"Nenek lagi tanam brokoli. Juno suka sama brokoli. Apalagi kalau di buat sayur bening," tutur nenek ramah di kebun seraya terus dengan kegiatannya.
"Amor ikut ya, nek," tutur Amora dengan senyum antusiasnya.
"Boleh sayang. Tapi nanti kamu kotor, loh,"
"Nggak apa-apa, nanti bisa cuci, kan. Amor bosan di rumah, nek. Juno pulangnya lama." Nenek tersenyum mendengar penuturan cucu menantunya ini.
Amora pun ikut berkebun bersama nenek Juno. Mereka bak seperti cucu dan nenek yang sangat akrab. Mereka berkebun seharian ini dan juga masak bersama dan terakhir sebelum pulang Amora makan siang bersama nenek Juno.
"Juno sering pulang malam, ya?" tanya si nenek.
"Iya, nek. Katanya rekannya lagi belum pulang. Jadi dia masih gantiin shift kerja mereka. Nggak tau sampe kapan dia kek gitu," tutur Amora yang tampak sedikit kesal. Nenek hanya terkekeh melihat expresi lucu Amora itu.
__ADS_1
Hingga menjelang sore baru ia pulang ke rumahnya. Dia merasa sangat puas hari ini. Berkebun bersama nenek Juno membuat Amora merasa memiliki kegiatan dan teman yang mampu membuat pikirannya kembali fresh setelah pertengkaran nya semalam bersama Juno. Dan tak lama Juno pun pulang tepat saat Amora baru selesai membersihkan dirinya setelah dari rumah nenek Juno tadi. Amora tak menceritakan kepergiannya pada Juno. Dia sengaja tak menceritakannya karena masih ada gengsi yang ia simpan dari Juno. Dia tak mau jika Juno besar kepala mendengar dia bermain bersama neneknya. Biarlah hari ini menjadi rahasia kecilnya bersama sang nenek.
BERSAMBUNG....