
Setelah beberapa pekan pergi sendirian tanpa tujuan. Ia telah menemui Sinta, dokter ikhwar dan beberapa orang lain. Juno mulai merasa tenang kembali. Mereka semua seolah menyadarkan Juno jika dia masih punya banyak orang yang menyayanginya. Dia tidaklah sendirian. Ucapan dokter Ikwar terus membuat dia berpikir dan merenung sepanjang perjalanan.
Tiba-tiba Juno tercekat di bandara, dia bingung ingin menentukan langkah nya lagi. Tiba-tiba dia mulai berpikir, ia akan benar-benar sendirian jika dia terus melanjutkan perjalanannya ini.
Ia terduduk di kursi panjang di bandara dan mulai menatap ke sekitar, semua orang tampak bahagia bersama orang-orang yang di cintainya. Tapi kenapa dia tidak bisa seperti orang-orang? Menerima mereka tanpa rasa kesepian dan terluka lagi. Kenapa ia tak bisa lakukan itu jika dia benar-benar mencintai dan tak ingin kehilangan kenapa ia malah menjauh saat ini. Bahkan ia tinggali Amora di saat Amora menyatakan ia tengah berbadan dua, Amora tengah mengandung anaknya. Kenapa saat itu dia malah memilih untuk menjauhinya.
Tiba-tiba bulir bening menetes dari sudut mata Juno. Juno yang tak sadar jika dia tengah menangis segera menyeka air matanya dengan heran. Lalu ia tersenyum miris, seolah menertawakan dirinya sendiri. Untuk membedakan antara suka dan duka saja dia tidak bisa saat ini. Bodohnya dia!
Ah, tiba-tiba ia teringat gunung Alpen.
"Gunung itu. Apa aku harus ke sana sekarang?" gumamnya sendirian di bangkunya.
Ia pun bangkit dari bangkunya untuk melihat jadwal penerbangan ke Swiss, penerbangan ke sana butuh waktu 3 jam lagi untuk penerbangan selanjutnya. Juno memutuskan untuk mengambil penerbangan itu lagi selanjutnya. Ia pun harus menunggu 3 jam lagi di bandara itu.
Tiba-tiba ia berniat membuka handphone nya lagi, ia segera merogoh tas ranselnya itu dan mencari handphone nya. Ia pun menemukannya dan tersenyum tipis tapi sepertinya handphone nya yang sudah lama tak di gunakannya itu kehabisan daya baterai, Juno pun segera mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk mengisi daya. Mungkin di kafe dia bisa menumpang di sana saja, kebetulan dia juga tengah kelaparan.
Ia pun segera mencari tempat yang bagus untuk ia makan siang. Setelah berputar beberapa saat, mata Juno terhenti pada sebuah kafe kecil yang sederhana.
Dia mulai memesan menu di sana dan mencari bangku kosong. Dia menemukan tempat yang cocok di sebuah sudut yang kelihatannya cukup nyaman. Ia pun menikmati makannya sambil menunggu daya handphone terisi dan waktu keberangkatan selanjutnya.
Dia terus menikmati waktu makan nya sendirian. Tiba-tiba matanya tertuju pada sepasang suami istri yang tengah berjalan berdua zebra cross, si suami tampak dengan lembut menuntun langkah istrinya yang tengah hamil besar itu. Pasti kah itu pasangan suami-istri yang tengah berbahagia, apalagi si suami yang terlihat sangat perhatian. Tiba-tiba pikiran Juno kembali teringat akan Amora dan tujuannya saat ini adalah Swiss tempat yang penuh kenangan antara dia dan Amora pasti nya.
"Amora!" lirih Juno tiba-tiba.
Juno buru-buru melirik handphone nya yang tengah terisi. Dia mulai membuka pesannya. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pesan. Ada ribuan chat dari Amora yang tak pernah ia buka selama ini.
__ADS_1
Ia mulai membukanya satu persatu. Amora mengiriminya banyak pesan. Juno mulai membacanya satu persatu pesan itu. Ternyata Amora mengirimi dia banyak foto kegiatannya sehari-hari selama Juno pergi. Juno melihat foto itu satu persatu. Ada senyum tipis saat Juno mulai membukanya. Ada satu pesan yang membuat Juno tertarik.
'Jun, aku mual terus. Hari ini aku di rawat, tapi aku senang. Dokter bilang bayi kita baik-baik saja,' Amora.
Juno tersenyum membacanya, pasti itu hari-hari yang berat bagi Amora.
'jun, hari ini aku mengunjunginya lagi di tempat dokter, dokter bilang, belum bisa lihat jenis kelaminnya karena dia nutupinnya. Dia mungkin pemalu seperti kamu. Ah kamu kan nggak pemalu, tapi nyebelin,' Amora. Kali Juno tertawa membacanya.
'jun, dia mulai gerak, aku kaget banget. Gerakkannya mulai kenceng,' Juno mengusap layar handphonenya yang terdapat foto Amora yang tengah memotret perutnya. Dia tersenyum miris menatapnya. Dia merasa kurang bijak sekarang telah meninggalkan Amora dalam keadaan hamil begitu.
'Jun, aku gendutan sekarang. Kamu pasti ilfill liat aku sekarang. Aku suka makan,mual aku pelan-pelan mulai ilang,' Amora memotret foto angka timbangan yang menunjukkan angka 58 kg. Juno hanya tersenyum seraya mengernyitkan keningnya.
'jun, aku kangen. Aku kangen kamu. Boleh aku minta kamu pulang? Aku capek tanpa kamu. Udah 3 bulan kamu tanpa kepastian. Juno aku kangen kamu,'
"Amora!"
Ah, tiba-tiba dia tidak sanggup lagi melanjutkannya. Dia pun kembali meletakkan handphone nya dan menikmati makannya dengan mata yang malah terasa basah itu. Tiba-tiba ia pun tertunduk dan terisak sendirian.
"Amora, aku juga kangen ....," isaknya. Akhirnya dia akui itu juga.
Tiba-tiba bayangan Amora begitu jelas ia lihat sekarang. Rambut ikalnya yang bergelombang indah, matanya yang ceria dan senyumnya yang selalu terlihat manis. Manjanya saat tidur di samping Juno, ia selalu marah jika Juno tak menyentuhnya saat tidur. Setidaknya kaki mereka yang saling bersentuhan. Dia tiba-tiba merindukan tingkah konyol Amora itu.
Tiba-tiba dia menginginkan kenangan itu lagi. Apa sekarang ia mulai menemukan hasratnya lagi? Apa ia sudah mendapatkan ketenangan hatinya sekarang? Apa ia mulai bisa berdamai dengan keadaan nya? Mungkin sudah waktunya ia pulang dan menemui istrinya lagi. Melupakan semua dan memaafkan semua yang sudah terjadi.
Dan ...
__ADS_1
Menerima kenyataan bahwa ia hanya memiliki Amora dalam hidupnya. Hanya itu yang tersisa sekarang. Tanpa nenek lagi, tanpa Keluarga kandungnya lagi.
Juno kembali teringat, bahwa dia ada penerbangan setelah ini. Ia melirik jam di tangannya, ternyata sebentar lagi waktu keberangkatannya tiba. Ia pun buru-buru menghabiskan makanannya.
Tiba-tiba Juno teringat sesuatu. Ia pun mengambil handphone nya dan memotret piring makanannya.
Dan memberi caption pada foto tersebut.
'Aku habis makan. Makanannya nggak seenak Rosti di Swiss. Tapi lumayan buat ganjal perut lapar aku. Mungkin aku akan cari Rosti lagi di tempat kita dulu. Aku kangen Rosti di sana,' tulis Jun. Sesaat sebelum mengirimnya Juno menarik nafas panjang dan mengklik tombol kirim.
Ia pun segera bangkit dari posisinya dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya lagi.
***
Di sisi lain. Ada Amora yang tengah membaca pesan Juno. Ia tak percaya akhirnya Juno membalas pesannya. Ia menutup mulutnya tidak percaya dan matanya tiba-tiba meneteskan air mata haru.
Ia buru-buru membalas pesan tersebut.
'Kamu mau kemana? Apa kamu akan ke Swiss? Boleh aku kesana juga?' Amora.
Terkirim, Amora tersenyum seraya mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit itu, karena sekarang ia tengah mengandung 7 bulan.
Ia melirik handphone nya lagi, masih belum terbaca. Sudah lah, ia cukup senang Juno mau membalas pesannya, mungkin dia masih butuh sedikit waktu lagi. Yang jelas saat ini Juno baik-baik saja di sana. Itu sudah cukup bagi Amora, dia sudah puas dengan itu.
***
Dua orang yang saling mencintai tengah berjuang untuk cinta mereka. Amora berjuang mendapatkan kembali cintanya, Juno berusaha menemukan serpihan cinta nya kembali agar tetap utuh. Mungkin mereka berdua butuh sedikit waktu lagi untuk bisa bersama kembali. Kesabaran dan keyakinan Amora. Ketulusan dan ke jujuran Juno. Dua pengikat yang kuat untuk cinta mereka, untuk saling menjaga perasaan satu sama lain agar tetap utuh di hati mereka.
BERSAMBUNG...
__ADS_1