
Juno ternyata tengah berada di kota kelahiran Sinta. Dia sengaja ke sana untuk menemui Sinta. Sebelum ke sana, Juno sempat ke suatu tempat. Dia ingin memberi Sinta sesuatu.
Juno menelpon Sinta dan mengajaknya bertemu di suatu tempat. Tepatnya di sebuah kafe yang tidak jauh dari hotel tempat ia menginap. Ia menunggu Sinta di sana. Tidak lama tampak Sinta datang bersama seorang laki-laki gagah yang berperawakan tegap dan tinggi. Dialah suami Sinta.
Juno tersenyum melihat kedatangan keduanya yang juga tak kalah antusiasnya terutama Sinta yang langsung memeluk Juno erat, karena sudah tau siapa Juno hingga suami Sinta tidak mempermasalahkan sikap Sinta tersebut.
"Hmmmm... Jun. Kenapa nih tiba-tiba datang? Amora mana?" tanya Sinta saat mereka sudah duduk.
"Aku kesini sendirian. Aku mau nyampein sesuatu ke kamu sebelum aku pergi lagi nanti." Juno menatap Sinta dan suaminya bergantian.
"Aku beliin kalian rumah dan mobil. Selama seminggu di sini aku urus semua buat kalian berdua. Aku mohon jangan di tolak karena ini memang sudah jadi niatan aku sedari dulu kalau kamu nikah, Sint. Aku beli itu juga anggap sebagai cara aku bagi warisan nenek buat kamu juga sebagai cucu nenek dan orang yang sudah rawat nenek selama ini. Jadi, aku mohon jangan di tolak, ya," pinta Juno.
"Tapi, Jun ... " tutur Sinta terputus karena segera di bantah oleh Juno.
"Kan udah aku bilang, jangan ngebantah, Sint. Nenek sudah meninggal dan dia ninggalin banyak tabungan buat aku, karena selama ini semua uang di simpan sama nenek. Jadi, aku pikir kamu yang selama ini jagain nenek dengan tulus juga berhak mendapatkannya."
"Ikut aku kita ke sana sekarang." Lanjut Juno lagi.
Sinta dan suaminya yang masih bingung hanya bisa diam mengikuti Juno hingga mereka sampai di sebuah parkiran. Juno melempar kunci mobil pada suami Sinta.
"Kamu yang stir, ini BPKB sama STNK-nya." Juno melempar nya secara bersamaan.
Fajar Suami Sinta hanya bisa bengong. Dia menelan salivanya yang terasa mimpi baginya. Juno menyerahkan mobil yang cukup mewah baginya, mobil putih dengan kisaran harga 500 jutaan itu terasa sangat sulit ia terima karena ini bukan lah hadiah yang murah baginya. Dia menatap Sinta, Sinta hanya tersenyum seraya mengedikkan bahunya.
"Kamu bisa nyetirkan?" tanya Juno pada Fajar yang masih bengong.
"Bi-bisa ... Bisa mas," ujarnya terbata-bata. Juno pun tersenyum begitu pula Sinta.
***
Mereka menuju ke suatu tempat dengan arahan Juno. Mereka ke suatu tempat di daerah perumahan elite di kota kecil tersebut. Hingga sampai lah mereka di sebuah rumah yang terlihat bersih dan cukup mewah dengan lantai 2. Mereka segera memarkirkan mobilnya. Juno mengajak pasangan suami istri itu untuk masuk.
__ADS_1
"Aku sengaja pilih perumahan yang sudah jadi agar kalian bisa langsung punya tetangga jadi nggak sepi," terang Juno. "Mungkin sederhana tapi aku beli sekaligus udah aku belikan juga perabotannya biar kalian nggak repot isi perabotannya lagi," tambah Juno.
Fajar dan Sinta masih merasa ini mimpi. Juno memberikan semua pada mereka dalam bentuk yang sangat fantastis. Terutama bagi Sinta, ini merupakan hal yang sulit ia terima. Tapi, kelihatannya Juno sangat tulus memberikan semua ini. Dia tidak mungkin bisa menolaknya.
Sinta dan Fajar menyusuri tiap ruangan dengan kagum. Ini rumah yang cukup besar dan mewah untuk mereka yang tinggal di kota kecil apalagi pengantin baru seperti mereka yang masih berdua saja. Walau bagi Juno yang biasa tinggal di rumah besar ini terlalu sederhana.
Setelah selesai Juno, Sinta dan Fajar duduk di sebuah sofa.
"Ini semua untuk kamu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan kalian," tutur Juno.
"Jun, ini terlalu berlebihan. Aku nggak bisa terima. Aku tau kamu punya cukup uang untuk beli ini semua, tapi tetap aja ini berlebihan, Jun." Tolak Sinta halus dan Mera tidak enak menerimanya.
"Tidak Sinta. Karena kamu juga cucu nenek. Kamu juga berhak atas semua ini. Kalau kamu menolaknya itu artinya kamu tidak menganggap hubungan kita selama ini," ucap Juno bersikeras.
Sinta tak bisa menolak lagi. Akhirnya dengan ragu Sinta menerima kunci rumah dan mobil tersebut.
"Nanti surat-surat rumahnya kita urus. Dan mobilnya juga kamu bisa alih nama nanti atas nama kamu." Juno menyerahkan semuanya.
Sinta dengan ragu tampak ingin menyampaikan sesuatu.
"Amora nanyain kamu kemaren. Kamu ... Pergi nggak ngomong sama dia, ya? Kamu ... Kamu kemana, Jun?" tanya Sinta ragu.
"Nggak apa-apa. Nanti aku telpon dia, mungkin bukan sekarang." Juno dengan seutas senyum. "Udah, jangan di pikirin. Nggak ada apa-apa, kok," tutur Juno meyakinkan lagi.
"Jun, pulang lah kalau kamu sudah membaik," nasehat Sinta khawatir. "Jangan lakukan sesuatu yang konyol yang bisa bikin Amora sedih. Karena dia sedang hamil, itu tidak baik buat kehamilannya."
"Tidak. Kamu percaya sama aku," Juno sekali lagi meyakinkan.
"Jangan kasih tau aku kesini. Aku nggak mau dia nyusul aku kesini."
Sinta menatap Juno, entah kenapa dia merasa Juno tengah terluka dan butuh seseorang. Akan tetapi yang ia lakukan malah menjauhi semua orang. Dia seolah ingin di dekap hangat seseorang untuk menenangkan gemuruh dan gelisah hatinya. Sinta menyentuh tangan Juno pelan membuat Juno menoleh padanya, dan ia kembali tersenyum.
"Aku nggak apa-apa. Aku akan pulang nanti. Kamu jangan khawatir." Juno tahu apa yang Sinta pikirkan saat ini. Sinta mengangguk pelan.
__ADS_1
Setelah mereka mengobrol sebentar Juno pun kembali ke hotelnya. Dia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang hotel. Matanya kembali menatap kosong ke loteng kamar. Dia seperti tengah berpikir dan merenung.
***
Di sisi lain Amora yang terus merindukan Juno hanya bisa memeluk baju yang sempat Juno kenakan sebelum pergi dan belum di cuci. Masih ada bau tubuh Juno di pakaian itu yang membuat Amora terus memeluknya dan menciumnya. Itu sedikit bisa mengurangi rasa rindu Amora kepada suaminya itu.
"Aku akan tunggu kamu sampai kamu pulang, Jun. Aku percaya sama kamu. Kamu akan pulang jika sudah waktunya nanti." Hibur Amora untuk dirinya sendiri. Dia mulai bisa tenang dan mencoba memahami perasaan Juno. Dia akan menjaga kandungannya dengan baik meski dengan atau tanpa Juno dia akan tetap merawatnya dengan baik, karena ini adalah bagian terpenting dari pernikahannya bersama Juno saat ini.
***
Setelah selesai dengan urusannya bersama Sinta, Juno segera bertolak ke Singapura untuk menemui dokter ihkwar, dokter spesialis jantung yang selalu membantunya merawat nenek saat ia masih di Indonesia dulu.
Juno mengajak beliau bertemu di suatu tempat, tepatnya di sebuah kafe yang bernuansa outdoor di pinggir jalan. Juno menunggunya seraya menikmati segelas minumannya.
Dari kejauhan Juno melihat kedatangannya. Juno tersenyum saat melihat kedatangan dokter jenaka itu. Di terkekeh seraya duduk di hadapan Juno.
"Apa kabar kamu? Setahun kita nggak ketemu kamu kurusan saja? Apa istri kamu masih galak?" candanya dengan tawa khasnya. Juno tertawa kecil mendengar candaannya.
"Sekarang sudah lumayan jinak, dok. Dia lagi hamil sekarang," terang Juno. Si dokter makin keras tawanya mendengar berita gembira itu.
"Hahahah... Sukses ya, kamu. Kirain nggak akan berhasil," candanya lagi, Juno pun ikut tertawa mendengarnya.
Mereka terus mengobrol hingga senja menjelang. Mengobrol dengan dokter ikhwar memang sangat menghibur. Gaya santai dan lucunya yang berwawasan luas membuat lawan bicaranya nyaman. Juno pun merasakan hal yang sama.
"Nenek bagaimana?" tanya nya yang seketika membuat Juno yang tadinya ceria menjadi kembali murung.
"Nenek ... Sudah nggak ada, dok," lirih Juno yang sekita juga membuat raut wajah dokter ikhwar berubah. Dia menepuk pundak Juno pelan seolah mengerti kesedihan Juno.
"Dia sudah bertahan sedemikian kuat, kamu harus bisa ikhlas jika akhirnya nenek menyerah dengan sakitnya. Kasihan dia kalau harus terus menanggung sakitnya, kan," hibur sang dokter memberi pengertian pada Juno, Juno tersenyum tipis dengan wajah tertunduk dan tersenyum miris.
"Ada saatnya kita melepaskan orang yang kita cintai. Karena itu cara kita mencintainya tanpa keegoisan. Jangan salahkan siapapun, tidak ada yang salah, dia hanya butuh alasan, Jun. Jadi, berhenti menyalahkan diri kamu ataupun orang lain buat kepergian nenek kamu." sambung dokter ikhwar lagi.
Mungkin dokter ikhwar benar, Juno terlalu menyalahkan orang lain dan dirinya atas kepergian neneknya. Mungkin ini memang yang terbaik untuk neneknya, atau malah ini lah yang membuat neneknya bisa tenang, dengan cara begini nenek bisa tidak merasakan sakitnya lagi dan Juno masih bisa melanjutkan hidupnya walau mungkin tanpa keluarga kandung lagi.
__ADS_1
Selama ini Juno selalu ketakutan di tinggal pergi tanpa salam perpisahan, dia selalu merasa itu adalah momen paling menakutkan. Saat nenek pergi tanpa sempat ia mengucapkan salam perpisahannya membuat dia merasa kejadian kematian orang tuanya dan saudaranya kembali terulang lagi. Dia selalu hidup di hantui rasa tak ingin di tinggal sendirian.
BERSAMBUNG...