
Amora keluar ruang rawat Raya. Dia berjalan dengan tatapan hampa di sepanjang lorong rumah sakit tersebut. Dia kembali mengingat bagaimana ceria nya Raya saat masih sehat dulu. Dia juga sangat pintar, mereka sering menghabiskan waktu bersama dan Horner pun juga ikut bersama mereka. Mereka berjalan-jalan tiap weekend, mereka sering menghabiskan waktu bertiga.
Walau Amora harus melakukannya sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan ayahnya, karena ayah nya tidak pernah menyetujui hubungan Amora dan Horner. Beliau sudah lama menjodohkan Amora dan Juno. Hingga akhirnya Amora benar-benar tidak bisa menolak keinginan ayahnya tersebut. Dia menikah dengan Juno walau dalam keadaan terpaksa.
Pikiran Amora terus larut ke masa lalunya. Betapa ingin ia mengulang waktu itu lagi. Ia akan lindungi Raya dari ibunya saat itu, seandainya ia tahu lebih cepat saat Rasti mencelakai Raya. Saat itu Rasti kesal karena Raya bersikeras ingin bersama Amora dan mulai menolak Rasti sebagai ibu kandungnya. Saat itu lah Rasti dengan tega mencelakai Raya hingga terjatuh dari tangga dan mengakibatkan anak itu geger otak.
Amora menyeka air matanya. Dan menghentikan langkahnya. Ia tersandar ke dinding putih rumah sakit di lorong itu. Ia memejamkan matanya sesaat.
Tapi tiba-tiba seseorang menyentuh bahu Amora, membuat Amora kaget dan spontan membuka matanya. Ia melihat Horner tengah berdiri di sampingnya seraya menyentuh bahunya.
"Horner," gumam Amora. Ingin rasanya ia memeluk lelaki ini, tapi ia harus menahan dirinya. Ia sadar akan posisinya saat ini, dia buka siapa-siapa lagi bagi Horner.
"Kamu kenapa?" tanya Horner. Amora menggeleng pelan. Ayo duduk di taman dekat sini," ajaknya lalu berlalu begitu saja. Amora tidak menjawab, ia langsung mengikuti langkah Horner dari belakang.
***
__ADS_1
Mereka sampai di sebuah bangku panjang di taman dekat rumah sakit tersebut. Seperti rest area yang bisa di gunakan pasien untuk jalan-jalan atau bagi pengunjung yang datang berkunjung namun cukup sepi di jam segini.
"Dia mencelakai Raya hingga seperti itu. Tapi kenapa kau masih mau menerimanya? Dia hampir membunuh Raya karena egonya. Tapi kenapa kamu malah ingin bersamanya. Dia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua. Dia terlalu menakutkan bagi Raya," tutur Amora yang terdengar emosional.
"Awal nya aku pikir juga begitu. Aku marah dan membencinya. Anakku hampir celaka karena dia. Tapi aku kembali berpikir, saat itu mungkin kita semua juga bersalah. Kita bertiga begitu akrab dan melupakan dia sebagai bagian dari Raya juga. Ibu mertuaku bilang, bagaimana Raya saat itu selalu mengacuhkan ibunya dan selalu meminta kita untuk bersama, jalan-jalan dan menikmati waktu layaknya keluarga bahagia. Itu tidak salah, yang salah adalah saat aku lupa mengingatkan Raya untuk bersama ibunya juga. Sesuatu yang wajar jika Rasti cemburu, dan mulai melarang Raya bersama kita. Saat itu kita juga bersikap berlebihan, kita malah membuat seolah Rasti tak punya hak atas Raya lagi. Itu membuat Rasti sangat terluka. Dia bercerita bagaimana dulu ia mengandung Raya sendirian tanpa aku punya cukup waktu merawatnya karena aku sibuk dengan bisnisku. Rasti sendirian saat itu, saat aku mulai mapan, aku mulai memandang Rasti sebelah mata. Aku seolah melupakan apa yang Rasti korbankan untukku selama ini. Saat aku salahkan semua pada Resti atas kecelakaan itu, Resti diam tak bersuara. Dia merawat Raya tanpa banyak bicara lagi, dia terus merawat Raya. Resti tidak ambisius, dia hanya tengah ingin mempertahankan apa yang seharusnya juga menjadi miliknya. Saat itu aku sadar, Resti berhak atas segalanya. Aku meninggalkan dia saat aku punya segalanya dan ingin merebut Raya yang selalu ia rawat penuh cinta. Itu memang tidak adil untuknya. Saat Raya kembali dekat dengannya, Raya membuat keputusan ingin bersama ibunya dan jika aku ingin bersamanya aku harus bersama Resti ibu kandungnya. Mungkin Raya benar, aku tidak boleh meninggalkan Resti, aku harus memberi Resti kesempatan seperti dulu ia selalu memberi aku kesempatan untuk sukses dengan menanggung semua dan berkorban untuk kesuksesan ku saat ini. Maaf Amora, mungkin kita benar-benar harus berpisah. Aku tidak bisa melepaskan mereka berdua. Aku butuh mereka untuk bisa sampai pada tahap ini. Dan aku juga butuh mereka untuk mempertahankan ini," ujar Horner panjang lebar. Amora terdiam tak mampu berkata-kata lagi.
"Aku tidak mencintai dia. Aku selalu melakukan hubungan itu dengannya dengan terpaksa karena aku selalu merindukan mu, aku tidak bisa menerima dia di hidupku," tutur Amora berlinang air mata.
"Aku lihat dia laki-laki baik dan sabar. Kau tidak mencintainya bukan karena dia buruk atau aku, tapi kau yang tidak mau memberikan dia kesempatan untuk kau lihat Amora. Beri dia kesempatan, coba berbahagia bersamanya," nasehat Horner bijak.
***
Saat Amora berjalan dan berbalik. Dia melihat Juno tengah berdiri tepat di hadapan Amora dan tengah menatap Amora dengan tatapan penuh arti. Juno segera menghampiri Amora, dia berjalan perlahan. Menatap Amora tanpa bisa berkata-kata lagi. Dia memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Sangat menyakitkan bagi Juno melihat kenyataan jika Amora mengkhianatinya begini.
"Apa kau tidak bisa menghentikan ini Amora? Apa kau pikir aku tidak punya perasaan? Kenapa kau terus menguji batas sabarku, Amora? Kenapa?" tutur Juno tajam dan penuh amarah. Sontak membuat air mata Amora menetes tak tertahan melihat kemarahan Juno dengan matanya yang merah dan nafas yang tampak tak beraturan. Entah kenapa Amora mulai merasa takut dengan kemarahan yang untuk pertama kalinya ia lihat dari Juno.
__ADS_1
"Kau mengemis cinta dari seseorang. DI SAAT AKU BERJUANG MATI-MATIAN MEMPERTAHANKAN KAMU, AMORA!" Pekik Juno yang seketika membuat Amora tercekat di hadapan Juno dengan air mata yang berderai membasahi wajahnya. Horner terdiam tak dapat berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin ikut campur karena Amora dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Juno berhak marah atas apa yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan Juno. Hal yang wajar jika Juno marah. Tapi menyaksikan Amora di bentak hingga menangis ada rasa tak tega dari Horner, saat dia akan melangkah mendekati Amora, tiba-tiba seseorang memegang lengannya.
Rasti menggeleng melarang Horner dan segera membawanya untuk menjauh. Agar Juno dan Amora bisa menyelesaikan semuanya berdua.
Sesaat seolah kesadaran Juno kembali. Dia mengusap wajahnya kasar seraya menarik rambutnya kebelakang. Mencoba menguasai amarahnya. Dia menarik nafas panjang. Dia benar-benar lelah kali ini. Dia bukan hanya kehabisan kesabaran, tapi sudah tidak punya kekuatan lagi dengan sikap Amora. Baru semalam ia merasa istrinya benar-benar menjadi istrinya yang sesungguhnya, hari ini ternyata ia berulah lagi.
"Terserah. Aku menyerah," tutur Juno lagi yang tak menggubris tangis Amora dan meninggalkan dia yang masih terduduk dan menangis. Ada Sinta yang melihat kejadian itu dari kejauhan. Dia sedikit kasihan dengan keadaan keduanya.
Juno berbalik dan bersiap akan pergi, tapi langkah nya terhenti saat Amora mulai bersuara.
"Aku tidak pernah memaksa mu untuk mencintaiku. Bahkan aku tidak pernah memberikan mu harapan apapun. Dari awal kamu tahu siapa yang aku cintai, kan," Isak Amora mulai mencoba untuk melawan.
"Iya, aku yang tidak tau diri," ujar Juno datar tanpa menoleh sekaligus membuat Amora tercekat mendengarnya. Dia menatap Juno yang berjalan menjauh tanpa menoleh lagi padanya, meninggalkan Amora yang masih terisak.
BERSAMBUNG...
__ADS_1