Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Disudutkan Oleh Keadaan


__ADS_3

Juno masih di meja makannya. Dia hanya melirik sekilas kepergian mertuanya. Rasa kesal Juno atas tindakan ibu mertuanya itu masih sangat terasa. Entah apa salahnya dia selama ini hingga ibu mertuanya itu selalu saja mencari-cari kesalahannya dan terlihat sangat tidak menyukainya. Dia selalu mentolerir sikap Dona selama ini karena itu hanya menyangkut dirinya. Tapi, saat Dona menghardik neneknya itu membuat Juno hilang respeknya.


Juno lama-lama merasa selera makannya ikut hilang. Juno segera mengakhiri makan malamnya sebelum sempat ia habiskan semua. Ia kembali ke kamar dan menemui Amora yang tengah berbaring. Ia ikut berbaring di samping Amora dan memeluk istrinya itu.


"Sudah selesai makan malamnya?" tanya Amora yang ternyata belum tidur.


"Hmmm...," gumam Juno singkat.


"Kenapa?" tanya Amora lagi.


"Nggak ada," jawab Juno singkat lagi.


Sesaat handphone Juno kembali berdering. Ia pun segera mengangkatnya, ternyata itu dari Darsih.


"Ia, Mbok," jawab Juno.


"Den, nenek ndak enak badan," adu Darsih yang langsung menceritakan keadaan neneknya.


Juno pun segera bangkit dan buru-buru menuju ketempat neneknya. Amora yang tidak mendapatkan penjelasan hanya terdiam melihat kepergian Juno tanpa mengatakan apa-apa itu. Dia hanya bisa menebak mungkin terjadi sesuatu pada nenek Juno tanpa tau apa itu.


Saat Juno keluar kamar Dona melihat Juno yang tengah berjalan dengan separuh berlari itu. Dia melihat terjadi sesuatu pada Juno. Ia pun menghampiri Amora ke kamarnya.


"Sayang, Juno kenapa?" tanya ibunya.


"Nggak tau, Mah. Mungkin terjadi sesuatu sama nenek," jawab Amora sekenanya. Dia masih terlihat pucat dan lemas.


"Sayang, kamu kok makin pucat?" seru Dona mendekat ke arah Amora.


"Mah, aku mual terus. Apa yang aku makan keluar semua," adu Amora.


"Terus gimana? Kamu mau di rawat saja? Kan nggak bisa kayak gini terus-terusan. Kamu bisa drop," ucap Dona khawatir.

__ADS_1


"Lihat sampai besok saja, Nyonya. Ini kan sudah larut juga," Nasehat Ros. Dona mengangguk setuju.


***


Sementara di tempat neneknya Juno melihat keadaan neneknya yang juga tengah drop. Beliau hanya terbaring tak berdaya di ranjangnya dengan Keira di sampingnya.


"Gimana, Kei?" tanya Juno yang baru datang dan dengan nada separuh berbisik karena nenek yang tampak baru tertidur itu.


"Tadi dia nanyain kamu terus, keadaan nenek juga nggak stabil. Aku ajak rawat di rumah sakit aja nenek nolak. Katanya dia masih kuat. Kayaknya beliau makin hari makin lemah, Jun. Ini nggak bagus buat kesehatannya," ujar Keira. Juno hanya terdiam di samping neneknya. Dia mengelus tangan neneknya lembut. Dia tau neneknya tidak ingin dia khawatir karena itu dia selalu berusaha terlihat kuat walau sudah sangat ringkih.


"Yaudah, aku nginap di sini aja, Kei," jawab Juno.


"Amora gimana? Dia kan juga lagi sakit, kan?" tanya Keira pada keadaan Amora.


"Di rumah sudah ada Mama sama yang lain. Biar dia di jagain mereka saja dulu. Kalo Nenek sendirian di sini. Aku takut terjadi sesuatu nanti," ujar Juno yang terlihat sangat khawatir.


"Jun, aura kamu sekarang beda, ya? Semenjak istri kamu hamil ini jadi keliatan beda gitu," tutur Keira menjabarkannya dengan gerakan tangannya, Juno mengernyitkan keningnya dengan expresi bingung.


"Nggak tau, beda aja, susah jelasinnya" tutur Keira lagi. "Eh, kamu jangan pergi dulu, ya. Aku takut terjadi sesuatu sama nenek. Sebab dia kayak nggak membaik. Kalo bisa nenek mending di rawat aja deh," saran Keira.


***


Di sisi lain karena memang keadaan Amora yang sudah tampak semakin lemah karena paginya dia tetap mual dan semakin parah. Akhirnya dia pun harus di rawat. Dona tampak terus berusaha menelpon Juno. Sedangkan Amora tampak tenang di ranjang dengan wajah pucatnya. Dia paham, Juno pasti tengah sibuk dengan neneknya saat ini.


Setelah selesai di tangani dokter keluarganya Dona pun kembali masuk ke kamar Amora menemui Amora.


"Udah, Mah. Biar Juno nemenin nenek aja dulu. Aku nggak apa-apa," tutur Amora dengan seulas senyum. "Yang penting aku nggak apa-apa, jangan ganggu Juno dulu, Mah," nasehat Amora lagi.


"Tapi, sayang. Dia harus tau juga, kamu itu juga sakit, bukan neneknya saja yang sakit," tutur Dona agak tidak suka melihat Amora membiarkan Juno mengacuhkannya.


"Iya, nanti aja. Kan dia juga lagi urus neneknya dulu. Juno itu juga lagi kesel sama Mama, sebab kelakuan Mama makanya neneknya jadi sakit itu. Mending biarin aja dia dulu sama nenek. Juno itu kalo lagi kesel di gangguin terus bisa ngamuk dia, Mah." Dona pun tidak bisa melakukan apapun lagi. Dia hanya bisa diam.

__ADS_1


'Anak itu kelihatannya memang lebih menyayangi neneknya dari pada Amora dan calon anaknya,' batin Dona kesal.


Hingga beberapa jam menunggu Juno masih tidak kunjung datang juga. Dona mulai tidak sabar. Ia keluar dari kamar Amora dan menelpon Juno.


"Kamu lagi dimana? Amora kayaknya memang harus di rawat, dia muntahnya nggak berhenti-henti dari semalam. Sekarang ke sini kamu, jangan kayak laki-laki nggak peduli saja sama istri yang lagi hamil. Dia itu hamil anak kamu, bisa kan kamu lebih perhatian ke dia," ujar Dona kesal, belum sempat Juno menjawab apapun Dona sudah mematikan sambungan telponnya.


"Ini anak kalo soal neneknya paling cepet dia, kayak istrinya nggak penting aja," rutuk Dona kesal sendiri.


***


Juno tengah berada di samping Keira saat Dona menelponnya. Mereka duduk santai karena barusan nenek Juno baru saja tidur.


"Udah, Jun. Temuin aja Amora. Disini kan nenek sama aku, nanti kalo ada apa-apa biar aku telpon kamu," ujar Keira menenangkan.


"Nggak apa-apa. Amora itu ada mamanya di sana, juga ada Papa nanti juga pulang. Mending kita fokus sama nenek dulu. Aku rasa nenek lebih membutuhkan perhatian kita sekarang." ujar Juno santai.


"Nenek kayak gini juga gara-gara habis ribut sama Mama tempo hari. Jengah rasanya, kalo aku yang digituin aku sabar dan bisa cuek, tapi kalo nenek juga berani Mama gituan, bagi aku itu udah keterlaluan. Capek lama-lama jadinya," keluh Juno.


Keira tampak diam mendengarkan.


"Kamu itu di sukai banyak perempuan dulu, tapi masih aja maunya sama Amora yang manja gitu. Sekarang itu udah jadi resiko kamu juga yang harus ngertiin sifat dia, kan kamu sendiri tau dia emang kayak gitu dari dulu." Keira masih menatap Juno dengan tatapan datar. Juno menatap Keira dengan tatapan datar juga.


"Termasuk mertua kamu itu," sambungnya lagi santai.


"Kamu ngomong kayak nggak ada nyawanya," komentar Juno.


***


Di rumah Dona sudah mulai hilang kesabarannya.


"Sudah, bawa saja Amora ke rumah sakit sekarang. Panggil supir buat siap-siap," perintah Dona, Ros pun segera bergerak melaksanakan perintah majikannya itu. Dia segera keluar kamar tersebut dengan Amora yang masih terbaring lemas dan Dona yang semakin khawatir.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2