
Selesai berbicara dengan nenek Juno. Amora duduk di kamar Juno. Dia tengah merenung memikirkan tentang semua yang di katakan nenek Juno. Apa dia memang terlalu kasar pada Juno selama ini? Tapi kan semua selalu karena Juno yang memulainya. Dia terus memikirkannya seraya terbaring di ranjangnya dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
Tiba-tiba dia mulai merasa bosan hanya di rumah saja seharian ini. Amora melirik jamnya, sudah jam 12 siang.
"Biasanya dia makan siang jam segini. Apa aku liat aja dia kesana, ya?" tutur Amora lagi.
Amora pun meminta izin kepada nenek Juno untuk kerumah sakit.
Sesampainya rumah sakit Juno langsung mengambil handphone nya bersiap akan menelpon Juno. Tapi dia segera menghentikan itu. Dia melihat ada Horner yang tengah mengantri di apotik rumah sakit. Amora menunggu beberapa saat hingga akhirnya dia mendapat kesempatan.
"Horner tunggu," panggil Amora. Horner pun menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke sumber suara. Tampak Amora dengan anggunnya melangkah mendekati Horner.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Amora. Horner tampak bingung antara setuju atau menolak. Tapi mungkin memang ada hal penting yang ingin Amora sampaikan. Horner pun mengangguk pelan tanda setuju walau masih tampak ragu.
***
Sesaat mereka sampai pada sebuah bangku di rumah sakit tersebut.
"Apa hanya aku yang tidak bisa melupakan kamu Horner," lirih Amora. Horner menatap Amora dalam.
__ADS_1
"Ada baiknya kita menjaga jarak, bukan karena kita sudah atau belum saling melupakan, tapi ... Nanti kita akan melukai orang lain lagi seperti dulu," ujar Horner bijak.
"Aku tidak bisa melupakanmu," lirih Amora lagi seraya menggenggam tangan Horner yang membuat Horner terpaku.
Tiba-tiba seseorang datang.
"Horner! Raya mencarimu," seru Rasti mantan istri Horner. Horner dan Amora pun sontak menoleh ke sumber suara, secara reflek Horner menarik tangannya dari genggaman Amora. Dia menatap Amora dengan tajam, jelas ia terlihat tak menyukai ini. Amora pun balik menatapnya tajam. Sedangkan Horner segera bangkit dan meninggalkan Amora membawa Rasti menjauh.
***
Rasti terus di seret Horner hingga sampai pada sebuah lorong sepi di rumah sakit itu. Rasti tiba-tiba menghentikan langkahnya dan melepaskan tangannya dari tarikan Horner dengan agak menyentak membuat Horner menoleh ke belakang menatap Rasti yang entah sejak kapan ia menangis.
"Aku yang menemani mu saat kau tak memiliki apapun ... aku Horner. Aku yang selalu di samping kamu. Namamu aku sebut dalam doaku yang tulus. Apa berlebihan sekarang jika aku memintamu untuk tidak meninggalkan aku dan Raya? Apa berlebihan jika aku memintamu untuk tak bersamanya? Dulu kau melamarku saat kau bukan siapa-siapa, aku menerima mu karna kita saling mencintai. Kenapa sekarang berubah? Kenapa begitu mudah dia menggantikan aku, seolah aku tak pernah kau tidak cintai. Bahkan saat dia sudah menikah pun dia masih memintamu, Mas," isak Rasti emosional. Horner langsung mendekap Rasti ke pelukannya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu dan Raya. Percayalah. Kami hanya butuh waktu untuk menyelesaikan apa yang sudah kami mulai, terutama Amora. Dia saat ini tengah gamang dengan perasaannya, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan semua dengannya. Dia juga butuh waktu untuk melepaskan semua, aku harap kamu cukup bijak menanggapinya Rasti. Percayalah. Aku tidak akan bersamanya lagi," ucap Horner kali ini menatap Rasti dalam seraya menangkup wajah wanita itu untuk meyakinkan.
"Aku juga mencintaimu dan Raya. Aku juga menyesali atas semua yang terjadi." Rasti memejamkan matanya dengan tetesan air mata yang tak kunjung berhenti membasahi wajahnya. Horner pun kembali membawa mantan istrinya itu ke pelukannya dan Rasti menumpahkan segalanya sesaat di pelukan Horner, pelukan ternyaman yang selama ini sempat hilang darinya karena ego dan kesalahan yang ia perbuat dalam mempertahankan cintanya.
***
Tanpa Amora sadari Sinta melihat semuanya dari kejauhan. Dia masih menatap Amora yang masih terpaku di bangkunya sendirian dengan tatapan kosong. Sesaat dia melihat Amora segera beranjak dari posisinya bersiap akan pergi.
__ADS_1
"Kau tidak pantas untuk Juno!" seru Sinta penuh api amarah di matanya. Ia segera menghampiri Amora.
"Sinta?!" seru Amora kaget bercampur bingung, ia mengernyitkan keningnya masih tidak paham atas pernyataan Sinta barusan.
"Bisa-bisanya kamu nemuin laki-laki lain di tempat suami kamu bekerja. Berani sekali kamu," hardik Sinta geram. Amora pun paham sekarang, Sinta sudah melihat semua yang terjadi tadi.
"Nggak usah ikut campur. Ini bukan urusan kamu," hardik Amora balik.
Sinta tersenyum sinis menatap Amora. Dia berjalan perlahan mendekati Amora dengan kedua tangannya di saku bajunya. Amora sempat kaget dengan tatapan Sinta padanya, tapi dia bersikap seolah tidak terpengaruh.
"Jika kamu sia-siakan dia, aku pastikan aku orang yang paling depan yang akan memungutnya darimu. Aku mengalah selama ini karena kamu adalah pilihannya, tapi jika kamu sakiti dia. Akan aku rebut dia," ujar Sinta tajam. Membuat Amora tercekat dan menatap Sinta dalam. Sinta terlihat sangat menakutkan saat ini.
"Sinta!" panggil seorang dokter dari kejauhan secara tiba-tiba.
Sinta menoleh ke sumber suara.
"Iya, Dok," jawab Sinta seketika berubah jadi manis kembali saat menatap dokter yang memanggilnya. Tapi kembali tajam saat menatap Amora sebelum ia pergi. Amora menatap langkah Sinta yang menjauh mengikuti si dokter yang tadi memanggilnya.
"Berani sekali dia!" ujar Amora dengan tatapan kesal.
BERSAMBUNG....
__ADS_1