Menikahi Nona Muda Galak

Menikahi Nona Muda Galak
Di Kaki Gunung Alpen


__ADS_3

Hari itu Juno berkeliling di sekitar penginapannya, dia kembali mengunjungi Istal kuda yang dulu pernah ia kunjungi. Dia melihat kuda yang pernah ia tunggangi dulu. Juno tersenyum melihatnya dan mendekatinya untuk menyapa kuda itu yang langsung meringkik seolah menyapa mengingat sosok Juno. Dia ingin mengulang kejadian 2 tahun lalu lagi di sini. Ia pun kembali menyewa kuda itu dan menungganginya untuk berkeliling di sekitar sana seperti dulu sebentar saja.



Saat tengah memilih kudanya Juno melihat dari kejauhan seseorang yang menghampirinya dengan senyum sumringah. Pelan-pelan Juno mengingat sosok itu. Dia adalah David sosok yang sangat penting, orang yang pernah menolongnya dan Amora dulu. Juno menyambutnya dengan memberi salam dan pelukan.


"Apa kabar, mas?" sapanya ramah saat ia menghampiri Juno, lelaki berkacamata tebal dan berperawakan lebih kecil dari Juno ini memang sosok yang ramah dan supel.


"Baik. Kamu?" tanya Juno balik.


"Baik juga, Mas. Eh istrinya mana, mas?" tanya David.


"Dia nggak ikut, saya sendirian kesini. Mungkin akan nyusul belakangan. Kamu di sini terus kayaknya, apa kamu tinggal di sini sekqrang?" tanya Juno.


"Nggak, saya itu emang sering kesini kan ada saudara juga, jadi memang kalo mau natal saya ke sini buat rayain sama keluarga. Dia kebetulan nikah sama orang sini juga, Mas," terangnya.


Mereka pun mengobrol cukup akrab hari itu sambil berkuda. David bercerita banyak hal tentang kota kecil ini dan juga tentang keluarganya. Juno mendengarkannya dengan seksama.


Tiba-tiba Juno teringat akan insiden dia dan Amora hari itu. Dia mulai penasaran dengan apa yang terjadi saat itu.


"Oya, kamu masih ingat nggak kejadian waktu aku luka itu. Apa semua orang ke kamar kami hari itu?" tanya Juno penuh selidik dan Penasaran.


"Nggak, cuman saya. Itu pun di izinin waktu istri mas udah pasangin pakaian, Mas. Dia nggak izinin orang masuk kecuali saya. Dia ketakutan banget hari itu. Dia nangis dan terus kelihatan khawatir. Dia nggak mau makan sampe mas bangun baru dia mau makan," terang David membuat Juno tersenyum.


Dia ingat saat itu Amora memprovokasinya dengan mengatakan dia mengundang banyak orang ke kamar dan mempertontonkan Juno yang tanpa busana.


"Pembohong!" bisik Juno tanpa David sadari dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Kayaknya salju bentar lagi turun, Mas. Itu di gunung udah mulai keliatan mulai tebal. Pasti dingin banget malam ini," tutur David seraya mempererat jaketnya ke tubuh. Juno hanya tersenyum. Ia ingat waktu itu dia kesini juga ketika musim salju baru menjelang. Saat itulah dia memulai kehidupan pernikahannya yang sesungguhnya bersama Amora. Juno kembali mengenang kejadian itu, rasanya masih baru kemarin terjadi dan hari ini malah ia kembali ke tempat yang sama di momen yang hampir mirip.


Ah, mungkin tuhan sengaja lakukan ini agar dia bisa mengingat Amora kembali. Mengingat bagaimana dulu dia dengan sabar dan yakin untuk tetap bersama Amora dan menjalani rumah tangganya walau Amora menolak keras dirinya saat itu.


Tidak, perasaannya masih sama untuk Amora. Kemarin mungkin dia hanya butuh waktu untuk menetralisir keadaan hatinya yang sedang kacau saja.


***


Di sisi lain. Amora segera menemui ayah dan ibunya di teras belakang. Tepat saat ayah dan ibunya tengah bercengkrama mengobrol berdua.


"Mah, Pah. Semalam Juno nelpon aku. Dia bilang dia kangen dan ingin pulang. Tapi, aku pengen nyusul dia ke sana, Pah. Aku pengen ketempat itu lagi sama dia. Boleh ya Pah aku ke Swiss," pinta Amora penuh harap.


"Amora, kamu itu lagi hamil 7 bulan. Bagaimana kamu bisa melakukan perjalan jauh? Nanti kalau terjadi sesuatu gimana? Jangan, nak. Kalau Juno memang minta di susul, biar Papa yang susul dia ke sana," cegah David.


"Nggak, Pah. Itu tempat kenangan kita berdua. Juno sengaja ke sana, dia pasti mau aku ke sana kayak kita dulu. Pah, aku mau lakukan itu lagi sama Juno. Aku pengen dia sadar kalau aku sayang sama dia, Pah," bujuk Amora lagi.


"Mama sama Papa juga akan jemput dia ke sana. Pasti dia kesepian selama ini. Pasti dia lagi kangen keluarga. Ayo, kita jemput dia dan beri tahu dia kalau dia punya keluarga yang menyayangi dia dan selalu merindukan dia. Pasti itu yang di inginkan Juno saat ini," tutur Dona dengan berkaca-kaca. Kevin tersenyum mendengar pernyataan istrinya. Amora langsung berhamburan ke pelukan ibunya.


"Makasih, Mah," bisik Amora di pelukan ibunya itu.


***


Di malam yang dingin di Swiss Juno tampak sendirian di perapian dengan api kayu yang menyala di hadapannya. Pikirannya terus menerawang.


"Mah, aku kangen ....," bisik Juno seorang diri. "Pah ....," bisik nya lagi dalam diamnya. Ia semakin tertunduk dan larut dalam dinginnya malam ini.


Tiba-tiba handphone Juno berdering. Juno menatap layar handphonenya dan tersenyum.

__ADS_1


"Halo!" sapa Juno.


"Sayang! Kamu lagi apa?" sapa Amora dari seberang sana.


"Nggak, lagi di perapian. Aku ... Gimana keadaan kamu? Apa masih mual?" tanya Juno dengan seulas senyum tipis.


"Nggak, aku nggak lagi mual, udah berhenti sejak kandungan aku 5 bulan. Aku cuman kangen kamu sekarang. Sayang, aku jemput kamu ke sana sama Mama, Papa, ya. Mereka pengen ketemu kamu. Kami semua kangen sama kamu," tutur Amora terharu. Juno tersenyum mendengarnya.


"Iya," tutur Juno pelan.


"Jun, kamu sehat?" kali ini ternyata ayah Amora yang bicara.


"Sehat, Pah. Maaf aku pergi nggak izin," tutur Juno.


"Nggak apa-apa, nak. Yang penting kamu baik-baik saja di sana. Nanti Mama sama Papa ke sana, sama Amora juga. Kamu jangan merasa sendirian lagi. Kita itu keluarga, kamu sangat berarti buat kita. Kita nungguin kamu selama ini,"


"Iya, Pah. Terimakasih. Maaf sudah membuat kacau semuanya." Juno tertunduk dengan air mata yang tanpa ia sadari menetes dari sudut matanya. Tiba-tiba dia tidak tahan dan mematikan sambungan telponnya. Dia terisak sendirian. Dia akhirnya merasakan di rindukan sebuah keluarga. Dia merasakan itu sekarang.


***


Setelah menelpon Juno, Amora dan kedua orang tuanya langsung menuju dokter kandungan yang biasa tempat Amora memeriksakan kandungannya.


"Ini sudah cukup beresiko. Karena sudah menginjak kandungan 29 Minggu. Takutnya jika di paksakan melakukan perjalanan sejauh itu akan membuat terjadinya kontraksi di pesawat. Ada baiknya perjalanan itu di tunda dulu hingga ibu melahirkan," tutur dokter yang membuat Amora seketika menjadi terenyuh mendengar ia tidak bisa menemui Juno.


Sepanjang perjalanan pulang Amora tak henti-hentinya menangis karena kecewa. Ia tetap ingin menemui Juno ke Swiss, dia sangat merindukan laki-laki itu selama ini. Mendapati kenyataan dokter tak memberi izin membuat Amora kecewa.


"Sudah. Nanti biar Juno pulang saja. Dia pasti akan pulang walau tidak kamu jemput. Kamu tenang saja," nasehat Dona berusaha menenangkan Amora. Amora tidak peduli. Dia terus menatap keluar jendela dengan wajah murung.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2