
Setelah puas dengan tangisnya, Amora mulai tenang dan kembali ke dalam mobilnya. Dia mulai memikirkan hubungannya bersama Horner selama ini. Bagaimana dengan mudahnya Horner meninggalkan dia demi bisa kembali dengan mantan istrinya.
Cinta yang dia pikir dalam, ternyata hanya setinggi mata kaki di hadapan Horner. Hanya menjadi jembatan yang dapat membuat mereka menemukan alasan untuk bersama lagi.
"Mungkin sedari awal kau tidak pernah serius dengan hubungan kita Horner, karena itu kau bisa melepaskan aku menikah dengan Juno begitu mudah tanpa beban apapun. Kau mencintai Rasti selama ini. Kalian jadikan aku sebagai alat untuk bisa memperbaiki hubungan kalian yang bermasalah. Kini aku yang bodoh malah merusak hubungan ku sendiri demi laki-laki sepertimu," ujar Amora seraya menyeka air matanya. "Hah, bodohnya aku baru bisa menyadarinya sekarang. Juno lah yang selama ini memperjuangkan aku, malah aku abaikan demi orang yang bahkan tidak pernah mengingatku lagi. Kenapa aku tidak pernah bisa melihat itu selama ini. Bisa-bisanya aku menyakiti Juno dengan ucapan ku tadi," gumam Amora penuh penyesalan seraya mendekap wajahnya dan mulai terisak. Amora memejamkan matanya menyadari kebodohannya selama ini.
Dia tidak bisa kehilangan Juno. Horner bukan laki-laki baik untuknya, dia salah menilai Horner selama ini. Horner tidak pernah mencintainya sepenuh hati. Ya, itu lah yang sebenarnya terjadi. Karena itu dia mengembalikan ia pulang saat itu, dan tak mau membawanya pergi bersama. Dia sudah di campakkan Horner saat itu.
***
Di sisi lain, Juno menghela nafas panjangnya dan menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa sangat lelah menghadapi tingkah Amora selama ini. Ia memejamkan matanya sesaat seraya bersandar pada sandaran kursi. Tubuh dan pikirannya benar-benar sedang kacau rasanya sekarang.
Tapi baru saja ia akan memejamkan matanya untuk beristirahat, dia malah di kagetkan seseorang yang tiba-tiba mengetuk pintu ruangannya. Seorang perawat membuka pintu.
"Dok, ada pasien kritis di UGD," lapor seorang perawat ke ruangan Juno.
Juno kembali tersadar, ia pun segera bangkit dan tidak lupa ia mengambil stetoskop nya, tidak ada waktu untuk beristirahat sekarang, dia harus kembali pada tugasnya. Ia berjalan buru-buru menuju keruangan UGD. Di sana sudah ada pasien kecelakaan yang bersimbah darah tengah tidak sadarkan diri. Sekarang pikiran Juno kembali di sibukkan dengan tugasnya. Sesaat ia melupakan masalah pribadinya.
***
Di sisi lain Amora di rumah tengah membuka barang-barang lamanya di dalam lemari penyimpanan. Dia membuka barang-barang pemberian Horner untuknya dulu. Tampak tas, aksesoris, kalung dan banyak lagi barang mahal lainnya.
Barang-barang itu tersimpan sejak dia menikahi Juno, sekarang barang-barang itu akan ia kembalikan kepada Horner. Dia ingin menyingkirkan semua kenangannya bersama Horner mulai saat ini. Dia tidak ingin terus hidup di bayang-bayang Horner.
Amora mengambil salah satu syal berwarna abu-abu yang penuh kenangan itu. Syal itu menjadi saksi bagaimana dulu Horner saling mencintai dan menjaga.
FLASHBACK IS ON
__ADS_1
Dimalam yang dingin di Jepang, Amora dengan putus asa nya mencari perlindungan karena di buntuti oleh seorang pria aneh, dia berjalan menyusuri jalanan Jepang dengan penuh ketakutan. Orang-orang yang lalu lalang tak bisa di mintai nya bantuan sedangkan si pria terus mengikuti Amora yang terpisah dari teman-temannya itu.
Saat pria asing itu semakin mendekat, aku Amora segera memeluk lengan pria asing di hadapannya.
"Please help me, someone was follow me!" tutur Amora dengan bahasa Inggris pas-pasan nya. Pria yang di rangkul lengannya itu oleh Amora segera menoleh pada Amora.
"Maaf, apa kamu orang Indonesia?" tanya nya.
Sontak membuat Amora mendongakkan kepalanya.
"I-iya, kamu juga?" tanya Amora balik.
"Iya, ayo ikut. Kayaknya dia liatin kamu terus," tuturnya seraya menggandeng Amora ke sebuah toko di sana.
Saat itulah Amora di kenalkan dengan Raya putri tunggal Horner yang saat itu berusia 8 tahun. Mereka cepat akrab dan dekat, itu pula yang membuat masalah dari hubungan mereka. Karena rasa cemburu Resti masih ada untuk Horner dan sekarang Amora yang harus mengalah.
FLASHBACK IS OFF
Amora menitikkan air matanya sambil memeluk syal penuh kenangan itu.
"Dulu kau sangat menjaga ku, sekarang tidak lagi Horner. Aku sudah tidak lagi penting bagimu. Semua ini hanya sampah sekarang," gumam Amora di sela isaknya seraya membanting barang-barang tersebut.
Setelah puas menangis dan meluahkan semua. Amora kembali menyusun barang-barang itu ke sebuah kotak dan menutupnya setelah selesai semua ia susun.
__ADS_1
Ia ingin mengubur kenangan itu, dia akan mencoba melepaskan Horner dari hidupnya sepenuhnya. Ia harus belajar melupakan Horner mulai saat ini.
Ia menarik nafas panjang dan mencoba lebih tenang. Ia menyeka air matanya dan tersenyum. Ia bangkit dan membawa box itu ke dalam mobilnya untuk ia kembalikan kepada Horner nanti atau apapun itu yang bisa menyingkirkan benda itu agar dia bisa melupakan Horner.
***
Setelah selesai semua, Amora melirik handphone nya. Dia membukanya, dia mencari nomer Juno. Sesaat dia ragu untuk menghubunginya atau tidak. Tapi Amora menarik nafas panjang dan mulai nekat menghubungi Juno. Setelah beberapa kali mencoba menelpon tapi tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Mungkin dia sibuk" gumam Amora mencoba berpikiran positif. Dia tersenyum dan melanjutkan kegiatannya lagi.
***
Hari sudah sore dan mulai gelap, langit tampak kemuning dengan matahari yang perlahan mulai akan hilang ke peraduannya. Amora yang sudah rapi dan bersih bersiap menyambut kedatangan Juno. Dia duduk di depan ruang tamu, berkali-kali ia menatap jam di dinding, sudah hampir jam 6 sore, biasanya Juno jam 5 jika sedang tidak piket Juno sudah sampai di rumah. Tapi hingga senja menjelang dan mulai berganti gelap, Juno masih tidak kunjung pulang.
Amora mulai bosan dan memutuskan untuk menunggu di kamar. Dia melirik handphonenya, apa sebaiknya dia menghubunginya saja, tapi apa dia mau mengangkatnya? Tapi, tidak ada salahnya jika ia coba saja. Dia mencoba menghubunginya beberapa kali namun tetap tidak bisa tersambung, sepertinya dia mematikan handphonenya. Kelihatannya laki-laki itu benar-benar marah kali ini.
Amora tidak henti-hentinya membodoh-bodohi dirinya. Bisa-bisanya dia mengatakan itu pada Juno saat dia kesal pada Horner.
Ah, dia benar-benar menyesalinya sekarang. Apa Juno akan memaafkannya.
***
Di sisi lain, Juno tampak sudah sampai di tempat neneknya. Dia menjenguk neneknya. Sepulang dari rumah sakit, Juno tidak langsung pulang ke kediaman Amora tapi malah mampir ke tempat neneknya. Dia kelihatan tengah menghindari Amora.
"Kenapa tidak langsung pulang sepulang kerja? Pasti Amora nungguin kamu," tutur neneknya yang tengah berada di ruang keluarga bersama Juno.
"Aku kangen nenek. Aku di sini sebentar, ya," pinta Juno. Neneknya hanya mengangguk di dan tersenyum. Lalu perlahan ia merebahkan kepalanya di pangkuan neneknya seolah mencari kenyamanan di sana. Nenek tau tengah terjadi sesuatu antara Juno dan Amora, tapi dia tidak ingin ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan berdua saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG...