Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Gaun pengantin.


__ADS_3

Dihari minggu yang cerah, Dhea hanya menghabiskan paginya dengan bermain catur bersama sang paman. Tadi selepas sarapan, Tyo langsung mengajak Dhea untuk bermain catur diruang keluarga, karena memang mereka tidak ada pekerjaan dan akhirnya memutuskan untuk bermain catur saja.


Dhea sudah beberapa kali dikalahkan oleh


Tyo. Namun, bukan Dhea namanya kalau mudah menyerah. Ia masih berusaha menyusun strategi untuk mematikan raja dari lawan mainnya.


"Dhea kamu kalah lagi," ledek Tyo tersenyum atas kekalahan Dhea.


"Uncle curang sih, tadi kan Dhea udah mau maju ya, eh Uncle malah makan kuda nya Dhea," ucapnya berusaha membela diri.


"Hahah, Dhea tetap kalah ya." Tyo tertawa keras, berusaha memancing emosi Dhea.


"Enggak! pokoknya Uncle yang curang!" gadis itu cemberut lalu melipat kedua tangannya didepan dada, ia bahkan mengalihkan pandanganya dari Tyo.


"'Ih, lucu banget sih." Tyo memajukan tubuhnya untuk mencium sekilas pipi kiri Dhea. Ia memang sangat suka membuat emosi keponakannya itu, karena menurutnya wajah Dhea akan sangat menggemaskan ketika sedang cemberut.


Ditengah asiknya bercanda, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Dhea dan Tyo menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang bertamu ke apartement Tyo di akhir pekan begini.


Sontak Tyo tersenyum melihat orang yang barusan datang dan sedang berjalan ke arahnya. Orang itu adalah Tania, sang kekasih tercintanya.


Tania tampak begitu sangat cantik dengan Dress merah seksi yang ia kenakan. Pada bagian dada tampak sedikit terekspos, dan sangat ketat. Tyo sebenarnya sangat tidak menyukai Tania yang menggunakan pakaian seperti itu, namun bagaimana lagi, Tania selalu beralasan kalau ia adalah seorang model yang harus selalu berpenampilan seksi agar para penggemar tidak kecewa. Mau tidak mau Tyo menyetujuinya.


"Hai Dhea, hai sayang!" sapa Tania berjalan menghampiri Dhea dan mengecup kening Dhea kemudian beralih ke Tyo.


Tania hendak mencium bibir Tyo, namun Tyo malah memilih untuk menghindar. Bukan tanpa alasan ia menghindar, Tyo hanya tidak tidak mau melakukan ciuman di depan gadis remaja seperti Dhea.


Untuk menghindari kesalahpahaman, Tyo menunjuk Dhea yang saat ini sedang mengalihkan pandanganya kearah lain. Tania pun mengerti dan membalasnya dengan senyuman.


"Hadeuh, ciuman lagi ciuman lagi. Gak capek apa tu bibir nyosor mulu kayak bebek aja?!"


"Gak malu? Gua tu masi kecil ya, jadi tolong jangan kotorin mata saya. Saya belum mengerti apa-apa."

__ADS_1


Ucap Dhea membatin.


Dhea merasakan bahunya seperti di pegang oleh seseorang. Ia kemudian menoleh dan mendapati Tania yang sudah duduk di sebelahnya.


"Dhea sayang sekarang kamu siap-siap ya, kita mau ke boutique buat beli baju pernikahan Aunty dan Unclemu." ujar Tania.


"Jadi aunty?" tanya Dhea bingung.


"Jadi Dhea juga ikut sekalian beli baju untuk pestanya nanti. Dhea mau kan?" Dhea hanya mengangguk.


"Yaudah Dhea siap-siap gih," katanya lagi. Setelahnya, ia menoleh pada Tyo, "Kamu juga siap-siap donk sayang, Aku tunggu disini!"


Tyo dan Dhea pun beranjak dan pergi ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian.


Tinggallah Tania sendiri di ruangan tersebut. Ia tersenyum menyeringai menatap punggung Tyo yang semakin tidak terlihat setelah masuk ke kamarnya.


Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tania saat ini, cukuplah hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya.


Sekarang, Tyo, Tania, dan Dhea sedang berada di salah satu Boutique ternama yang ada di Kota Jakarta. Boutique tersebut adalah salah satu saham yang dimiliki oleh Tyo. Boutique ini ini merupakan tempat yang masih berada di bawah kendali perusahaan Tyo.


Tyo dan Dhea berjalan masuk kedalam boutique dan langsung disambut hangat oleh para pelayan dan manager boutique tersebut. Sementara Tania berada diluar, masih sibuk berbicara dengan orang yang sedang menghubunginya.


Tadi, sewaktu baru keluar dari mobil, Hp Tania berbunyi. Sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut, ia menyuruh Tyo dan Dhea untuk masuk terlebih dahulu. Paman dan keponakan itu hanya menurut saja.


"Sebuah keberuntungan bagi kami ketika Tuan Tyo mampir ke tempat ini." Sambut manager hotel dengan menundukan badan.


"Terima kasih." ucap Tyo datar.


"Kalau boleh saya tahu, ada keperluan apa sehingga Tuan Tyo mampir?" tanyanya hati-hati kepada bosnya tersebut.


Karena biasanya Tyo tidak suka menghampiri tempat-tempat tertentu, ia hanya akan datang ketika itu berurusan dengan hal penting seperti saat ini. Biasanya Tyo akan mengandalkan Ryan sang asistennya untuk urusan-urusan yang ia perintahkan pada asistennya itu. Ia tidak bisa mempercayai orang lain selain Ryan, sang asisten.

__ADS_1


"Tolong carikan gaun pengantin yang paling bagus untuk saya dan calon istri saya." Ucap Tyo menatap sekeliling ruangan dengan motif putih yang juga didalamnya terdapat beberapa gaun pengantin pilihan hasil perancang ternama.


"Baiklah tuan." Ucap manager sambil tersenyum. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mengambilkan gaun pengantin yang dimaksud oleh Tyo.


Tak perlu waktu lama untuk sang pelayan kembali dengan membawa sebuah gaun pernikahan yang sangat indah.


"Baiklah nyonya mari kita coba gaun ini." Kata salah satu pelayan mengajak Dhea menuju ruang ganti.


Dhea yang mendengar itu lantas dibuat terkejut. Ia beralih menatap Tyo untuk memberikan penjelasan.


"Sebentar, bukan dia pengantin wanitanya." Kata Tyo memberikan penjelasan kepada si pelayan.


Dhea menghela nafas lega. Enak saja dia jadi pengantin nya, apa kata orang nanti kalau dia menikahi pamannya sendiri?


"Maafkan saya Tuan, saya kira nyonya ini yang akan menjadi pengantinnya, karena saya pikir kalian sangat cocok dan serasi." Ucap sang pelayan sambil cengengesan. Dhea hanya tersenyum, tetapi tidak dengan Tyo sebab pria itu menatap aneh si pelayan.


"Maaf agak lama." Ucap Tania yang muncul secara tiba-tiba.


Tania datang dan langsung menghampiri mereka yang sudah menunggu dirinya. Awalnya ia bingung melihat orang-orang dihadapannya saat ini. Mereka semua hanya diam.


Namun ia segera menyingkirkan pemikirannya itu ketika melihat sebuah gaun pengantin indah yang masih melekat di manekin.


"Ini pengantin wanitanya." kata Tyo dan di balas anggukan oleh sang pelayan.


"Mari nona dicoba dulu gaunnya." Tania mengangguk lalu mengikuti langkah sang pelayan menuju ruang ganti.


"Tuan juga harus mencoba Tuxedo nya." kata sang manager sambil memberikan Tuxedo berwarna putih yang senada dengan gaun pengantin wanitanya.


Tyo hanya mengangguk lalu mengambil Tuxedo itu, kemudian membawanya menuju ruang ganti.


Sedangkan Dhea? gadis itu hanya menunggu di kursi yang berdekatan dengan ruang ganti. Ia akan menunggu kedua pasangan itu selesai dengan urusan mereka, barulah dia akan membeli bajunya.

__ADS_1


__ADS_2