Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Tawar menawar


__ADS_3

Perlahan Cahaya matahari pagi masuk melalui celah celah gorden jendela kamar Tyo. Namun hal itu tidak membuat kedua insan itu untuk membuka matanya.


Tak lama kemudian, Dhea membuka matanya saat merasakan ada tangan yang merambat naik menuju ke dadanya. Ia sudah paham itu tangan siapa.


Lantas ia membalikan badan dan melihat wajah sendu Tyo yang masih tertidur. Dhea menggerakkan tangannya menyentuh wajah tampan suaminya itu. Meneliti setiap inci keindahan yang terpampang nyata di hadapanya saat ini. Wajah sendu pria itu membuat Dhea terpaku sesaat. Sangat manis, pikirnya.


Dhea tersenyum mengingat kejadian semalam, dimana Tyo tak henti hentinya menyerang dirinya, padahal Dhea sudah hampir pingsan dibuatnya. Memang awalnya pria itu bermain dengan lembut, tapi ujung ujungnya Dhea tak sanggup lagi dengan kekuatan Tyo yang tak sebanding dengan dirinya yang kecil mungil itu.


"Ini nih yang semalam buat aku hampir pingsan," katanya mencubit kecil hidung suaminya. Tyo membalasnya dengan senyuman hangat khas miliknya.


"Dhea beruntung punya uncle. Dhea janji bakal jadi istri yang baik buat uncle," lanjutnya lalu mengecup sekilas Kening Tyo lalu beranjak menuju kamar mandi.


Baru satu langkah Dhea bergerak, Dhea sudah berhenti karena merasakan sakit yang luar biasa di bagian selangkangannya.


"Arghh, perih banget." keluhnya dan mendudukkan diri kembali dipinggir ranjang.


"Apa yang sakit?" panik Tyo ketika mendengar keluhan sang istri.


"Itu!" menunjuk bagian bawah tubuhnya dengan code mata.


"Sakit banget ya?"


"Heem."


Dengan cepat, Tyo bangkit lalu menggendong tubuh istrinya masuk ke kamar mandi. Dia menaruh tubuh mungil itu didalam bathub lalu menyalakan airnya.


"Makasih uncle, kalau gitu uncle keluar dulu gih. Dhea mau mandi." usir Dhea mengibas ngibas kan tangannya.


"Ya enggak lah," tegasnya memasukan sabun kedalam air lalu ikut masuk kedalam Bathub "Kita mandi bareng aja."


Dhea memelototkan matanya kala Tyo mengangkatnya keatas pangkuannya. Kini posisi mereka saling berhadap hadapan.

__ADS_1


"Masih sakit sekaki yah?" tanya Tyo, mengecup puncak kepala Dhea.


"Lumayan. Emang kenapa uncle? apa uncle mau minta lagi ya?"


Tyo mengangguk membuat Dhea melongo tak percaya. "Emang Uncle gak capek apa?"


Tyo menggeleng kuat dengan wajah yang murung yang dibuat buat. Itu hanya sekedar akting belaka agar Dhea mengasihaninya dan mau melakukanya lagi.


"Mau banget ya?"


"Hem,"mengangguk polos.


"Tapi hanya sebentar, okey?"


"2 jam." tawar Tyo.


"Egh, mana bisa. Kelamaan itu!"


"Satu setengah jam."


"45 menit."


Dhea menggeleng "20 menit," membentuk angka 2 di jarinya.


"Aish, sebentar sekali sayang." Tyo mengambil salah satu jari Dhea lalu menggigitnya kecil.


"Ish, nyebelin deh," Dhea menarik jari jarinya dari dalam mulut Tyo. Kemudian ia mengetuk ngetukkan jari telunjuk di dahi, tampak sedang berpikir.


"Yaudah 30 menit aja, gimana?"


"Setuju!"

__ADS_1


Akhirnya kesepakatan mereka jatuh diangka 30 yang berarti akan dilakukanya *** *** selama kurun waktu 30 menit.


Setelah mandi bersama, mereka mulai melakukan aksi yang biasa dilakukan oleh sepasang suami istri kebanyakan. Bahkan mereka melakukanya dibawah guyuran air shower yang menyegarkan tubuh jiwa dan raga.


Dhea kesal dengan suaminya itu.


Karena apa?


Karena Tyo melakukanya lebih dari batas waktu yang telah mereka janjikan, alhasil Dia hanya bisa pasrah dan mengikuti permainan Tyo. lagi pula ia juga menikmatinya, Hahah.


***


Tin, Tin!


Bunyi suara klakson mobil yang sengaja di bunyikan oleh seorang pengendara. Usai pagar dibukakan oleh satpam, mobil melaju menuju rumah utama seorang Tyo.


"Assalamualaikum Mami!" sapaan Dhea menyalami punggung tangan Mami diikuti Tyo dibelakangnya.


"Wa'allaikumsalam sayang, kamu baik baik aja kan? gak ada yang sakit kan? ada yang luka gak?" Ucap mami seraya memutar balikkan tubuh Dhea. Dia meneliti setiap sudut bagian tubuh cucu sekaligus menantunya itu. Merasa takut jika Dhea dilukai saat insiden penculikan itu terjadi. Namun hasilnya nihil.


Detik kemudian Mami tersenyum ketika melihat ada bekas kiss mark di bagian leher jenjang Dhea yang agak terbuka sedikit.


"Dhea gak kenapa napa mi. Untung Uncle Tyo datangnya cepat."


"Mami kenapa?" tanya Tyo heran melihat maminya yang tersenyum sendiri.


"Itu," menunjuk leher jenjang Dhea menggunakan dagunya.


Tyo penasaran dan mengikuti arah pandang maminya. Dhea juga melakukan hal yang sama dan langsung tersipu malu.


"Sepertinya mami bakalan dapat cucu dalam waktu dekat ini deh." goda mami menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Yuk kita masuk," ajak Tyo menarik tangan Dhea. Dia tahu kalau istrinya itu sedang malu.


"Hahaha, dia bisa malu juga rupanya." Mami terbahak bahak melihat ekspresi Tyo tadi.


__ADS_2