
Dhea hendak berbalik setelah selesai membuat kopinya, namun seseorang sudah berdiri dihadapannya.
"Astaga bik," ucapnya terkejut. "Aku kirain tadi siapa, untung kopinya gak jatuh ya, hehehe."
"Maaf saya ngagetin non, non kok belum tidur?" tanya Bik Nur sambil celingak sana celinguk sini.
"Cari siapa bik?" kata Dhea heran dengan tingkah bik nur.
"Kopinya buat siapa non?" Tanya nya yang mengabaikan pertanyaan Dhea barusan.
"Buat uncle Tyo bik, malam ini uncle lembur jadi Dhea ada inisiatif gitu"
"Ooh, saya kirain ada tamu malam malam begini, yasudah saya pamit dulu ya non." ucap Bik Nur kemudian meninggalkan Dhea.
Dhea naik ke lantai atas sambil membawa secangkir kopi hitam buatan nya. Ia tersenyum sendiri membayangkan kalau dirinya akan berubah menjadi istri yang baik dengan hanya membuat secangkir kopi.
Dhea langsung masuk keruang kerja Tyo dan mendapati Tyo sedang duduk di kursi kerjanya sambil mengetikkan sesuatu pada laptopnya.
Tyo menyadari ada suara langkah kaki dan melihat Dhea sedang berjalan menghampirinya, sambil membawa segelas kopi.
"Ini uncle minum dulu kopinya biar gak ngantuk." ucapnya sambil meletakkan gelas tersebut dihadapan Tyo.
__ADS_1
"Makasih," Tyo tersenyum dan mengambil gelas tersebut lalu meminum kopinya.
"Enak?" Tanya Dhea setelah Tyo mengabiskan setengah kopinya.
"Heem," Jawab Tyo "Sini," ucapnya lagi sambil menunjuk pahanya.
Dhea mengernyitkan dahinya bingung, "Hah?"
"Kamu duduk sini," suruh Tyo lalu menarik tangan Dhea sehingga Dhea terduduk dipangkuan nya.
Tyo tersenyum sambil terus menatap lekat manik mata Dhea. "Kamu kok belum tidur?" tanya Tyo heran, pria itu bingung kenapa hampir tengah malam begini gadisnya itu belum tertidur.
Gadis itu sangat menyukai bau maskulin dari tubuh Tyo. Menenangkan, itulah kata yang tepat. Menghirup dalam dalam aroma tubuh Tyo, dan mulai memejamkan matanya.
Entah kenapa, bila dipeluk Tyo dirinya langsung ingin tertidur.
"Yaudah kamu bobok ya," kata Tyo sambil mengusap lembut punggung Dhea.
Dhea tak menjawab, karena dirinya sudah tertidur pulas didalam pelukan Tyo.
Tyo tak tahan dengan posisi mereka sekarang, bagaimanpun dia tetaplah pria normal. Tapi demi kenyamanan Dhea, ia rela menahan sesuatu yang bergejolak dibawah sana.
__ADS_1
Setelah mematikan laptopnya, pria itu memutuskan untuk membawa Dhea ke kamarnya. Menggendong Dhea dengan hati hati supaya Dhea tidak terbangun.
Tyo membuka dan menutup pintu kamar menggunakan kakinya karena memang tangannya berada di paha Dhea untuk mengangkat tubuh gadisnya itu agar tidak terjatuh.
Dia merebahkan tubuh Dhea di kasur miliknya, dan kemudian ikut berbaring di samping istrinya itu. Tyo menarik selimut menutupi tubuh mereka dan kemudian memeluk Dhea dengan erat.
"Good night my wife," ucapnya sambil mengecup kening Dhea dan mulai memejamkan matanya.
¤¤¤
Barusan Tyo dapat kabar kalau dirinya kedatangan tamu yang sangat penting. Ia tidak tahu siapa tamunya tersebut, karena memang sekretarisnya tidak memberitahukan nama dari si 'Tamu' tersebut.
Tyo memasuki ruangannya, dan melihat seorang pria bersetelan jas rapi, memiliki kulit putih dan wajah campuran antara inggris dan indonesia sedang berdiri di arah jendela sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang dari atas sini.
"Kau!"
Tyo refleks merasa senang setelah melihat siapa tamu yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Hmm," pria itu menggumam kemudian berjalan mendekati Tyo. Ia menepuk pelan pundak Tyo dan bersalaman ala ala pria.
"Maaf aku baru bisa datang sekarang, belakangan ini aku benar benar disibukkan dengan proyek baruku yang ada di Belanda."
__ADS_1