Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Bayi besar


__ADS_3

"Oma!" panggil Dhea ketika melihat oma sedang duduk di balkon kamarnya. Dhea berjalan menghampiri dan duduk disebelah Oma.


"Oma, Dhea minta maaf oma. Dhea juga awalnya terpaksa melakukan pernikahan ini." Dhea berterus terang sambil menggenggam tangan oma.


Hilda hanya diam dan membiarkan Dhea melanjutkan ucapannya.


"Waktu itu ayah meminta Dhea untuk menggantikan Tante Tania sebagai pengantin wanitanya. Ayah tidak ingin nama Uncle Tyo rusak hanya gara gara pernikahannya batal. Setelah Dhea tau kalau Uncle Tyo itu bukan paman kandung Dhea, Dhea akhirnya mau."


"Dan kamu hanya menurut saja?" tanya Oma yang dibalas anggukan oleh Dhea.


"Dhea kamu tahu kan kamu masih remaja dan kamu masih harus melanjutkan masa depan kamu, sayang."


"Dhea tau oma."


"Jadi kamu mencintai Tyo juga?" tanya oma.


"Insyaallah, Oma," Dhea mengucapkan itu sambil memejamkan mata karena takut bila oma memarahinya.


Namun yang dilakukan oma malah sebaliknya. Dia malah menaikkan tangan untuk mengelus sayang rambut panjang Dhea.


"Baguslah kalau kalian saling mencintai," ucap oma dengan nada lembut.


"Oma gak marah? "


"Enggak sayang, oma hanya kecewa saat tau Tyo sudah menikah dan lebih parahnya, ia tak mengundang oma di acara pernikahan kalian." Hilda menampilkan raut wajah sedih.


"Emm, kan pernikahan kami itu tanpa disengaja oma."


"Iya juga sih, tapi ada baiknya saat Tyo imgin menikah dengan siapa tadi?" tanya oma. "Tania" ucap Dhea.

__ADS_1


"Iya, Kalaupun Tyo tidak menikah denganmu. Ieharusnya ia mengundang oma kan? "


"Uncle lupa oma,"


"Mungkin, sayang." kata Oma lalu merentangkan tangannya, menyuruh Dhea untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Dhea sayang oma," ujar Dhea mengeratkan pelukannya.


"Oma juga sayang."


©©©©©©©©©©©


"Jadi, kamu dan Kak Tyo sudah menikah de? " tanya Ray ketika mereka sedang bersantai diruang Televisi.


"Iya kak," balas Dhea seraya menaruh 3 gelas minuman dingin beserta beberapa camilan di atas meja.


"Hah, Kak Ray uda tau kalau Dhea istrinya paman Tyo?" tanya Lia tak percaya.


"Gimana ceritanya de? "


"Pokoknya panjang deh." Dhea berjalan kearah depan, mengambil Remote lalu memutar film horor yang baru baru ini sedang viral.


"Lo juga sih, kok gak kasih tau gw kalau lo mau nikah sama Kak Ryan," kesal Dhea kepada sahabatnya itu.


"Apa?!" Ray syok. "Lia mau nikah juga sama Kak Ryan?" tanyanya tak percaya.


"Iya kak, hehe." jawab Lia malu malu.


Terdengar hembusan nafas kasar dari Ray, "Yah, padahal aku mau nembak kamu loh. Tapi ya sudah lah, belum jodoh kali." Ray pasrah, berusaha mengikhlaskan Lia diambil oleh Ryan.

__ADS_1


"Kakak sih, kalah cepat, hehhe." ucap Dhea terkekeh diakhir kalimatnya.


"Egh tapi aku mau kenalin satu cewek yang cantiknya pake banget lo kak." kata Lia.


"Cantikan mana sama Dhea? " tanya Ray.


"Ck. jelas Dhea yang menang sih."


"Hahaha, kalian ada ada aja pake ngebandingin aku segala lagi."


"Songong lu!" kata Lia.


"Biarin, wlek!" ejek Dhea menjulurkan lidahnya.


"Aish, ni anak kok pengen gua smackdown yah," geram Lia.


"Hahaha, Kuy kita bopong dia ke panti panti jompo Li." tawa Ray.


"Panti jompo?" tanya Dhea dan Lia bersamaan.


"Iya, biar Dhea rasain gimana ngurus bayi besar."


"Bayi besar?" tanya Dhea dan Lia yang masih tak mengerti kemana arah pembicaraan Ray saat ini.


"Iya. Kak Tyo kan bayi besar, hahaha," tawa Ray yang semakin menggelegar.


Dhea dan Lia hanya ber'oh ria saja, sedetik kemudian mereka tersadar dan saling lempar pandang.


"Hahaha, bayi besar." tawa keduanya pecah.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua tertawa bersama karena bayi besar. Sebenarnya Author tak paham apa itu bayi besar, hahahha.


__ADS_2