Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Terbongkar


__ADS_3

Drrt, Drrt!


Benda pipih yang ada didalam kantong celana Tyo terus saja berbunyi menandakan ada panggilan masuk.


Pria itu masih saja fokus mengemudi dan tak menghiraukan sama sekali getaran ponselnya. sementara Dhea sudah bosan mendengar benda pipih pria itu yang terus saja berbunyi.


Mungkin kalau dihitung, kira kira sudah lima kali tak diangkat.


"Kok gak diangkat sih Uncle?" tanyanya yang mulai bosan karena suara hp yang tak kunjung berhenti.


"Males, lagi nyetir."


"Siapa tau penting?"


"Gak ada yang lebih penting selain kamu!" ucap pria itu santai dengan mata yang masih fokus menyetir.


"Gombal aja. Uda tua juga."


"Angkat gih."


"Yah, kok aku sih ntar rekan bisnis uncle lagi."


"Gak papa, kamu kan istri saya jadi emang sudah seharusnya tau kan?"


Dhea tidak menjawab dan memilih mengambil benda pipih yang masih berbunyi itu dari kantong celana Tyo.


"Pelan pelan ambilnya, nanti salah pegang lagi," goda Tyo.


"Iya iya." Dhea membalasnya malas sambil memandang Tyo ketus.


Karena fokus memandangi wajah tampan Tyo, sampai sampai ia tak sengaja meraba sesuatu dibawah sana.


"Eh sorry uncle," katanya lalu dengan segera menarik tangannya cepat.


"Kamu pengen megang yah?" tanya Tyo manatap Dhea sambil menaik turunkan alisnya.


"Ish mana ada," Dhea berusaha mengelak. Toh apa yang ia lakukan, memang secara ketidaksengajaan.


"Serius? Kalau mau juga gak papa, saya bakal kasih kok. Lagian kan ini punya kamu juga," Tyo masih berusaha menggoda Dhea.


Dhea tak menjawab perkataan absurd pria itu dan memilih mengangkat panggilan telpon dari ponsel Tyo.


"Hallo," ucapnya setelah panggilan tersambung.


"Hallo pak, ini saya Delisa," sapa orang di sebrang sana yang tak lain adalah sekretaris Tyo.

__ADS_1


"Hmm, ini saya istri pak Tyo. Maaf ada keperluan apa ya menghubungi suami saya?" tanya Dhea membuat Tyo tersenyum mendengar kata suami dari Dhea.


"Egh maaf buk. Tadi saya dari ruangan pak Tyo tapi bapaknya gak ada buk."


"Iya. Kami memang sudah pulang."


"Begini buk, saya hanya ingin memberikan berkas berkas untuk rapat dengan para investor luar negri untuk besok buk supaya pak Tyo bisa mempelajarinya terlebih dahulu buk."


Dhea menoleh kepada Tyo untuk meminta jawaban yang harus diberikan pada Delisa.


"Suruh dia mengantarkan ke rumah nanti malam jam 7." ucap Tyo membuat Dhea menganggukkan kepala.


"Pak Tyo nya menyuruh kamu untuk mengantarkan berkasnya langsung ke rumah kami nanti malam jam 7," terang Dhea.


"Baik buk." Delisa sepertinya sudah akan melompat lompat kegirangan di sebrang sana.


"Baiklah, nanti saya kirimkan alamat tempatnya ya."


"Iya buk, selamat siang," Delisa akhirnya menutup panggilanmya.


©©©©©©©©©©©©


Ting nung Ting nung


Bunyi bel rumah menginstruksi para penghuni untuk segera membukakan pintu kepada tanu yang hadir.


"Selamat malam, anda ingin mencari siapa?" tanya oma kepada orang di depanya.


"Tante!" pekik Delisa syok. "Ini rumah pak Tyo kan tan?" tanyanya memastikan.


"Iya betul, kamu anak jeng mia kan?" tanya oma yang berusaha mengingat wajah wanita di depanya sekarang, memastikan apakah wanita ink adalah anak sahabatnya.


"Iya tan. Berarti tante adalah ibunya pak Tyo ya?"


"Iya donk," ucap oma lalu bercipika cipiki dengan delisa.


"Masuk dulu yuk." ajak oma memberikan jalan untuk Delisa masuk kedalam rumah.


"Makasih Tan."


Oma mengajak Delisa untuk duduk diruang tamu dan berbincang bincang.


"Mama sama papa kamu apa kabar, Del?"


"Baik baik aja tan."

__ADS_1


"Baguslah."


"Tante apa kabar?" Delisa balik bertanya.


"Sehat sehat donk."


"Hahaha, tante mah emang paling top."


"Woya jelas lah," kata oma pede. "Kamu ada urusan apa datang kemari nak?" oma bertanya ketika Bik Nur sudah meletakan 2 gelas minuman dihadapan mereka.


"Emm, Delis kan sekretaris Pak Tyo tan. Jadi Delis mau nganterin berkas berkas ini," ucap Delisa menunjuk beberapa map yang ada di tangannya.


"Owh yasudah, sini biar tante aja nanti yang kasih." Oma memberi saran dengan mengambil berkas itu dari tangan Delisa.


"Iya tan."


"Egh, Pak Tyo nya kemana ya Tan? " Penasaran, Delisa akhirnya membuka suara. Sedari tadi dirinya tidak melihat wajah bosnya itu. Padahal kan ia datang kesini hanya untuk melihat pak Tyo nya.


"Emm, di kamarnya mungkin. Mau Tante panggilin gak?" tawar oma.


"Gak usah deh, Tan."


"Yaudah deh."


"Itu istrinya pak Tyo kan,Tan?" tanya Delisa yang kebetulan melihat Dhea sedang berjalan kearah tangga menuju kamarnya.


"Istri?" tanya oma tak paham.


"Iya. Pak Tyo kan sudah menikah, dan kemaren di pesta perusahaan dia mengumumkan kalau dirinya sudah memliki istri." ucapan Delisa justru membuat oma syok seketika.


"Heheh, Iya."ucap oma tertawa renyah padahal sebenarnya saat ini dirinya sedang menahan emosi yang menggunung.


"Kok istri pak Tyo masih remaja ya Tan?" Delisa kembali bertanya, memang begitu kepo tentang kehidupan Tyo.


"Suka daun muda."


Delisa hanya ber'oh ria saja, "Kalau begitu Delis pamit dulu ya Tan."


"Iya nak, lain kali jangan sungkan sungkan untuk main kesini ya," Oma kemudian mengantar Delisa sampai ke dapan pintu.


"Baik Tan."


"See you sayang!"


"See you Tan!"

__ADS_1


Heheh, penasaran kan?


Kalau penasaran gimana reaksi oma, jangan lupa kasih like donk!


__ADS_2