
Terlihat Ray yang sedang duduk berduaan dengan Syifa di bangku taman hotel. Pria itu sengaja mengajak Syifa untuk mengikutinya dengan alasan ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
"Sif, calon suami idaman kamu itu seperti apa ya?" tanya Ray yang kalimatnya sama dengan yang dikatakan oleh Rey mbayang dengan dinda hauw.
"Emm, Intinya seorang pria yang rajin beribadah dan taat akan perintah Allah." jawab Syifa jujur. Tipe seperti itu adalah impiannya sejak dulu.
"Sebenarnya aku ingin memantapkan diri."
"Egh?"
"Sekarang aku melamar kamu untuk menjadi istriku sif. Kamu mau kan?"menggenggam erat kedua tangan Syifa seolah meyakinkan gadis itu kalau dirinya memang benar benar serius.
Demi Syifa, Ray sudah melakukan berbagai hal yang dulunya jarang ia lakukan. Contohnya, sekarang Ray sudah rajin menjalankan sholat 5 waktu, ngaji terus, bahkan selalu berdoa di sepertiga malam untuk menyakinkan diri kalau dia memang benar benar layak untuk menjadi imam di keluarganya nanti.
Ray sengaja ingin cepat cepat melamar Syifa agar gadis itu tidak jatuh ke tangan orang lain. Jika memang itu benar, maka sia sia lah perjuangannya untuk memiliki gadis itu. Ray sudah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.
"Kakak serius kan?" tanya Syifa berusaha mencari kebohongan dimata Tyo, namun hasilnya nihil. Pria di hadapannya ini benar benar serius ingin memilikinya.
"Aku serius Sif."
Demi apapun itu, rasanya saat ini Syifa ingin terbang jauh ke angkasa. Dia tidak menyangka akan dilamar oleh pria yang juga ia sukai. Berawal dari perhatian perhatian kecil Ray, Syifa dibuat baper olehnya dan akhirnya benih benih cinta itu tumbuh dengan sendiri dan tampa di pinta.
"Kalau begitu, Syifa mau kak."
Ucapan Syifa, sukses membuat Ray tersenyum gembira. Ternyata apa yang dipikirkan Ray, tidak benar adanya. Buktinya sekarang Syifa dengan senang hati mau menerimanya.
"Terima kasih." ucap Ray tulus lalu mengecup punggung tangan gadis itu.
"Udah kak, kita belum mukhrim." Syifa memperingati kalau mereka belum sepenuhnya halal.
__ADS_1
"Heheh, iya maaf. Abis aku senengnya bukan main," ceplos Ray polos.
"Ada ada aja deh kak."
"Makasih ya sif." kata Ray lagi membuat Syifa memutar bola mata jengah.
"Iya kak, ini uda kedua kalinya loh kakak ngomong makasih."
"Aku senang deh, pokoknya 2 minggu lagi kita harus menikah dan gak ada penolakan!" Tegas Ray tak mau dibantah.
Syifa membalasnya dengan tersenyum. Disini bukan hanya Ray yang merasa bahagia, gadis itu juga merasakan hal yang sama.
Ray mengajak Syifa pulang karena memang acara resepsi pernikahannya sudah selesai dan semua tamu undangan telah kembali kerumahnya masing masing.
*****
Saat ini dia sudah berada di rumah Ryan dan sudah menyelesaikan kegiatan mandinya.
Baru saja dia akan memejamkan mata, namun suara pintu terbuka membuatnya menoleh kearah pria yang tak lain adalah Ryan yang sudah sah menjadi suaminya.
"Kakak langsung mandi aja, biar aku siapin bajunya." kata Lia membuat Ryan mengangguk setuju.
Tapi baru 5 langkah Ryan berjalan, suara Lia membuatnya terhenti dan menoleh kearah gadis itu.
"Baju kakak dimana ya?" tanya Lia karena belum tau semua isi kamar tersebut. Ini memang kali pertama Lia memasuki kamar Ryan.
"Disana." tunjuk nya pada ruangan kecil di samping kamar mandi yang tak lain adalah walk-in closet.
"Oh, baiklah terima kasih."
__ADS_1
Ryan melanjutkan langkahnya membuat Lia dengan segera mengambil koper miliknya dan membawa ke walk-in closet.
Dia ingin menyusun pakaiannya juga di ruangan itu dan ketika memasuki ruangan tersebut, Lia tersenyum melihat beberapa barang pribadi milik Ryan yang terpampang nyata disana. Misalnya seperti jam tangan, sepatu, parfum, dasi, dan pakaian pakaian lainya.
Semua barang milik Ryan adalah barang bermerk dan branded. Namun hal itu sudah menjadi biasa bagi Lia yang memang anak dari holkay. Jadi dia bersikap biasa biasa saja.
Setelah siap menyusun rapi semua pakaiannya, dia keluar dengan membawa pakaian Ryan di tanganya.
"Ini kak," ucap gadis itu usai melihat suaminya keluar dari kamar mandi, lalu menyerahkan pakaian itu ke tangan Ryan.
"Makasih."
Lia terkejut saat dengan santainya Ryan memasang pakaian di hadapannya saat ini. Dia bertanya tanya, apakah pria itu masih punya malu.
Memang mereka sudah menikah, tapikan setidaknya ada rasa segan atau malu walau sedikit.
"Kamu kenapa?" Ryan menyadarkan Lia dari keterkejutannya dengan menepuk pelan pundak gadis itu.
"Tidak kenapa kenapa kak," jawabnya polos.
"Yasudah kalau begitu kita tidur saja." kata Ryan,
"Kamu tenang saja, saya tidak akan meminta hak saya sebelum kamu benar benar siap," lanjutnya lagi lalu naik keatas ranjang.
Dia merebahkan diri dan menepuk sisi kasur disebelahnya. "Kemarilah!" panggilnya membuat Lia mendekat dan ikut tidur bersamanya.
Jujur, Lia sangat senang karena malam ini dirinya masih menyandang status gadis. Tapi tidak tahu kalau besok dan seterusnya.
Lagian tidak mungkin juga kan kalau dia terus terusan melalaikan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1