
Kini perjalanan mereka hening, tak ada niat sama sekali di antara mereka berdua yang mau membuka suara.
Tak lama kemudian mobil berhenti dipinggir danau yang Dhea tak tahu ini daerah mana tempatnya.
Dhea hanya bisa melihat sebuah danau yang tenang dan hanya diterangi oleh lampu jalan yang sedikit remang remang.
Disekitarnya tak ada orang lain, dan hanya mereka berdua saja ditempat itu. Kemudian dia melirik jam tangan kecil di pergelangannya yang menunjukkan pukul 22:00.
Sepi.
Itulah kata yang cocok menggambarkan tempat ini. sebenarnya tempat ini sangat cantik bila dilihat ketika pagi, atau siang hari.
"Kemari!" Tyo menepuk tempat yang ada disebelahnya.
Dhea menurut dan ikut duduk dengan Tyo yang hanya beralaskan rumput saja.
"Tempat ini adalah tempat yang biasa saya gunakan untuk menenangkan pikiran dari segala kerunyaman," ucap Tyo yang menjeda kalimatnya,
"Setelah Papi meninggal, saya begitu hancur dan tak siap untuk menerima semua itu. Bahkan hal yang paling membuat saya hancur adalah saat mengetahui Mami malah pergi meninggalkan kami dan menikah dengan pria lain. Lal itu membuatku tak mampu menerima semua kenyataan dan benar benar frustasi."
Dhea masih diam dan memilih mendengarkan ucapan Tyo yang masih tergantung. Matanya masih fokus menatap ke dalam manik mata milik Tyo. Sangat indah.
"Namun ditengah kepasrahan saya, tiba tiba datang seorang gadis kecil yang berusaha menenangkan dan menyadarkan bahwa saya masih memiliki masa depan yang lebih cerah nantinya."
"Dia datang dan mengatakan kalau nantinya dia akan menjadi istri saya kelak dan mendampingi sisa hidup saya di dunia ini," jelas Tyo panjang lebar sambil tersenyum mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Dan kamu tahu gadis itu siapa?" menoleh ke arah Dhea lalu mencium lama kening istrinya itu.
"Enggak." jawab Dhea jujur.
"Itu kamu sayang, apa kamu lupa?" Tyo menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
Dhea berusaha mengingat ingat kejadian itu, san yah dia mengingat semua nya. Ternyata ucapan pria itu ada benarnya. Dimana saat itu ia masih berusia sangat muda, berusaha meyakinkan Tyo dengan kata-kata indahnya agar pria itu tetap setia bersamanya.
"Itu Dhea," lirihnya mengangkat kepala dan mengecup sekilas dagu Tyo.
"Terima kasih karena sudah mau menjadi istri saya dan terima kasih atas semua perjuanganmu dalam melewati tantangan dalam rumah tangga kita ini."
"Sama sama, Uncle. Dhea juga berterima kasih karena mau menerima Dhea yang ke kanak kanakan ini. Dhea salut sama suami Dhea ini, hehe."
"Iya sayang. Kamu juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan saya dalam situasi apapun?"
"Janji! Dhea janji gak bakalan pergi meninggalkan Uncle, apapun yang terjadi."
Kini perasaaan Tyo benar benar lega mendengar penuturan wanitanya. Dia benar benar tidak sanggup bila harus terpisah dari Dhea.
Cukup lama mereka duduk berdua di tempat itu, namun ketika mereka akan beranjak pulang, Dhea mendengar suara seseorang yang seperti meminta tolong.
Tidak. Ini bukan suara hantu, ini jelas suara manusia. Sepertinya ada 2 orang yang sedang berbicara.
Ketika Dhea berusaha menajamkan pendengarannya, Tyo malah langsung menariknya untuk bersembunyi disalah satu pohon besar yang tempatnya tidak terlalu jauh dari suara yang Dhea dengar barusan.
"Ampun buk!" itu suara seorang pria yang melipat kedua tangan dan memohon untuk diampuni.
Tyo dan Dhea tak tahu kesalahan apa yang harus diampuni dari pria tersebut.
"Hahaha, Kau sudah gagal melakukan tugasmu dan dengan bodohnya kau memohon ampunan."
Tunggu! sepertinya mereka mengenal suara wanita itu. Kira kira itu...ah ya! Itu merupakan suara Tania si wanita licik.
Tyo dengan rasa penasarannya mengintip sedikit dan bisa melihat Tania memegang pisau ditangannya serta seorang pria berlutut di hadapanya.
Tyo tak bisa melihat jelas wajah pria itu karena memang kedua orang itu berada ditempat yang gelap dan tersembunyi.
__ADS_1
"Maafkan aku buk, aku gagal melakukan tugas mu. Aku janji lain kali tidak akan mengulanginya."
"Sekali gagal, maka tidak ada kesempatan untuk kedua kalinya."
"Tolong buk, ampuni saya."
"Kau tidak bisa ku ampuni, dan harus segera menyusul teman temanmu yang lainya ke alam baka sana."
Dhea dan Tyo mengintip kembali dan melihat Tania menancapkan pisau ke perut si pria tersebut.
"Arghhh!" teriak pria itu sebelum benar benar tidak bernafas lagi.
Sontak Dhea terkejut dan hampir teriak dibuatnya.untung ada Tyo yang langsung menutup rapat mulutnya dan memeluknya erat.
Kini Dhea benar benar merasa takut setelah menyaksikan pembunuhan itu tepat didepan matanya. Dia sudah tidak sanggup berdiri dan menjatuhkan tubuhnya di atas rumput.
"Hiks, Uncle, Dhea takut, hiks." lirihnya yang sudah terisak.
Tyo diam dan tidak menjawab, memilih menggendong tubuh Dhea menuju mobil. Dengan langkah pelan dia berjalan sambil mengendap ngendap agar Tania tak mengetahui keberadaan mereka disitu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang pergi meninggalkan tempat tersebut. Membuat Dhea melanjutkan tangisnya yang tertunda.
"Hiks, hiks, Dhea takut!" menenggelamkan wajah di dada bidang Tyo. Karena saat ini ia duduk dipangkuan sang suami.
"Tenang sayang, dia tidak akan pernah menyentuhmu sedikitpun." tangis Dhea terhenti dan menatap sendu wajah didepannya.
"Uncle janji ya?" ucapnya membuat Tyo mengangguk.
***
Mengapa Tyo menjadi tidak tegas?
__ADS_1
Biar saya jelaskan sekali lagi, kalau Tyo terpaksa melakukan itu karena dia tahu kalau Tania adalah seorang wanita psikopat.
Kan dia tidak mau terjadi apa apa dengan istrinya. Okeh segitu aja sih penjelasanya.