Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Pernikahan Ryan dan Lia


__ADS_3

"Uncle yakin mau ikut?" tanya Dhea memastikan keadaan Tyo. Walau suaminya sudah pulih, ia tetap khawatir akan terjadi sesuatu nantinya.


"Tentu saja yakin, aku tidak akan melewatkan pesta pernikahan sahabatku sendiri, sayang."


"Yaudah...kalau gitu ayo kita pergi." kata Dhea lalu menarik tangan Tyo, namun tak ada pergerakan sama sekali dari suaminya.


"Lah, kok gak gerak gerak ya?" tanyanya bodoh karena terus berjalan ditempat.


"Kita mau pergi kan?"


Tyo mengangguk dan menarik pinggang Dhea agar mendekat kepadanya. Kemudian dia mencolek sekilas dagu wanitanya.


"Tidak usah terburu buru." ucap Tyo dengan nada centil.


Kalau biasanya cewe yang centil, ini beda lagi dengan Tyo. Pria itu sangat suka menggoda istri kecilnya yang menggemaskan kalau sedang marah atau malu malu.


"Aish, sudahlah Uncle, nanti kita telat."


"Kamu cantik sekali hari ini!" ucapnya yang tak menghiraukan perkataan Dhea.


"Jadi selama ini aku gak cantik?"


"Cantik, tapi tidak secantik hari ini sayang," ucap Tyo kemudian menangkup kedua pipi Dhea dan menyatukan bibir mereka.


Pria itu mencium lembut bibir Dhea hingga si empunya merasa terbang hingga ke langit ketujuh. Tyo ********** begitu lembut, megusap-usap tangannya di punggung Dhea. Hal itu membuat Dhea merasa geli sekaligus keenakan.


Namun, ditengah asiknya berpangutan, Ray datang dan mengganggu kegiatan mereka.


"Astaga, mataku terlecehkan!" ucap Ray pura pura terkejut dan menutup matanya dengan sebelah tangan.

__ADS_1


Sontak Dhea melepaskan ciumannya dan mendorong dada Tyo hingga pria itu hampir jatuh dibuatnya.


"Kak Ray dari mana aja?" tanya Dhea beralasan sambil merapikan rambut dan lipstiknya yang sudah tak beraturan.


"Hemm, dari kamar." Menunjuk kamarnya, "Baru aja siap berdandan."


Dhea melongo tak percaya, "Berdandan?" tanyanya syok.


"Iya." mengangguk angguk sambil tersenyum.


"Cih, kau pria. Kenapa harus berdandan," ucap Tyo dengan nada mengejek.


"Kau berdandan untuk siapa Kak?" tanya Dhea penasaran.


"Emm, untuk syifa." Ray malu dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Astaga Kak, pantesan aja sampe selebay itu." Dhea terkekeh.


"Sudah, sudah, ayo kita berangkat." Tyo yang tak sabaran sekaligus kesal langsung menarik tangan Dhea menuju mobil.


Ray hanya terkekeh melihat tingkah kakaknya itu. "Merajuk." ucapnya lalu ikut menyusul mereka berdua.


*****


"Selamat ya Lia, akhirnya kamu bisa menyusul aku." ucap Dhea sambil menyalami tangan Lia dan berpelukan layaknya seperti orang yang akan berpisah bertahun tahun.


"Makasih de," balasnya sok terharu, "Eh btw, lo ajarin gua malam pertama donk." bisik Lia tepat ditelinga Dhea.


Dhea hanya mendengus kesal dan tak menghiraukan ucapan Lia, ia memilih melanjutkan salaman nya dengan Ryan.

__ADS_1


"Ajarin ya de," kata Lia menaik turunkan alisnya.


Kali ini Tyo tak sengaja mendengar dan ikut penasaran, "Ajarin apa?"


"Ajarin masak masak, Uncle!" bohong Dhea kemudian menarik tangan Tyo untuk turun dari panggung pengantin. Dhea tidak mau jika Tyo tau topik perbincangan mereka soal ***-*** itu.


Dhea terus menarik tangan Tyo menuju stand makanan. Karena saat ini perut Dhea sudah berkompromi minta diisi.


Tiba tiba, langkah Dhea terhenti kala melihat sesosok pria yang saat ini berjalan mendekat kearah mereka.


"Kau?" ucap Dhea tak percaya melihat sosok di depannya.


"Ya, ini aku." balas Bimo mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dhea, namun tangan gadis itu langsung ditarik oleh Tyo.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Tyo dingin. Dia mengambil tubuh Dhea hingga gadis itu masuk ke dalam pelukannya.


"Wow!" Dia bertepuk tangan "Kau sangat pencemburu rupanya." Bimo mengangkat sudut bibirnya melihat kecemburuan Tyo terhadap istrinya.


"Tidak usah banyak bicara, sekarang aku tanya, kenapa kau ada disini?" Tyo kembali mengulang ucapannya.


"Aku di undang dalam acara pernikahan asistenmu." jelas Bimo lalu menunjuk Ryan yang juga sedang menatap kearah mereka bertiga.


"Oh iya aku lupa memperkenalkan diriku. Aku ini adalah anak dari salah satu rekan kerjamu, dan aku baru tau kalau ayahku bekerja sama dengan perusahaan mu, Tuan Tyo yang terhormat!" terang Bimo.


"Siapa?"


"Mr. Hyun, dan namaku adalah Bimo albian hyun." balas Bimo bangga dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Tyo.


Dengan tidak rela, Tyo terpaksa mau berjabatan dengan Bimo. Ia menghormati Mr. Hyun yang tak lain adalah rekan bisnis yang sudah terjalin sejak lama. Tyo tidak mau merusak bisnisnya hanya karena ke egoisanya semata.

__ADS_1


"Friends?" Bimo mengedipkan sebelah matanya kearah Dhea dan dibalas tatapan maut oleh Tyo.


"Ayo kita pergi." kata Tyo dingin lalu menarik tangan Dhea untuk mengikutinya.


__ADS_2