Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Pingsan


__ADS_3

Dhea POV


"Pulang yuk kak," ajak ku kepada kak Ray.


Aku melihat jam yang ada dipergelangan tanganku dan sudah menunjukan pukul 15:10 wib.


Aku sudah merasa sangat bosan dan mengantuk. sedari tadi mereka hanya berputar putar di taman Kota.


"Yaudah yuk."


Ray melajukan motornya bergabung dengan pengendara lainya.


Sialnya, ketika motor sudah melaju tiba tiba hujan deras turun tanpa di pinta.


Mau tidak mau kami sebagai pengendara motor menjadi korban guyuran hujan tersebut, merelakan tubuh yang basah kuyub serta kedinginan.


"Lanjut gak nih?" tanya Kak Ray dengan suara yang sedikit di besarkan, faktor hujan yang sangat deras.


"Lanjut aja," balasku dengan tubuh yang sudah menggigil.


Kepalaku rasanya sudah nyut nyutan ditambah perutku yang agak nyeri. Mungkin efek tidak makan sedari pagi kali ya.


Tetap ku paksakan diriku agar sampai secepatnya di rumah.


Tiba tiba aku merasakan tangan Kak Ray menyentuh tanganku dan membawanya melingkar di pinggangnya.


Aku tak menolak sebab aku juga takut siapa tau nanti aku tiba tiba kehilangan keseimbangan tubuhku dan jatuh kejalan.


Maaf aku belum mau mati muda, aku sadar masih banyak impian yang belum ku capai.

__ADS_1


Ku sandarkan kepalaku di bahu Kak Ray, dan pria itu terus saja menggenggam tanganku begitu erat.


Tak lama kemudian, kami sudah sampai di rumah dan aku segera turun dari motor. Kak Ray menuntunku masuk kedalam karena ia tau saat ini aku benar benar menggigil.


Kak Ray menuntunku berjalan hingga sampai didepan kamarku.


"Aku langsung ke kamar ya kak," ucapku lalu masuk ke kamarku, begitu juga dengan kak Ray.


Aku tak langsung tidur melainkan membasuh tubuhku terlebih dahulu.


Dengan kepala yang masih pusing aku keluar dari kamar mandi mengenakan handuk untuk menutupi tubuhku.


Kubuka lemari pakaian dan kuambil baju serta celana yang akan ku gunakan.


Ku lepaskan handukku begitu saja dan langsung memakai dalaman.


Baru saja aku selesai memasangkan Bra ku namun suara lantang mengusik kegiatanku.


Tentu itu membuatku terkejut dan menutupi tubuhku yang setengah telanjang menggunakan tanganku.


"Gak kemana mana," kataku kepada uncle Tyo.


Yah, orang itu adalah uncle Tyo. Aku tidak tahu sudah sejak kapan dia berada duduk dipojok kamarku. Masuk kemungkinan ia juga melihatku telanjang.


Kulihat dia berjalan mendekat ke arahku dan tentu aku berjalan mundur. Ia terus mendekat hingga aku sudah tak bisa mundur lagi karena tempat tidur yang menghalangi langkahku.


Uncle Tyo masih terus menatapku dengan tatapan membunuhnya. Situasi ini, aku tak pernah melihat kemarahan ini sebelumnya. Ia seperti siap ingin mencakar dan memakan ku habis habisan.


Aku hanya bisa mematung ditempat sambil terus menutupi tubuhku dengan kedua tanganku hingga ia berhenti tepat didepan wajahku.

__ADS_1


Dapat kulihat dari matanya seperti terpancar rasa kekecewaan, dan emosi yang mendalam. aku tidak tahu penyebab itu semua.


"Jangan bohong kamu!"


"Tadi Dhea cuma pergi sama kak Ray," ucapku jujur.


Bukanya berkurang, kini amarahnya semakin bertambah kala kukatakan nama kak Ray.


Aku berpikir apa mungkin Uncle Tyo sudah mengetahui semua kegiatan kami.


Pemikiran ku terhenti tiba tiba karena dengan sekali gerakan, Uncle Tyo sudah mendudukkan ku secara paksa dipangkuanya. sedangkan dia duduk dipinggir kasurku.


Belum sempat aku memberontak, Uncle Tyo sudah melahap rakus bibirku. Jika biasanya ia melakukanya dengan kelembutan, tetapi berbeda dengan sekarang.


Dengan kasar ia terus saja mencumbui bibirku.


Aku tak membalas dan hanya bisa menangis sejadi jadinya. Jujur, aku tidak pernah melihat uncle Tyo yang sekasar sekarang.


Bahkan lihatlah, ia sudah melepaskan pengait bra ku dan langsung meremas kasar kedua gundukan milikku.


Tidak sampai disitu, bibirnya juga dengan kasar bermain dan melahap kedua bagian dadaku. Ia terus mengulum dan menjilati di bagian tersebut.


"Arghhh, uncle hiks, hiks, sakitt, hiks." ucapku namun Uncle Tyo tak kunjung menghentikan aksinya. Bahkan ia bermain dengan semakin kasar.


Aku masih terus menangis untuk meredam rasa sakit yang kian menjadi jadi.


Tiba tiba aku merasakan pusing yang teramat sangat dan nyeri yang hebat di bagian perutku. Hingga aku merasakan seluruh pandanganku menghitam dan aku tak sadarkan diri.


Hayo di Like donk.

__ADS_1


Jejak nya jangan lupa tinggalin. hehehh


__ADS_2