Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Sikap aneh


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Dhea akan melakukan cek up rutin dan suntik penguat bagi janinnya. Sama seperti biasanya, dia akan ditemani oleh Tyo untuk pergi ke Rumah sakit tempat mereka biasa.


Saat ini mereka sudah berada disalah satu ruangan VIP khusus dokter pribadi Tyo. Tau kan, paman yang kemaren kemaren itu. Nah itu dia.


Setelah melakukan beberapa prosedur, mereka akhirnya sudah diperbolehkan pulang.


"Terima kasih dok," Tyo menyalami dokter dan langsung keluar dari ruangan itu diikuti Dhea disampingnya.


Dhea terus saja memeluk lengan Tyo manja seolah akan pergi jauh entah kemana. Ke mars mungkin tak hanya di lengan, kini Dhea sudah memeluk erat tubuh suaminya meski mereka sedang keadaan berjalan. Dhea seolah tak peduli dengan orang yang berada disekitarnya yang terus memperhatikan kegiatan bermanja manja Dhea dengan suaminya.


Mungkin mereka mengira, Dhea seolah memamerkan kalau dia memiliki seorang suami yang sangat diidam idamkan oleh para kaum hawa. Masa bodoh dengan para penonton, Dhea tetap memeluk Tyo dan menghirup dalam dalam aroma tubuh yang selalu menjadi candu baginya. Dia seolah merasakan ketenangan setiap berada didekat Tyo.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Tyo heran dengan sikap Dhea namun tetap membalas pelukan Dhea.


"Dhea pengen meluk aja," ucap Dhea masih sibuk dengan kegiatannya.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba diparkiran khusus untuk para dokter dan perawat disana. Tyo sengaja memarkirkan mobilnya disitu, agar ketika ingin mengambilnya lebih dekat dengan jalan kata dan memudahkan dia untuk tidak harus memutar mutar mobil baru bisa tancap gas.


Tyo menarik tangan Dhea untuk duduk disalah satu bangku panjang yang masih berada diarea parkiran tersebut.


"Ada apa, emm?" ucap Tyo lembut dan mendudukkan Dhea di pangkuannya.


"Dhea gak mau pisah dari Hubby," kata Dhea gamang.


"Hye lihat aku!" Tyo mengambil dagu Dhea agar bisa menatap matanya intens, "Emang yang mau ninggalin kamu siapa?"


"Gak ada!" jawab Dhea. Kemudian dia mengecup sekilas bibir Tyo namun Tyo malah menahan bibirnya dan ******* bibi Dhea lama.

__ADS_1


Dhea juga ikut terhanyut dalam penyatuan lidah mereka, hingga saat Dhea kehabisan nafas dan Tyo baru melepaskan ciumannya.


"Hubby ada Cctv disitu," cicit Dhea menunjuk sebuah alat perekam yang tertempel didinding yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.


"Biarin, mereka gak bakal berani negur bosnya." Tyo menggerakkan tangan menyentuh perut dhea yang sudah membuncit. Dia mengelus lembut dan mengecupnya.


"Kamu baik baik aja disana ya sayang," ucap Tyo sambil terus mengelusi perut Dhea yang tertutupi oleh baju hamil khas emak emak muda. Tidak pendek dan tidak panjang juga. panjangnya sampai dibawah lutut kok.


Seolah paham, bayi yang ada dikandungan Dhea merespon dengan menendang kuat dan membuat Dhea meringis sebentar.


"Sakit?" tanya Tyo yang melihat wajah Dhea menahan sakit.


"Enggak!" Dhea sengaja berbohong agar dia bisa melihat lebih lama kedekatan komunikasi antara ayah dan calon bayi mereka.


"Pelan pelan donk nendang nya anak papa yang baik." Tyo dengan santainya mengangkat tubuh Dhea dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah mendudukkan Dhea, Tyo bergerak kearah kursi kemudi dan langsung melajukan mobilnya.


"Maaf mba, apa ada yang luka" Tyo turun dari mobil dalam keadaan panik. dia melihat wanita itu memegangi luka goresan di siku kananya dan membersihkan sisa sisa pasir yang menempel pada lukanya.


"Emm.. gak papa pak. Maaf karena saya gak lihat jalan," ucap wanita itu tersenyum ke arah Tyo.


Tyo membalas senyum wanita itu meski sedikit canggung, lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikanya kehadapan si wanita tersebut.


"Ini mba, sebagai rasa bersalah saya atas kejadian ini." Tyo terus menyodorkan uang tersebut namun terus ditolak oleh si wanita.


"Maaf pak, gak usah. Saya masih bisa ngobatinnya pakai uang saya sendiri. Terima kasih pak."


"Tapi m--" ucap Tyo terpotong.

__ADS_1


"Gak papa pak. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap wanita itu lalu berlalu begitu sajameninggalkan Tyo.


Setelah dirasa aman, barulah Tyo masuk ke mobil dan langsung dicerca banyak pertanyaan oleh Dhea.


"Dia gak kenapa kenapa kan bi? dia gak marah kan? gak rempong kan? mau maafin kan?" tanya Dhea beruntun.


"Pelan pelan donk tanya nya sayang." ucap Tyo yang mulai melajukan mobilnya kembali.


"Heheh, maaf. Habis Dhea khawatir."


"Dia gak kenapa kenapa. Tapi sewaktu Hubby mau ngasih uang buat obatin lukanya dia malah nolak."


"Mungkin dia segan bi, kan gak semua orang juga yang bisa disogok dengan uang."


"Benar juga sih. Tapi kan Hubby ngasihnya ikhlas."


"Dia kan gak tahu itu, yang dia tahu itu kalau Hubby muka nya garang." ucap Dhea cengengesan diakhir kalimat.


"Kok ngeselin sih, tapi aku sayang." Tyo yang gemas menggigit pelan kelima jari jari Dhea sekaligus.


Bukanya merasa sakit, Dhea malah tertawa melihat Tyo yang sudah memasukan jari jari istrinya kedalam mulutnya.


"Rasain!" Tyo terus menggigit satu persatu jari jari Dhea hingga meninggalkan bekas merah.


"Gak sakit, wlekk." ejek Dhea menjulurkan lidahnya kearah Tyo.


"Auah, kamu emang ngeselin tapi ngangenin." Tyo yang sudah malas memilih fokus mengendarai mobilnya.

__ADS_1


"Hahahha...dady kamu marah nak." Dhea mengelus lembut perutnya dan tersenyum kearah Tyo.


__ADS_2