Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Menasehati


__ADS_3

"Assalamualaikum," Kata seseorang dari luar rumah Tyo.


Dhea berjalan kearah pintu dan membukakan pintu untuk Lia. "Wa'allaikumsalam, sebentar!" Teriaknya.


Ceklek.


pintu terbuka dan tanpa disuruh, Lia sudah menerobos masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan Dhea dibelakangnya.


"Woy woy, belum gua kasih izin lu ya," Ucap Dhea sambil menutup pintu dan menyusul Lia yang sudah berjalan didepannya.


"Peduli apa gua?" Melirik Dhea "Bagus juga rumah paman Tyo ya."


"Rumah gua juga ini mah."


"Elu siapanya?" Ucap Lia pura pura bodoh.


"Istrinya, kalau lu lupa," Ucapnya bangga. "Uncle sendiri mah yang bilang kalau ini rumah gua."


"Heleh, songong lu."


"Bodo amat lah, udah mana pesanan gua."


Lia mengangkat kantong kresek yang berisi telor gulung kehadapan Dhea. "Nih nih."


"Yaudah, lo duduk dulu gih, biar gua buatin minum."


"Lah emang gak ada asisten rumah tangga ya?"


"Ada kok, cuma Bik Nur bakalan balik setiap hari minggu ke rumahnya, jadilah gua yang masak plus beberes dihari minggu."


"Yaudah sono buatin gua jus sirsak, gak pake lama." Lia memerintah dan berjalan kearah ruang televisi.


"Sabar, sabar." Mengelus dadanya, "Untung temen, kalau gak udah gua smackdown tu orang." Kemudian melangkah menuju dapur.


Sedari tadi, Lia hanya bolak balik mengganti Channel untuk ditonton.


"Huh, gak ada yang menarik banget si ni televisi." Katanya kesal kepada layar televisi berukuran besar dihadapnya.


"De, pasangin kaset drakor yang kita beli kemaren kemaren donk," kata Lia setelah Dhea datang dan menaruh dua gelas jus dan cemilan di atas meja.


"Yang mana?" mendudukan diri disamping Lia "Kan kita uda banyak benget beli kaset drakor, jadi gua lupa."


"The king lo de, filmnya si Lee min ho."


"Owh itu, bentar gua ambil dikamar."


Dhea beranjak daru duduknya menuju lantai atas. Sewaktu melewati kamar Tyo, gadis itu melihat pintu kamar Tyo yang sedikit terbuka.


Dhea dengan rasa penasaran mengintip sedikit, dan melihat Tyo sedang berdiri dan seperti berbicara dengan sesorang dibalik telpon.

__ADS_1


Puas mengintip, Dhea melanjutkan rencananya masuk kekamar dan Mengambil sebuah DVD. Setelahnya ia kembali turun kebawah dan bergabung bersama Lia.


Baru saja Dhea akan duduk, namun bel rumah berbunyi.


"Huh, siapa si?" melirik Lia dan melemparkan DVD tadi kepada Lia. "Pasangin deh, gua mau bukain pintu dulu." Lia mengangguk.


Ketika sudah membuka pintu, Dhea bingung dengan orang di hadapanya ini.


Tampak seorang pria yang sepertinya seumuruan dengan ayahnya dengan berpakaian lengkap seorang dokter.


"Selamat sore, maaf anda mencari siapa ya." Ucap Dhea ramah.


Sang Dokter tersenyum menanggapi Dhea. "Saya Dokter pribadi Tuan Tyo ardiansyah, anda istrinya ya?" Tanya dokter itu.


Dhea mengangguk. Dia baru ingat kalau sore ini Tyo akan melepas perban ditangannya.


"Kalau begitu silahkan masuk dok," ucapnya mempersilahkan.


"Terima kasih nak, panggil saja saya Dokter Herman," balas pak dokter yang bernama Herman tersebut.


Setalah mengunci pintu, Dhea melangkah bersama dengan Dokter Herman menuju kamar Tyo.


Lia yang melihat Dhea melintas diikuti seorang dokter yang Lia tak tahu itu siapa, hanya mengedikkan bahunya. Ia melanjutkan menonton Drama korea kesukaanya itu.


Lia sebenarnya sudah tau kalau Tyo mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu daru Dhea.


Tyo tersenyum menyambut kedatangan sang dokter, kemudian mereka menjabat tangan ramah.


"Lama tak berjumpa paman," Kata Tyo.


"Paman sibuk Tyo."


"Hemm baiklah, bisa dimulai sekarang, aku sudah bosan melihat perban ini yang terus melekat dilengan ku."


"Hahaha, Baiklah." kata Dokter Herman sambil membuka tas yang tadi dia bawa dan mengeluarkan beberapa alat.


Dhea pamit untuk keluar kamar, ia tidak mau ketinggalan menonton drakornya.


"Uncle, Dhea kebawah dulu ya." Tyo mengangguk dan Dhea keluar dari kamar Tyo.


Dhea kesal setelah melihat Lia sudah menonton terlebih dahulu tampa dirinya.


"Lah kok gak nunggu gua?" tanyanya sambil duduk disamping Lia yang sedang memakan camilan.


"Loh sih kelamaan, bosen gua nunggu."


Dhea tak menanggapi ucapan Lia. Ia lebih memilih mengambil Telor gulung dari atas meja kemudian menyantapnya.


"Sumpah ini telor makin enak deh," puji Dhea.

__ADS_1


"B aja sih," Lia menatap sinis kepada Dhea. "Lu ngidam ya?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


Dhea terdiam sejenak kemudian tertawa, "Hahaha"


Tawanya sambil menoyor kepala Lia.


"Sakit begok, ni anak gila kali ya. Ditanya malah ketawa."


"Ya gimana enggak lucu coba, lu bilang gua hamil, Tidur aja pisah gimana mau buatnya."


Lia melototkan matanya kearah Dhea. "Sriusan lo pisah kamar de?" Tanyanya tak percaya. "Masa penganten baru tidurnya pisahan sih, gak asik banget tau gak."


Dhea kembali menoyor kepala Lia, heran melihat isi otak sahabat nya itu. Bisa bisanya dia berpikiran seperti itu, padahal dia sendiri liat kalau Dhea terpaksa menikahi pamanya.


"Goblok banget si lu, lu kan tau kalau gua tu terpaksa nikah sama uncle Tyo," kata Dhea santai sambil menyeruput jus Sirsaknya.


"Yaelah De, lo tu harus menerima ini de, mau gak mau, suka gak suka, terima gak terima, elo itu udah menjadi istri sahnya paman Tyo. Jadi lo harus merubah jalan pikiran lo tu. Mau sampe kapan coba lu jauhin paman Tyo."


Dhea tampak berpikir. Sebenarnya yang dikatakan Lia itu ada benarnya.


"Ni ya de, gua kasih tau ke elu. Kalau uncle Tyo itu Laki laki dewasa kan(Dhea mengangguk) Nah dia tu juga ada kebutuhan biologis de. Masa elu sebagai istrinya nganggurin sih, kan kasihan dianya tersiksa." kata Lia menasehati sahabatnya itu.


Dhea hanya mengangguk anggukan kepalanya.detik kemudian ia tersadar dan bergidik ngeri.


"Masa iya gua harus kasi jatah li, serem ih." katanya takut.


"Yaelah de, itu mah uda jadi tugas lo."


"Gak mau, gua takut ih. Gua tu masih mau jadi perawan cantik ya."


Lia hanya menggeleng gelengkan kepala dengan tingkah sahabatnya itu.


"Yang orang tau, kalau uda nikah brarti udah gak perawan, hahaha." Lia tertawa keras.


Dhea kesal karena Lia mentertawakannya. "Kan hanya orang orang tertentu yang tau gua sama uncle Tyo uda nikah,"


Lia menghentikan tawanya dan mengangguk paham. "Iya iya, gua paham"


"Good."


Tak lama kemudian, Dhea melihat Dokter Herman turun kebawah dan berjalan mendekati mereka.


"Loh, uda ya dok?" Tanya Dhea heran.


"Udah nak, lagian luka Tyo sudah sembuh total, hanya perlu sedikit antiseptic saja dan perbanya suda saya buka."


Lia dan Dhea mengangguk. "Yasudah, saya pamit dulu ya," ucapnya kemudian melangkah ke arah pintu yang diikuti oleh Dhea.


Setelah mengantar Dokter Herman kedepan, Dhea kembali duduk bersama Lia. Ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2