Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Kelahiran Deo


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian. Dhea sudah tiba pada hari dimana dia akan melahirkan anak pertama mereka.


Setelah bersusah payah, akhirnya terjunlah seorang bayi pria tampan yang wajahnya sangat mirip dengan Tyo. Kalau dilihat lihat, mungkin hanya bibirnya saja yang mirip dengan Dhea. Tipis dan kecil.


"Oekk, oekk." kira kira seperti itulah suara bayi laki laki mereka ketika sudah siap di adzanin oleh Ayahnya.


"Terima kasih sayang." Tyo meletakkan putra mereka di samping tubuh Dhea dan mengecup lama kening istrinya tersebut.


Tyo terharu dengan seberapa besar perjuangan Dhea ketika ingin melahirkan putra mereka. Nafas yang hampir habis dan tenaga ekstra dibutuhkan secara bersamaan.


Bagi mereka yang berpengalaman, pasti paham saat merasakan rasa sakit yang berlipat lipat ganda ketika akan melahirkan manusia baru ke dunia ini.


Perjuangan seorang ibu tidaklah mudah. Mereka akan dengan suka rela mempertaruhkan nyawa hanya demi kebahagiaan anak anaknya. Sosok ibu akan mengenyampingkan kebutuhannya hanya karena kepentingan anaknya yang tidak seberapa itu.


"Dhea capek Hubby." keluh Dhea tapi masih mencium lembut wajah putra kecilnya.


"Kamu istirahat saja dulu, biar Hubby yang jagain baby kita."


"Tidak apa-apa, Hubby aja yang istirahat Dhea masih bisa tahan kok."


"Gak! kamu yang lemah sayang, jadi beristirahatlah. Aku tidak mau melihat mu kelelahan lagi seperti ini."


"Maksud Hubby?"


"Kita sudahan aja ya buat dede bayinya. Pasti rasanya sangat sakit ya?" tanya Tyo menyentuh lembut perut Dhea yang sudah berubah menjadi datar.


"Selagi Dhea masih sanggup, Dhea masih pengen buat 1 lagi."


"Apa?" tanya Tyo tak percaya. Bagaimana mungkin istrinya yang lebih bersemangat dari pada dirinya?


"Iya." Dhea hany mengangguk polos lalu mencubit kecil hidung mancung suaminya itu, "Hubby jangan nakal nakal yah sama Mami, Dhea ampun ngerasainya."


"Iya, sayang. Hubby janji gak bakal nakal nakal lagi."


"Yaudah, gih tidur," usir Dhea kepada Tyo.


"Tidak mau!" Tyo berjalan memutari kasur Dhea lalu berbaring di samping kanan istrinya itu. Untuk apa dia tidur di sofa, sementara kasur istrinya sangat lebar dan cukup untuk 3 orang sekaligus.


"Maunya tidur sama kamu dan Deo saja"


"Deo?"


"Iya. Nama anak kita adalah Deo Giovano."


"Bagus banget bi, Dhea aja gak kepikiran loh."

__ADS_1


Tyo tersenyum dan memeluk tubuh Dhea. "Deo artinya Dhea dan Tyo. Kalau Giovano itu keinginan kamu kan? " tanya Tyo karna beberapa kali mendengar Dhea berbincang dengan bayi mereka ketika masih di dalam kandungan.


"Heem... Hubby tau aja."


"Arti Giovanno itu apa?" tanya Tyo. Tangannya bergerak memindahkan tubuh bayi kecil Deo ke tengah-tengah mereka.


"Kesayangan Mama dan papa nya."


"Ooh"


"Bi!"


"Hmm" Tyo berdehem masih sambil mengelus lembut tangan kecil bayi mereka.


"Kok wajah Dio mirip nya sama Hubby semua sih, Dhea gak kebagian tahu."


"Hahaha, tapi kan bagus. Dia jadi tampan kalau ikut wajah papanya. Kalau ikut kamu nanti dia cantik donk."


Dhea tak menjawab karna Deo kecil menangis kelaparan. Dhea yang paham langsung menarik bajunya ke atas dan tak lupa branya sebelah. Setelahnya, barulah dia menyusui Deo di hadapan Tyo.


"Ini anak mama kok lucu banget sih."


"Bibirnya mirip kamu sayang," ucap Tyo.


"Kok aku kepengen juga ya," gamang Tyo meneguk saliva kasar.


"Hah?! Hubby pengen apa?" tanya Dhea polos.


"Itu," menunjuk payudara Dhea yang terbuka.


"Igh" Dhea yang kesal langsung mencubit lengan kekar Tyo, "jatahnya ditunda dulu ya... Dhea masih capek bi."


"Iya sayang, aku paham kok. Aku masih bisa nahan kalau cuma sebentar." Tyo terus memperhatikan gerak gerik Dhea yang memakai kembali branya. Deo kecil yang sudah kenyang kembali melanjutkan tidurnya.


Baru saja Tyo akan mencium Dhea, namun suara ketukan pintu mengganggu kegiatanya dan memilih mengacak rambut frustasi.


"Hahaha" Dhea tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar bayi Deo tidak terganggu.


"Masuk!" ketus Tyo lalu turun dari kasur Dhea.


Detik kemudian, terlihat Bastian memasuki ruangan bersama dengan Lisa, Ryan dan Lia.


"Maaf telat, " Semangat Lia dan menghampiri Dhea dengan membawa beberapa bingkisan yang Dhea tak tahu apa isinya.


"Nih buat kamu, sama dede bayinya," ucap Lia meletakkan bingkisan bingkisan itu di atas meja.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu sayang?" tanya Lisa yang menaruh punggung tangannya di dahi Dhea. Tak panas dan masih normal.


Bukanya menjawab, Dhea malah memeluk Lisa sambil menitikkan air matanya. Dia kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu ketika dirinya berjuang menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Maafin Dhea yang bun karena selama ini Dhea banyak nyusahin bunda sama ayah, Dhea janji gak akan ngulangin lagi."


"Iya Sayang, kami maafin. Tapi nangisnya udahan donk, kasihan Bayimu yang juga ikut menangis."


Dhea tersadar namun dia kalah cepat dari Tyo. Pria itu sudah menggendong Deo dan membujuknya agar berhenti menangis.


Pemandangan indah itu tak luput dari kedua bolam mata Ryan. Pria itu tersenyum senang dengan kebahagian bosnya meski sedikit iri melihat keluarga kecil indah di hadapanya saat ini.


Suami mana yang tidak menginginkan seorang bayi hadir di tengah tengah rumah tangga mereka. Namun kembali lagi kepada Ryan yang tidak terlalu memaksakan kehendaknya dengan Lia. Ia paham betul jika gadis nya itu masih belum siap dan masih dalam masa mencocokkan diri dengan profesinya sekarang.


Jangan tanyakan dimana Ray dan Syifa. Karna mereka juga baru tiba dan langsung memeluk Dhea erat.


Tentu Dhea heran dengan sikap Ray yang tiba tiba memeluknya.


Sekedar info. Ray dan Syifa sudah melangsungkan acara pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang mereka masih belum dikaruniai seorang anak. Atau memang gak niat ya?


"Apa apaan kamu main peluk peluk istri saya." kesal Tyo menarik tubuh Ray menjauh dari Dhea dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangan yang satunya lagi dibuat untuk menggendong Deo kecil.


"Aishh, over protektif nya masih belum hilang juga ya. Padahal kan aku cuma terharu saja dengan kekuatan supernya Dhea." Ray menaik turunkan alisnya ke arah Tyo dan malah dibalas tatapan tajam oleh pria itu.


"Gak usah lebay kamu!"


"Idih, sosoan bilang lebay. Coba kakak yang melahirkan pasti kakak gak bakal sanggup?"


"Emang kamu pernah nyoba?"


"Heheh, enggak sih. Tapi setiap kali Ray melawan sama mami, dengan santai mami bilang gini 'jangan jadi anak durhaka kamu Ray, mami udah hampir mati ngelahirin kamu di dunia ini dan kamu malah seenaknya ngebantah ucapan mami'." ucap Ray menirukan suara Maminya.


"Hahaha" mereka semua tertawa melihat ucapan konyol Ray yang tak terduga.


"Owhh... Uda berani ya ngegosipin Mami dibelakang?Hmm, berani kamu yah, rasakan ini." tiba tiba saja Mami datang dan menarik keras daun telinga Ray.


"Ampun Mi, ampun. Ray tadi khilaf doank Mi." bela Ray.


"Kali ini mami ampuni, awas aja kalau ngulangi lagi." Mami melepaskan jewerannya dan mendekat ke arah Dhea.


Mami menggenggam erat jari jari Dhea dan mencium kening gadis itu. "Terima kasih banyak ya sayang udah nepatin janji kamu. Mami senang degh."


"Mami kapan nyampainya?" tanya Bastian. Dia heran kapan maminya tiba karena tidak ada kabar sama sekali kalau Mami akan datang ke Indonesia.


"Ini suprise donk!"

__ADS_1


__ADS_2