Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Pesta yang indah


__ADS_3

"Gimana uncle, cantik gak? " tanya Dhea memutar pelan tubuhnya agar Tyo bisa menilai penampilannya malam ini.


Gadis itu tampak cantik setelah baru saja selesai di makeup kan oleh salah satu pegawai salon terkenal di Kota Jakarta ini.


Tyo begitu terkesima dengan penampilan istrinya tersebut. Dhea memang cantik ketika belum di makeup, tapi lebih cantik lagi bila sudah diberi polesan diwajahnya.


"Sempurna!" ucap pria itu menyunggingkan senyum manisnya.


Semua karyawan yang berada disitu dibuat terkesima oleh senyum manis seorang Tyo Ardiansyah. Tentu saja mereka kenal siapa dia, karna namanya yang cukup tenar di seluruh tanah air berkat kesuksesannya sekarang.



Seperti inilah kira kira bentuk Dhea sekarang.


"Ekhem!" Dhea berdehem menyadarkan Tyo yang sedang menikmati pemandangan indah di depanya.


"Yasudah kalau begitu ayo kita pergi." ucap Tyo memegang lengan Dhea dan masuk ke mobil.


15 menit diperjalanan dan akhirnya mereka sampai disalah satu hotel berbintang milik Tyo.


Tyo turun dan membukakan pintu untuk Dhea lalu memberikan lengannya agar bisa menuntun gadis itu tetap berjalan disampingnya.


Mereka berjalan memasuki aula hotel yang sudah disulap sedemikian rupa indahnya. Semua mata tak lepas memandangi kedua pasangan sempurna itu, ada yang mendukung tetapi tidak sedikit pula yang iri melihat Dhea bisa menjadi pasangan seorang Tyo.


Dhea hanya bisa menundukkan kepala, begitu takut melihat tatapan tatapan membunuh dari para fans suaminya.


"Gak usah takut, kamu harus pede." ucap Tyo menyadari ketakutan Dhea.


"Makasih uncle." Mengeratkan pegangannya di lengan Tyo.


Mereka terus berjalan hingga sampai ditempat duduk yang memang dikhususkan bagi orang orang terpenting di acara tersebut. Misalnya Tyo sebagai CEO.


"Kayaknya Lia sama kak Ryan belum datang ya uncle?" tanya Dhea.


"Sebentar lagi."


Tak lama kemudian, datanglah sosok Lia dan Ryan yang kemudian ikut bergabung dimeja Tyo dan Dhea.


"Hye, aku datang." kata Lia bersemangat dan memandangi sekitarnya.


"Lama yah!" ucap Dhea ketus.


"Macet."

__ADS_1


"Liat apaan lo? " tanya Dhea karena sedari tadi ia melihat Lia yang terus terus memandangi sekitarnya, seperti sedang mencari seseorang.


"Cari cogan de, buat masa depan yang indah." katanya sambil membayangkan betapa bahagia hidupnya jika menikah dengan cogan, dan kaya raya. Pastilah sangat menyenangkan, bukan?


"Aish, Kak Ryan kan ada," kata Dhea menunjuk Ryan yang saat ini sedang membicarakan sesuatu dengan Tyo.


"Kak Ryan kayaknya gak mau deh sama gua, makanya gua cari cari pasangan," ucapnya sedikit berbisik namun masih bisa didengar oleh Ryan dan Tyo.


"Jadi lo mau kalau misalnya ditembak Kak Ryan?" tanya Dhea penasaran seperti apa nanti kisah cinta sahabatnya itu.


"Hmm, terima laj. Kak Ryan itu orangnya baik, ganteng, setia juga, pokoknya the best lah."


"Saya masih bisa dengar," ucap Ryan setelah pembicaraan nya dengan Tyo berakhir lalu memfokuskan pandangan ke wajah Lia yang berada disampingnya.


Lia dibuat gelagapan dengan tatapan Ryan kepadanya. Sampai sampai tubuhnya melemas seketika.


"Kamu cantik malam ini," ucap Ryan mencubit kecil pipi kiri Lia.


Lia tersenyum mendengar ucapan Ryan yang memuji dirinya.


"Heheh, kayaknya kita ganggu deh uncle."


"Ryan ternyata bisa bucin juga," ucap Tyo melihat perubahan sahabatnya itu.



"selamat malam semua," ucap seorang MC wanita dari atas panggung menggunakan Pengeras suara.


"Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar besaranya karna para hadirin mau menyempatkan diri untuk hadir diacara hari jadinya perusahaan kami tercinta yaitu, T. E.O GROUP. "


"Baiklah acara langsung saja kita mulai dan akan diawali oleh kata penyambutan dari CEO perusahaan yakni Tuan Tyo ardiansyah, kepada beliau waktu dan tempat kami persilahkan**"


Tyo yang mendengar namanya dipanggil lantas langsung naik ke panggung untuk membuka acara tersebut.


"Selamat Malam, saya Tyo Ardinsyah mengucapkan terima kasih karena kalian sudah mau hadir di acara hari jadi perusahaan saya ini,"


"Saya sebagai CEO perusahaan meminta doa kalian agar perusahaan saya bisa maju lagi kedepanya. "


"Dan Satu lagi, Saya memperkenalkan Kepada kalian semua bahwa istri saya yaitu Nyonya Tyo Ardiansyah juga hadir dalam acara bahagia ini*"


Tyo menunjuk dimana tempat Dhea duduk.


Sontak Dhea terkejut dan malu karena semua orang sudah mengalihkan pandangan ke arahnya.

__ADS_1


"Baiklah hanya itu yang bisa saya sampaikan, lebih kurang saya undur diri. " ucapnya lalu turun dari atas panggung menuju mejanya.


"Uncle kok ngomong gitu sih?" ucap Dhea kesal dengan pria yang berada disampingnya saat ini.


"Emang ada yang salah? Kan kamu memang istri saya." ucap Tyo sambil tersenyum jahil.


"Ish kan, pake senyum senyum segala. Gak tau apa aku malu banget ditatap kayak tadi?"


"Ah elah de, yang ada semua orang pengen banget berada diposisi lo. Makanya mereka sirik liat lo." kata Lia yang mendukung ucapan Tyo.


"Itu benar!" bela Tyo.


"Serah lah serah, aku mah apa atuh." Dhea pasrah.


"Jadi selingkuhan kamu." Lia malah menyambung ucapan Dhea yang persis seperti lirik lagu cita citata.


"Btw de, kok lo agak cantikan ya malam ini? Mungkin kecantikan gue nurun ke lu yah?" ucap Lia memuji Dhea, tak lupa juga dirinya.


"Masa sih? aku biasa aja deh kayaknya."


"Kamu memang cantik sayang," bisik Tyo tepat ditelinga gadis itu dan dibalas pukulan kecil dari Dhea di lenganya.


"Lo juga deh li."


"Kalau gua mah gak perlu diragukan lagi de, udah dari sononya mah," ucap Lia kepedean meski sebenarnya fakta.


"Heem, pantesan Kak Ryan klepek klepek sama lo yah?" tanya Dhea santai.


Sontak Ryan yang sedang minum langsung terbatuk-batuk kala namanya disebutkan oleh Dhea. Dia terkejut karena apa yang dikatakan istri bosnya itu benar adanya.


"Hahahah," tawa Tyo dan Dhea.


"Busyet dah, kebanyakan makan micin lo de." Lia menjadi malu malu oleh perkataan Dhea barusan. Namun ia berusaha menutupinya.


"Pipi lo udah kayak tomat busuk, tau gak?"


"Mana ada!" kesal Lia lalu memegangi kedua pipinya yang sudah blusshing.


"Hahaha, bucin lo Li."


"Gak kebalek ya." ucap Lia sinis.


"Lupakan lupakan, mending kita makan saja."

__ADS_1


Mereka berempat memutuskan untuk makan malam dengan penuh hikmat di acara indah tersebut. Jarang jarang mereka bisa berpasang pasangan seperti sekarang ini.


__ADS_2