Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Merasa bersalah


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi oleh Tyo melaju begitu cepat dalam membelah jalanan ibukota. Sepertinya keadaan sangat mendukung karena jalanan tidak terlalu macet di pagi menjelang siang seperti sekarang.


Ryan yang fokus menyetir juga ikut khawatir dengan keadaan istri bosnya. Dia melihat sedari tadi Dhea merintih menahan kesakitan. Matanya juga tak sengaja melirik dari kaca mobil depan kearah kaki Dhea yang terus dialiri darah segar tanpa henti hentinya.


"Ryan, lebih cepat lagi." perintah Tyo yang merasa kalau mobil berjalan lebih lama dari biasanya. Padahal dianya saja yang terlalu khawatir.


"Iya pak."


"Hu-bby, sak-it." lirih Dhea. Meremas kuat perutnya berharap bisa mengurangi rasa sakit.


"Sabar sayang, tetap bertahan demi aku dan anak kita." Tyo memberi semangat dan terus mengusap keringat yang bercucuran di dahi istrinya.


"Dh-ea u-da ga-k k-uat!" ucap Dhea sebelum akhirnya menutup mata dan pingsan.


"DHEA!" Tyo menitikkan air mata sedih dengan keadaan istrinya. Dia merasa pasti itu rasanya sangat sangat sakit sehingga Dhea tak kuat menahannya.


***


"Bagaimana dengan istriku Ryan?" tanya Tyo yang terus berjalan mondar mandir didepan pintu kamar ruang inap Dhea saat ini.


Bila dihitung dengan jam, mungkin mereka sudah menunggu selama dua setengah jam lamanya.


Tyo menyandarkan diri di kursi dan mengusap kasar wajahnya. Masih terus merutuki diri karena keteledoran dalam menjaga Dhea.


"Cepat kau cek Cctv yang ada di rumahku Ryan. Aku harus tau siapa pelaku yang menyebabkan Dhea menjadi seperti sekarang," ucap Tyo sambil mengeluarkan hp dari saku celananya.


Pria itu hendak memberi tahu keadaan Dhea kepada mertuanya melalui pesan. Bagaimanapun, orang tua Dhea wajib tahu kondisi anak mereka saat ini.


Tak lama kemudian, Dokter keluar dari kamar inap Dhea membuat Tyo dengan cepat menghampirinya.


"Keluarga ibu Dhea ardiansyah," terang sang Dokter.


"Saya suaminya dok, bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Tyo tak sabaran.


"Kondisi istri dan bayi anda dalam baik baik saja pak, hanya saja... " Dokter menggantung kalimatnya.


"Hanya saja apa dok?"


Dokter tampak menghela nafas kasar lalu berucap, "Hanya saja kondisi kandungan ibu Dhea melemah setelah kejadian tersebut. Anda juga harus rajin ke Rumah sakit untuk menyuntikkan vitamin penguat bagi sang janin. karena jika terlambat, si bayi akan dengan mudah terkena kelainan atau bisa saja menjadi cacat."


"Satu lagi! Anda harus selalu menghibur istri anda agar dia tidak mudah stres. Karena jika si Ibu stres, itu akan berakibat fatal kepada kesehatan sang bayi. Dan jangan lupa memberi makanan yang bergizi kepada si Ibu agar bayinya menjadi sehat," sang Dokter menjelaskan dengan panjang lebar.


"Baiklah dok, terima kasih. Apakah saya sudah boleh masuk kedalam?"

__ADS_1


"Tentu saja."


Setelah bersalaman dengan si Dokter Tyo langsung masuk ke kamar inap Dhea. Dia tidak memperdulikan Ryan yang terus memanggil namanya, karena baginya yang terpenting sekarang adalah keadaan Dhea.


"Sayang, maafkan aku yang sudah gagal menjaga mu." ucap Tyo dengan suara pelan sambil mencium tangan Dhea. Tak lupa juga dia mengecup lama perut rata Dhea yang ditutupi oleh pakaian khas rumah sakit pada umumnya.


"Pak, saya ada kabar penting," ucap Ryan yang masih berdiri didepan pintu. Dia akan masuk jika Tyo memberinya izin terlebih dahulu.


"Nanti saja, saya sedang sibuk Ryan," ujar Tyo tanpa menoleh kearah Ryan. Dia masih sibuk menghujani tangan Dhea dengan kecupan kecupan singkat.


"Baik bos!" Ryan memutar tubuhnya dan kembali keluar dari ruangan tersebut. Dirinya paham betul jika saat ini, bosnya sedang butuh waktu untuk merawat istrinya.


Perlahan tapi pasti, Dhea mengerjap kan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Kemudian dia menoleh kesamping dan mendapati Tyo yang juga sedang menatapnya.


"Hubby, bagaimana kondisi bayi kita?" tanya Dhea sambil mengusap usap perut ratanya.


"Bayi kita baik baik saja sayang...Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu ya." Tyo menundukkan kepala, merasa bersalah.


"Ini bukan salah Hubby...Jika ada yang disalahkan maka itu adalah keadaan." Dhea menatap kosong ke langit langit kamar yang berwarna putih terang.


"Kenapa begitu?" tanya Tyo menaikkan kepalanya dan menatap Dhea bingung.


"Keadaanlah yang memaksa dia untuk melakukan semua ini. Dia tidak terima jika kenyataan mengubah dirinya menjadi lebih buruk lagi, bahkan telah menghancurkan segala angan angan yang pernah terbesit dipikirannya."


"Maksudnya?" Tyo masih tidak paham dengan arah pembicaraan Dhea. "Dia itu siapa?"


"Jadi, Tania lah yang menyebabkan semua ini terjadi?"


"Heem." Dhea mengambil tangan Tyo lalu menggenggamnya erat, "Dhea mohon sama Hubby, agar Hubby tidak menyakiti Kak Tania."


"Tapi sayang?"


"Dhea mohon Hubby, ini demi kebaikan anak kita." Dhea meyakinkan suaminya agar tidak membalas dendam atas semua tindakan yang telah Tania lakukan kepadanya.


"Bagaimana jika dia menyakitimu lagi?"


"Itu tidak akan lagi."


"Baiklah, aku janji!" ucap Tyo mantap.


"Makasih Hubby."


"Aku memang berjanji untuk tidak menyakiti Tania, tapi tidak dengan Ryan. Kau tunggulah pembalasanku Tania?"

__ADS_1


Batin Tyo tersenyum puas.


Lamunan Tyo terhenti setelah pintu ruangan tersebut terbuka, menampilkan sosok Bastian dan Lisa disampingnya. Wajah mereka juga sangat panik.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Lisa yang tak sabaran langsung menghampiri Dhea dan memeluknya erat.


Sungguh. Lisa tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk kepada putri semata wayangnya tersebut.


"Dhea baik baik aja kok bun." Dhea tersenyum untuk meyakinkan orang tua nya jika keadaanya benar benar baik.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" kali ini Bastian penasaran dengan tragedi yang menimpa putrinya.


Dengan sabar, Dhea menjelaskan semua yang terjadi dengan dirinya dan Tania tanpa memakai sensor sedikitpun.


"Kurang ajar sekali perempuan itu," kesal Bastian setelah Dhea selesai bercerita. dia hendak pergi menjumpai Tania, tapi ditahan oleh Lisa sang istri.


"Sabar yah, biar hukum yang menyelesaikannya." Lisa berusaha menenangkan sang suami dengan mengusap lembut lengan kekar Bastian.


"Tapi bun?"


"Sudah sudah, tidak ada tapi tapian yah. ymYang terpenting sekarang adalah kondisi Dhea. kita harus menjaganya lebih ketat lagi."


"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan bodyguard khusus untuk putri kita."


"Tidak perlu Yah, karena Tyo sudah menyuruh dua orang penjaga untuk mendampingi Dhea kemanapun dan dimana pun nantinya," Tyo menunjuk kearah pintu yang mana sudah ada 2 orang lelaki berbadan kekar dengan setelan jas rapi berdiri memunggungi mereka saat ini.


Dua orang tersebut baru saja tiba setelah Ryan memberikan info dan tugas mereka masing masing. Yang mana mereka harus berjaga 24 jam lamanya untuk mengawasi keamanan Dhea.


"Baguslah!" lega Bastian. "Mulai sekarang, kamu harus lebih hati hati sayang," Bastian duduk dipinggir ranjang dan mencium pucuk kepala putri kesayangnnya.


"Iya ayah, maafin Dhea yang kurang hati hati."


"Pintar!"


"Bagaimana kondisi bayi kalian, sayang? dia baik baik saja kan?" tanya Lisa.


"Tentu saja baik, bun." ucap Tyo.


"Allhamdulilah."


***


Hye, mon maap karna hari ini aku cuma bisa up nya segini.

__ADS_1


Btw, aku mau merekomendasikan cerita unik dengan kalian yang berjudul, "***pernikahan paksa sang pewaris*" jan lupa mampir ye.


Tetap semangat**!!!


__ADS_2