Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Berkunjung kerumah Lia


__ADS_3

"Dadah.....cari duit yang banyak ya suamiku!" ucap Dhea mencium punggung tangan Tyo. Dia mengantar suaminya untuk bekerja sampai di depan pintu saja. Tidak mungkin kali sampai ke kantornya kan?


"Iya sayang, kamu hati hati di rumah, okeh! Telpon saya bila butuh sesuatu." mengecup lama kening gadis itu lalu masuk kedalam mobil.


Dhea mengangguk dan menatap punggung Tyo lama sebelum masuk kedalam mobil. Perlahan mobil bergerak meninggalkan pekarangan luas tersebut.


"Babay!" melambai lambaikan tangan kearah mobil Tyo yang sudah mulai menjauh dan hilang dibalik pagar.


"Cari Kak Ray dulu ah," katanya masuk kembali ke dalam rumah.


Dia ingin mengajak Ray bermain main di rumah Lia. Dhea bosan karena Lia terus yang datang ke rumahnya, sementara dirinya sudah jarang pergi ke rumah sahabatnya itu. Apalagi Dia juga merindukan maminya Lia yang cantik dan baik tentunya.


"Kak Ray bangun oik, uda maghrib ini!" teriak Dhea dari depan pintu kamar Ray. Ia masih terus mengetuk pintu kamar Ray karena tak kunjung mendengar sahutan dari penghuni Ghoib kamar tersebut.


"Kak Ra--"


"Iya iya, bentar ah!" jawab malas Ray dari dalam. Pria itu kesal dengan Dhea karena telah mengganggu mimpinya yang bertemu bidadari surga. Bermimpi menikahi perempuan itu lalu memiliki anak yang banyak dengannya. Sangat banyak!


"Gangguin aja kamu ni yah," ucap Ray setelah membuka pintu dan nampak lah wajah ceria Dhea yang tanpa rasa bersalah.


Dhea berusaha menahan tawanya saat melihat wajah murung Ray dan tak lupa rambut berantakan khas orang baru bangun tidur. Tapi hal itu tidak mampu menghilangkan ketampanan dari wajah pria itu.


"Pagi Kak...aku ganggu mimpi kakak ya?" tanya gadis itu lalu menerobos masuk ke kamar Ray.


"Iya.. tapi mimpi basah, hahaha."


"Hahaha," Dhea ikut tertawa garing, tapi didalam hati ia terus memaki pria tersebut.


"Hahah, aku becanda kok... btw ada apa De, kok tumben tumbenan manggil aku sepagi ini?"


Dhea menatap heran kepada Ray ketika pria itu mengatakan 'sepagi ini'. gak liat apa jam udah nunjukin pukul 09:11. Dan dia bilang ini masih pagi banget, Huh.dasar pria, keenakan karena gak pernah kerja di rumah.


"Emm, aku mau ngajakin kakak buat main ke rumah Lia." katanya lalu mendudukkan diri dipinggir ranjang Ray, Dia menatap takjub kearah foto yang ada di atas nakas.


Sebuah foto yang menampilkan seorang pria yang kira kira berumur 15 tahun sambil memegang piala besar. Yang Dhea tahu itu adalah foto Ray saat pria itu memenangkan lomba sepak bola.


"Juara 1 Kak?" menunjuk Foto di atas nakas.


"Hmm." Ray hanya menoleh sebentar lalu sibuk kembali memilih baju yang akan dia kenakan.


"Sepak bola?"


"Hmm."


"Tingkat?"


"Dibawah Nasional gitu Deh." yang di maksud Ray adalah tingkat provinsi.


"Bagus donk, tapi kok kakak yang pegang pialanya? Kan sepak bola itu mainnya gak tunggal tapi pakai team."


"Suka suka donk." jawabnya acuh tak acuh lalu masuk ke kamar mandi sambil membawa pakaian yang barusan diambilnya.


"Cih, songong amat." Dhea berdecih tak suka kemudian berdiri dari duduknya, dan memutuskan berjalan keluar meninggalkan kamar Ray.


Namun, baru sampai di depan pintu, Ray sudah berteriak memanggil namannya.


"DHEA!" pekik Ray. Berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memegang botol shampo. Sepertinya pria itu hendak minum, eh ralat, hendak keramas.


"Apasih teriak-teriak kak?"


"Semalam kakak dengar kamu hilang yah? Kenapa bisa?"


"Gatau tuh, kalau Dhea tebak sih penculiknya lagi gabut atau salah orang."


"Yang bener donk." Ray kesal dengan bualan Dhea.


"Hehe, Dhea juga gak tau pasti apa motif si penculik buat nyulik Dhea. Tapi setau Dhea dia masih lawan Uncle Tyo."


"Kamu gak kenapa-kenapa kan?"

__ADS_1


"Wah, tumben Kak Ray tanya keadaanku. Suka yah?" Dhea kembali memanasi Ray. Tentu saja Ray menjadi kesal dibuatnya.


"Terserah deh terserah!" Setelah mengatakan itu, Ray langsung menutup pintu kamar mandi.


Dhea sangat senang bisa mengerjai Ray, "Hahah, Kak Ray baperan."


Dhea kembali melanjutkan jalannya. Namun sebelum benar benar keluar, ia sempat berteriak begini "Aku tunggu diruang tamu ya Kak, gak pake lama!"


¤¤¤¤¤¤¤


Kini kedua remaja itu sudah ada didalam mobil hendak menuju ke rumah Lia yang merupakan sahabat karib Dhea. Kalau bagi Ray, Lia merupakan mantan gebetannya. Ia berpendapat bahwa pendekatannya nya putus dengan Lia karena ia kalah cepat dari Ryan.


Sebenarnya Ray gak ikhlas sih, tapi mau gimana lagi. Dia tetap berusaha untuk mencari pengganti Lia dihatinya yang sedari dulu memang kosong.


Pasti kalian bertanya, kenapa Ray gak cari cewek orang luar negri aja? atau teman sekolah Ray di London?


Jawabnya adalah, karena Ray gak percaya sama cewek cewek bule yang cakep nya gak ketulungan. Cakep sih cakep, tapi ya gitu sih, emm gimana ya jelasinnya.


Yang pasti, cewek barat itu beda banget sama cewe indo guys. Perbedaanya adalah:


1.kalau cewe bule itu, ketika umur mereka 15 tahun, pasti uda banyak yang gak, emm, 'PW'.


paham kan, sementara cewe indo walau umur 30 sekalipun meski kalau belum menikah mereka tetap dilarang untuk begituan.



Trus kalau cewe luar itu, pakaiannya gak ada aturan,


sementara cewe indo, pakai yang ketat sikit aja, nyinyirnya mak tetangga uda sampai ke neraka jahanam kan guys.


Ya gitulah, masa bodoh aja okeh. Aku dukung kok.



Oke lanjoet, maaf ada bacotan sedikit.


Walaupun Ray hidup ditengah tengah pergaulan mulai me liar. Ray masih tetap menjunjung tinggi nilai nilai agamanya yang melarang keras untuk berhubungan dengan seorang wanita jelas jelas bukan mukhrim nya.


"Apa?"


"Kakak kemaren pernah bilang sama Dhea, kalau kakak itu suka sama Lia. Apa itu benar?"


Ray menoleh sebentar lalu fokus kembali kearah depan, "Iya, tapi uda enggak lagi."


"Karena Lia udah dilamar ya?" tebak Dhea yang memang benar adanya.


"Ya begitulah."


"Kakak sih, gak gercep orangnya." kesal Dhea, tapi walau begitu ia juga senang saat tau Lia akan menikah dengan Ryan. Dhea tahu Ryan adalah orang yang baik.


"Ya mau gimana lagi, kalau gak jodoh aku mah bisa apa."


"Eleh, tamvang di amanin yah." Dhea mencibir tak suka melihat wajah sedih Ray yang dibuat buat. Walau begitu, ia senang karena Ray sudah move on dari Lia.


Lama mereka hening, sampai sampai Dhea tak sadar kalau mobil yang ditumpanginya sudah memasuki pekarang luas rumah Papa Lia.


"Turun yuk."


"Yuk!"


Mereka berdua melangkahkan kaki memasuki rumah yang memang pintunya terbuka lebar.


"Assalamualaikum!" salam Dhea dan Ray bersamaan.


"Wa'allaikumsalam!" jawab salah satu asisten rumah tangga Lia.


"Egh Neng Dhea toh, lama gak jumpa neng." ucap Bik Rahma memberikan tangannya dan dikecup lembut oleh Dhea dan Ray.


"Hehehe, baru bisa sekarang buk." cengir Dhea menampilkan deretan gigi putih miliknya.

__ADS_1


Bik Rahma mengangguk dan Melirik Ray, "Pacarnya ya Neng" tebak Bik Rahma asal.


"Enggak buk. Kebalin donk buk, ini Ray yang merupakan Paman Dhea."


"Kok kecil amat neng?"


"Proses pertumbuhannya lambat Buk."canda Dhea yang mendapat tatapan tajam dari Ray.


"Heheh, canda Kak."


"Yaudah kalau gitu Ibuk panggilin Non Lia nya dulu ya neng." Bik Rahma meninggalkan mereka yang memang sudah duduk diruang tamu sedari tadi.


Tak lama, Lia muncul dan menghampiri mereka di ruang tamu. Gadis itu mendudukkan diri di samping Dhea dan menguap nguap lebar.


"Hoamm, ngantuk gua de."


"Bauk woi, tutupin elah!" Ucap Dhea berpura pura menutup hidungnya.


"Enak aja lu bambank," katanya menoyor kepala Dhea.


"Sakit woi."


"Egh Btw, tumben tumbenan lo datang kesini bareng Kak Ray cakep." ujarnya lalu berpindah duduk di samping Ray. Dia berniat mengganggu Ray yang sedang push rank.


Lia menggoyang goyangkan lengan Ray hingga si pemilik sedikit kesal dibuatnya, "Haha, mati ya Kak."


"Iyain." balasnya lalu menatap tajam kearah tangan Lia yang masih stay di lengannya.


Sontak Lia yang paham langsung melepas tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Heheh, Sengaja."


"Gila!" ejek Dhea.


"Yeh, sirik nih orang."


"Udah ah, aku haus. Minum dulu baru berdebat." ucap Ray lalu meneguk minumanya yang sudah sedari tadi ada di atas meja.


"Emm, aku punya ide deh kayaknya."


"Apa?" Dhea penasaran dengan ide sahabatnya itu.


"Gimana kalau kita main ke rumah Kak Ryan."


"Hah?" Dhea terkejut, "Gak usah gila lo. Lo yang calon bininya bukan kami."


"Ah elah, aku bukan ngajakin kalian main sama Kak Ryan nya maemunah."


"Trus?" kali ini Ray ikut penasaran.


"Aku mau ngajakin kalian buat main sama adiknya Kak Ryan. Kan kemaren kemaren aku udah bilang kalau Kak Ryan itu punya adek yang cakep nya gak ketulungan."


"Hmm." kata Dhea mengangguk setuju.


"Lo uda tau?"


"Udah donk, kemaren waktu gua kekantor Uncle Tyo, gua gak sengaja masuk keruangan Kak Ryan dan liat ada foto mereka sekeluarga dimeja kerjanya Kak Ryan." terang Dhea panjang lebar.


"Ooh, gimana? mau kan?" tanya Lia lagi.


"Boleh deh," Ray setuju kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan mendahului kedua gadis tersebut.


"Emang Kak Ray tau dimana rumahnya?" tanya Lia membuat Ray menghentikan langkahnya.


Ray berbalik dan menampilkan raut wajah bodohnya, "Heheh, enggak."


"Giliran yang cantik aja langsung semangat." tawa Dhea dan Lia pecah dengan tingkah polos Ray.


"Biarin."

__ADS_1


"Hahaha"


"Udah yok, kelamaan lo." Lia menarik paksa lengan Dhea agar mengikuti langkahnya.


__ADS_2