
Pliss!!
jangan lupa dengan like, komen,Vote nya ya.
jangan jadi pembaca gelap ya readers!! karna aku sayang kalian.... 🤗 lanjutttttt
Seorang wanita dengan pakaian Dress biru ketat yang menunjukkan bentuk lekuk tubuh sipemiliknya sedang berjalan dengan gaya angkuh sambil memakai kaca mata hitam. Tak lupa pula koper yang ia giring sampai ke depan pintu masuk bandara.
Wanita tersebut memandang ke segala arah, seperti sedang mencari seseorang. Tak lama kemudian, muncul sebuah mobil sport zenvo st1 berwarna hitam. Mobil yang harganya selangit dan hanya ada beberapa di dunia.
Wanita tersebut memasuki mobil mahal itu dan tersenyum kepada si pengemudi.
"Maafkan aku sayang karena telat 1 hari." Ucap Tania dengan lembut.
Wanita tersebut adalah Tania Aldeiz. Ia baru saja pulang dari negara singapore untuk melakukan pemotretan. Seperti yang dikatakannya barusan, ia memang telat 1 hari dari janjinya 2 minggu yang lalu kepada Tyo. Wanita itu mengatakan kalau ia akan pulang 2 hari sebelum pernikahan, namun ia baru datang sehari sebelum pernikahan.
"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu sampai dengan selamat." ucap Tyo dengan senyumannya.
Kemudian Tania mendekatkan wajahnya kepada Tyo dan mereka pun berciuman. Lama mereka saling berpangutan sampai seorang pengendara mobil dibelakang membunyikan klakson beberapa kali. Tyo melepaskan ciumannya dan merapikan jasnya yang sedikit berantakan. Ia kemudian melajukan mobilnya meninggalkan bandara. Untung saja kaca jendela mobil Tyo tidak tembus pandang, jika tidak pasti mereka akan di sidang oleh security-nya bandara tersebut.
Tyo mengantar Tania ke hotel tempat acara pernikahan besok dilaksanakan. Ia sengaja menyuruh Tania menginap di hotel tersebut agar Tania besok di resepsi pernikahannya bisa langsung dipersiapkan ditempat itu. Jadi tidak perlu repot-repot menjemput Tania ke Apartementnya yang memang jaraknya lumayan jauh.
Sesudah mengantar Tania, Tyo langsung kembali ke rumah Bastian, abangnya, yang merupakan ayah dari Dhea. Ia memutuskan tidak pulang ke Apartement karena Bastian memaksanya untuk menginap di rumahnya.
__ADS_1
Ya, memang kemaren Bastian sudah kembali dari London dan langsung menjemput Dhea ke apartement Tyo. Bastian juga memaksa agar Tyo ikut ke rumah mereka, bermaksud ingin mengajari sang adik beberapa hal yang penting dalam acara pernikahan Tyo besok.
Tyo telah sampai di rumah Bastian, dan segera memarkirkan mobilnya. ia kemudian berjalan masuk ke rumah dan melihat keluarga Bastian sedang berkumpul di ruang keluarga. Matanya bisa menangkap Dhea yang saat ini tidur di pangkuan sang ayah, dan Lisa sedang mengupas buah apel. Sungguh indah keluarga ini, pikir Tyo.
Tyo menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di depan Bastian.
"Gimana dek, Tania udah sampai kan?" Tanya Bastian masih mengelus rambut panjang Dhea.
"Udah bang." Jawab Tyo.
"Kamu kenapa dek, banyak pikiran ya? " kali ini Lisa yang ikut bertanya. Lisa melihat Tyo seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak perlu terlalu di pikirkan lah, paling nanti Tania berubah juga." Bastian paham betul apa yang sedang dipikirkan sang adik.
"Iya, kamu tenang aja ya, kan besok hari bahagia kamu." Lisa memberikan potongan apel kepada Bastian. Bastian mengambilnya dan memakannya. Lisa juga menawarkan kepada Tyo, namun Tyo menolaknya lembut.
Tyo terkekeh, ketika matanya tak sengaja melihat Dhea menggeliat mencari posisi nyaman saat tertidur di pangkuan sang ayah. Dhea sangat-sangat menggemaskan ketika tertidur seperti itu.
Bastian dan Lisa terlihat bingung saat melihat Tyo terkekeh. Mereka saling berpandangan dan Lisa mengedikkan bahu, tanda tak tahu.
Bastian pun mengikuti arah pandang sang adik dan tersenyum. Ternyata yang membuat Tyo tersenyum adalah anaknya.
"Dia nyusahin kamu gak? " Lisa menunjuk Dhea yang ada dipangkuan suaminya.
"Gak sama sekali kok kak, malah dia jadi teman curhat aku yang baik, hahaha." Tyo tertawa mengingat dirinya yang sering membuat Dhea merajuk.
__ADS_1
"Ooh baguslah, biasanya Dhea seneng banget nyusahin ayahnya."
"Ayah gak sama sekali disusahin kok bun"
"Dhea tu gemesin banget kak, bang. Pengen dicubit terus itu pipi gembulnya."
"Ehehe, makanya dek nanti kalau udah nikah langsung cepat-cepat buat anak. Tidak perlu pakai tunda-tundaan. Lagi pula kamu kan uda tua yah?" goda Bastian yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Semoga bang, aku juga tidak ingin menundanya." balasnya yang memang berharap secepatnya mendapatkan seorang bayi. Jujur, Tyo memang sudah mengimpikan itu dari beberapa bulan yang lalu.
"Dengan adanya anak disuatu keluarga kalian nanti, pasti itu bakal merubah Tania. "
"Yap betul sekali, jadi langsung gas aja ya." canda Bastian.
"Aman bang"
"Ayah gak malu ya." Lisa kesal dengan sang suami karena terus mengatakan hal-hal yang di luar nalar.
"Ya enggaklah kan ayah pakai baju ini." balas Bastian tak mau kalah. Lisa memutar bola mata jengah.
"Huh, terserah deh." kesal Lisa.
"Abang sama kakak kok malah ribut?" Tyo terkekeh. Lucu sekali melihat pasangan suami istri ini bertengkar karena hal sepele.
"Maklum la dek, suami istri tuh harus ada susah senang nya gak mungkin semuanya itu bisa senang." ucap Bastian menasehati. Lisa tersenyum mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
"Iya bang, semoga pernikahan aku sama Tania bisa seperti kalian juga."
"Amin Dek."