
Saat ini, keluarga kecil itu sudah melangkahkan kaki memasuki rumah ayah Dhea untuk menjelaskan semua kejadian yg sebenarnya.
Mereka masuk dan mendapati Lisa yang kebetulan sedang duduk diruang tamu sambil memeluk bingkai foto Dhea, putrinya. Lisa sangat merindukan sosok Dhea yang periang dan menggemaskan. Dia memeluk sambil berucap sendiri dengan bingkai foto Dhea yang sedang dipeluknya.
Dhea tersenyum melihat itu. kemudian dia menarik tangan Tyo untuk segera mendatangi bundanya.
"Bunda!" lirih Dhea.
"Astagfirullah!" Lisa terkejut dengan kehadiran sosok Dhea dihadapannya saat ini, dengan Tyo yang terus memeluk pinggang gadis itu dan tak lupa Deo digendong oleh Dhea.
"Bun, ini Dhea bun."
Perlahan lahan, Dhea berjalan mendekat kearah Lisa sang ibu.
1 langkah
2 langkah
3 langkah.
"STOP!" teriak Lisa, "Jangan mendekat, aku tidak percaya kalau kamu Dhea anakku!" ucap Lisa sambil memajukan telapak tangan untuk menghalangi gerakan Dhea.
"Hiks, hiks, ini Dhea bunda. Dhea masih hidup!"
Lisa tak menjawab dan mengalihkan pandangannya ke arah Tyo yang sedari tadi memilih diam, "Nak Tyo, apa apaan ini? Kau sudah menikah lagi tapi tidak memberi tahu bunda. Dan lebih parahnya, wajah wanita ini sangat mirip dengan anakku, hiks."
"Dhea, bunda merindukan mu nak, hiks, hiks!" ucap Lisa yang sudah jatuh tersungkur dilantai tanpa berniat melepaskan sedikitpun bingkai foto Dhea dari pelukannya.
"Bun, itu Dhea asli bun. Aku tidak pernah menikah lagi, tolong beri Dhea kesempatan untuk menjelaskan semuanya bun." ucap Tyo.
Setelah meletakkan Deo di atas sofa, Tyo mendatangi Lisa dan meletakkan tangannya di kedua pundak sang ibu mertua dan menegakkan kepalanya.
__ADS_1
"Percaya sama Tyo bun, ini Dhea. Dia sosok yang selama ini telah menghilang, dan karena kebaikan Allah istriku masih diberi kesempatan hidup." ucap Tyo meyakinkan.
"Hiks benarkah? Kamu tidak bohong kan?"
Tyo tersenyum dan segera mengangguk.
"Arghh, Dhea putriku, Kemari nak!" Lisa merentangkan tangannya dan menyuruh Dhea masuk ke pelukannya. "Bunda merindukan mu, sayang!" ucapnya sambil terus mengecup lama kening putrinya itu.
"Dhea juga bun"
Lisa melepaskan pelukannya dan menatap Dhea serius, "Sekarang kamu harus menjelaskan semuanya," titah Lisa.
"Iya bunda!"
Dhea menarik nafas banyak banyak dan mulai berkata panjang lebar. Menjelaskan dari awal kejadian hingga kembalinya pertemuan. Semua dijelaskan secara mendetail dan dikupas habis setajam silet.
"Jadi bagaimana?" tanya Lisa setelah Dhea mengakhiri ceritanya.
"Bagaimana cara kamu menjelaskan semuanya ke orang tua almarhum Diana?"
Mendengar itu, Dhea hanya melirik Tyo sebentar dan berkata, "Masalah itu akan kami selesaikan besok. Dhea dan Hubby akan pergi mengunjungi rumah Ibu Herlin dan mengatakan sebenarnya."
"Tapi Bunda kok ragu ya?" ucap Lisa sambil menuntun Dhea duduk di sofa yang berhadapan dengan Tyo dan Deo.
"Ragu dimana nya bun?" kali ini Tyo menjadi kepo.
"Bunda ragu. apakah ibu Almarhum nak Diana bisa menerima kejadian sebenarnya. Jadi intinya gini...Bunda kan ibu yang otomatis tidak rela jika mendengar kalau anaknya sudah meninggal dan kenyataan bahwa kalau Dhea hanya mirip saja dengan anaknya"
"Dhea juga mikir gitu sih bun, tapi itu semua Dhea serahkan dengan Hubby Tyo."
"Iya bun, Tyo akan meminta maaf dan akan membayar berapa pun yang mereka mau," ucap Tyo yakin.
__ADS_1
"Kalau mereka anaknya dibayar dengan Dhea. itu bagaimana? kan tidak semua hal bisa dibayar dengan uang. Contohnya nyawa. Apalagi dengan kondisi anaknya yang sebagai korban dan tentunya mereka sangat marah."
Dhea mengangguk dan menyetujui ucapan Lisa sang bunda. Benar juga ya!
"Insyaallah, Tyo berusaha sebisa Tyo bun. Doain semoga mereka mau menerima fakta yang sebenarnya," jelas Tyo mantap sambil mengusap perut Deo yang tertidur di pangkuannya.
"Amin nak, semoga aja mereka mau menerima dan memaafkan kita."
"Ini semua salah Dhea bun," lirih Dhea menundukkan kepala.
"Lah kok salah kanu sih. ini itu murni kecelakaan yang disengaja, dan kamu bersama Diana hanya sebagai korban saja nak. Jadi berhenti menyalahkan dirimu yah?"
Lisa menegakkan kepala Dhea dan kembali memeluk Dhea erat, seakan tidak mau melepasnya lagi. "Bunda gak bakal mau kamu pergi lagi. Pokoknya kamu harus dikurung aja ya."
"Hahhha, bunda ada ada aja."
"Bunda serius sayang," ucap Lisa, " Apakah kalian sudah makan?"
Dhea menggeleng pelan, dan berkata jujur kalau mereka memang belum makan siang. "Yasudah, kalau begitu ayo kita masak nak" ajak Lisa kepada Dhea. "Biar bunda menuruh Bik Nur menelepon ayahmu untuk segera pulang dan memberi suprise untuknya."
"Oke bun!"
Sebelum mengikuti langkah bundanya, dia terlebih dahulu menghampiri Tyo. "Hubby tidur dikamar aja dulu yah, ntar kalau uda makanannya siap, Dhea bangunin," saran Dhea sambil mengecup pipi gembul Deo yang sedang terlelap.
"Baiklah, Hubby juga ngantuk. Hehehe." Tyo terkekeh dan segera mengangkat tubuh Deo dan membawanya ke kamar Dhea.
Hari ini cuma bisa segini doank...heheh
otak ku benar benar lagi buntuh abis.
prikitiuw, asek asek cos. asek asek jos.
__ADS_1