Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Cengeng


__ADS_3

Tyo Pov


De, sudah 4 tahun semenjak kau pergi meninggalkan ku.


Waktu terus berjalan tanpa mau berhenti untuk menunggu ku melepas kesedihan itu. Detik digantikan menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari berganti bulan.bulan digantikan tahun. begitu lah seterusnya.


Entahlah, aku pun tak tau rutinitas apa saja yang sudah ku lakukan selama itu. Bekerja, mengurus Deo dan bermain main dengannya.


Selama 4 tahun ini, aku dibantu bunda untuk mengurus Deo. Pagi sampai sore aku akan menitipkannya ke rumah bunda dan aku berangkat kekantor, sepulang dari kantor baru aku menjemputnya. Dan yah, aku tidak ingin memperkerjakan baby sister untuk mengurus Deo.


Aku sama sekali tidak bisa mempercayai mereka. Bisa jadi apa anak ku bila ku titip kan ke mereka. Bunda juga tidak memaksa ku dan mengambil alih untuk mengurus Deo anak kita.


Malam hari nya, kami berdua akan menonton video lucu mu yang tersimpan di ponsel ku, de. Ketika Deo mendengar dan melihat wajah mu, dia pasti akan tertawa dan bertepuk tangan setelahnya.


Dengan begitu saja dia sudah senang, apalagi jika memelukmu.


Arrghhhhh, aku benar benar merindukan mu istriku. Tidak ku sangka kita akan berpisah dengan cara seperti ini. Tapi ya sudahlah, ini merupakan jalan takdir Tuhan yang tidak bisa ku elak kan.


Rindu ku bisa terobati jika aku melihat semua kenangan kita yang masih tersisa dalam bentuk video atau gambar. Aku sangat beruntung kau memiliki akun instagram dan banyak video mu yang tersimpan disana.


Hampir setiap menit aku selalu memikirkan mu, berat, itu sangat berat.


Aku selalu berusaha tegar didepan semua orang, tapi ketika sudah di rumah. Aku tak bisa menahan semua siksaan itu. Aku akan menangis sambil bersembunyi dibalik bantal. lucu ya?


Ketika melihat ku seperi itu, Deo juga akan ikut menangis, tapi setelahnya dia akan menertawai ku karena aku cengeng menurutnya.


Huh, kecil kecil ternyata sudah pandai mengejek dia. Menurutku, sikap Deo itu tidak ada beda nya dengan mu istriku. Kau yang keras kepala dan suka sekali bermanja-manja dengan ku. Seperti itulah Deo. Sebelas dua belas denganmu.


Wajah nya memang sangat mirip dengan ku, tapi sikapnya itu lohh.. sangat mirip sekali dengan mu. Semua kemauan nya harus aku berikan, dan jika tidak, maka dia akan menggigit lengan ku kemudian menangis dalam dekapan ku juga. Hahahah, lucu sekali ya.


Karena kesamaan sikap nya dengan mu, semakin susah juga aku melupakan mu.


Mami sempat menyuruh ku untuk menikah lagi, sebab Deo sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu dalam pertumbuhannya.


Tentu aku menolak. Alhasil aku berdebat dengan mami dan pergi meninggalkannya dengan Deo yang sudah menangis di dalam pelukan ku.

__ADS_1


Aku memiliki alasan untuk melakukan itu semua.


Jika memang aku menikahi perempuan pilihan mami, pasti nya aku tidak akan pernah mau mencintainya. Aku hanya akan menganggap nya sebagai pengasuh Deo saja dan tidak lebih.


Semua itu pasti akan membuat wanita itu tidak mampu bertahan dan memilih bercerai. Huh, aku paling benci yang namanya bercerai. Maka dari itu, sejak awal aku menolak dan bersikeras menjadi duda saja.


Lebih parah nya lagi, perempuan yang mau dijodohkan dengan ku itu adalah Delisa yang tak lain adalah mantan sekretaris ku yang sudah ku pecat beberapa tahun yang lalu.


Delisa juga rela berhijab hanya demi keinginannya menikahi ku. Tentu saja aku menolak, bahkan sangat sangat menolak. Dia berhijab hanya sekedar menutupi aib nya yang sudah lebih dulu ku ketahui. Hahaha, tidak malu sekali wanita itu. Tidak ada bedanya dengan Tania.


Aku benar benar sudah mengunci hati ini hanya untuk mu seorang istriku. Tak akan ada yang bisa menggantikan mu di hati ku maupun di pikiran ku. Terdengar bucin memang, tapi itulah kenyataannya.


Satu informasi mengenai Ryan. Sampai sekarang, mereka masih belum memiliki seorang anak. Entah apa yang dipikirkannya, tapi aku juga tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Bisa saja Lia yang masih belum siap atau apalah itu.


Berbeda dengan Ray. Usia anak mereka sekarang masih 2 tahun. Dan anak nya perempuan. Cantik, ya cantik. Sama seperti ibu nya, dan ayah nya yang si big pede.


Deo itu sangat pendiam de, apalagi dengan orang baru. Dia sangat malas untuk bergaul dengan teman teman seumurannya. Huh, masih bocah saja sudah seperti itu. Bukan tanpa alasan dia seperti itu.


Deo menjadi seperti itu disebabkan sering dibuly oleh teman temannya karena tak memiliki seorang ibu. Miris sekali bukan?


"Papa... Deo juga pengen kayak mereka." tunjuk nya pada seorang ibu yang sedang menyuapai anaknya makan.


Beberapa bulan yang lalu, aku mendaftarkan Deo di paud yang tak jauh dari rumah Bunda. Itu adalah mau nya Bunda supaya Deo bisa menjadi akrab dengan teman teman sekitar nya. Bunda akan mengantar dan menunggu Deo hingga jam pulang. Aku salut dengan Bunda yang selalu siap mengurus Deo dengan baik.


Hari ini, adalah hari dimana Deo akan melakukan wisuda di sekolah paudnya. Dan hari ini juga adalah hari dimana kau meninggalkan kami untuk selama lamanya.


Kami sekarang sudah berada disekolah nya, dan Deo sudah lengkap dengan pakaian yang seragam dengan teman teman lainya.


"Semangat jagoan papa!" ucapku menyemangati Deo yang hendak menampilkan paduan suara satu kelas.


Deo mengacungkan jempolnya dan segera naik ke atas panggung.


Dapat kulihat mata Deo sudah berkaca kaca ketika menyanyikan lagu kasih ibu dengan teman teman lainya. Disaat lagu sudah selesai dinyanyikan, semua murid berlari dan memberi bunga ke tangan bundanya.


Berbeda dengan Deo, karena dia akan segera mendatangiku dan memukul mukul dadaku sambil terisak kuat. Sesudahnya, barulah dia memberiku bunga yang sudah tak berbentuk lagi dari tangan mungil nya itu.

__ADS_1


"Papa, Deo gak seberuntung mereka." ucap Deo disela sela isak tangisnya.


"Maaf kan papa sayang," cicit ku lalu menggendong Deo dan membawanya masuk ke mobil.


Aku berniat membawanya ketempat dimana aku biasa menenangkan diri. Mungkin semua beban ini bisa hilang hanya dengan menatap danau tenang. Tempat dimana kau mengatakan kalau kau akan menjadi istri masa depanku, dan semua itu menjadi kenyataan.


Dan disinilah kami sekarang. Deo duduk di atas pangkuanku dan menatap lurus air danau yang tenang. Berharap seandainya kau masih ada bersama kami.


"Pa, Deo haus" rengek Deo kepada ku. ku gendong dia hendak pergi ketempat penjual minuman yang tak jauh dari tempat kami saat ini.


"Turunin Deo pa, Deo nunggu aja, papa yang beli," pinta nya lagi.


"Tidak sayang, nanti kamu diambil orang."


"Pa, Deo uda besar, kan tempat nya itu tuh!" tunjuk nya ke penjual minuman.


Ku tepuk jidatku pelan lalu menurunkan Deo, "Tunggu disini ya, papa beli minuman nya dulu," ucap ku lalu meninggalkan nya sendiri.


"Minumnya dua buk," kata ku kepada si penjual. Setelah menyerahkannya aku langsung membayar minuman itu dan cepat cepat kembali ketempat Deo sekarang.


Aku terkejut saat tak mendapati Deo ditempatnya. "Dimana anak itu?" tanya ku lalu menatap sekeliling.


Mataku tak sengaja menangkap sosok Deo berada disebelah pohon besar yang sedang berpelukan dengan seorang wanita berhijab yang ku tak tahu itu siapa. Aku tak bisa melihat wajah wanita itu karena posisinya membelakangi ku.


"Deo!" teriak ku yang segera menghampiri Deo.


Kutarik Deo dari pelukan wanita itu dan segera menggendongnya. Namun, ketika perempuan itu berbalik, aku begitu syok dan mataku terbelalak melihat sosok wanita cantik yang kini ada di hadapanku sekarang.


Tenggorokan seolah ku tersekat ketika ingin memanggil namanya. Waktu seakan benar benar berhenti disaat aku menerima kenyataan yang sekarang.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2