Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Berebut meja


__ADS_3

Lupakan tentang pernikahan, karena hari ini adalah hari dimana Dhea dan Lia akan memulai kegiatan belajarnya di Kampus kembali.


Tadi pagi, Dhea berniat mengendarai mobil sendiri, namun Tyo bersikeras melarangnya dan jadilah ia perginya bersama dengan Ray.


"Woy Lia!" teriak Dhea memanggil Lia dari kejauhan. Dia berlari menyusul Lia yang sudah dulu masuk ke area kampus,


"Gimana, enak gak?" tanyanya setelah berada di samping Lia.


"Enak paan dah?"


"MP nya?"


"Owh itu," mengangguk paham, "Gak ada malam pertama, yang ada malam seninan."


"Wish, kok bisa. Bukanya uda sah ya, masa gak *** ***."


"Diem lu!" menutup mulut Dhea dengan telapak tangannya, "Gua belum siap dan Kak Ryan sendiri juga yang gak mau."


Mereka berdua tiba dikelasnya dan langsung duduk di bangku masing masing. Baru saja Lia akan mengeluarkan bukunya dari dalam tas, namun ia teringat sesuatu yang sangat penting,


"Eh, Btw kalau lagi begituan sakit ya de?" tanya Lia sambil berbisik ditelinga Dhea. Tidak mau jika orang lain mengetahui kalau dirinya menanyakan hal hal yang berbau cukup mesum.


"Emm, gimana ya?" Dhea tampak berpikir sebentar.


"Kalau dibilang sakit, ya memang sakit," katanya lalu menatap Lia serius, "Tapi ujung ujungnya enak kok, hahaha."


"Wah, kok gua jadi penasaran ya, jadi pengen coba gitu deh." tutur Lia yang sudah membayangkannya. Saat ini pikirannya sudah melayang ke hal hal yang berbau negatif. Lihatlah sekarang, bahkan dia sudah membayangkan jika dirinya dan Ryan sedang beradu kekuatan di atas ranjang.


"Gua saranin ke lo, mending coba deh. Pasti nanti lo bakal kecanduan."


Baru saja Lia ingin menjawab, namun dosen sudah memasuki kelas dan duduk di bangkunya.


"Nih dosen, tidur bentar kek biar gua bisa gosip lagi." ucap Lia dalam hati.


Waktu terus berjalan, hingga mata kuliah kedua gadis itu telah habis. Kini saatnya jam mereka pulang, namun sebelum pulang, Lia mengajak Dhea singgah ke kantin terlebih dahulu.


"Buk ning, Nasi uduknya dua ya sam jus jeruknya dua." ucap Dhea memesan kepada tukang kantin.


kemudian wanita tua yang bernama Buk Ning itu memberikan dua piring nasi uduk ke tangan Dhea dan dua gelas jus jeruk ke tangan Lia.


"Makasih Buk," serentak Kedua gadis itu,


"Sama sama neng."


Mereka melihat ada meja kosong dan langsung menghampirinya. Namun ketika hendak menaruh piring di atas meja, tiba tiba datang 2 orang pria yang juga membawa nampan berisi makanan keatas meja yang sama.

__ADS_1


"Gua duluan woi!"sengit Lia.


"Mana ada. Jelas gua yang luan liat ni meja" tutur Pria yang Lia tak tau namanya. Melihat dari tampangnya sih, sepertinya pria itu sebaya dengan mereka.


"Gua, goblok!"


"Gua, maemunah!"


"Gua, pak jarwo!"


"Gua, siti nurbaya!"


"Udah, udah!" teriak Dhea kesal. Rasanya kepalanya ingin pecah melihat perdebatan kedua orang beda kelamin itu.


"Bisa gak sih diam. Dan kamu,"menunjuk teman Pria tadi, "Lakuin sesuatu kek, jangan diem aja. Atau gini aja, gimana kalau kalian ngalah aja, gimana?"


"Mana bisa!" kata Pria itu yang sudah duduk di kursi, dan disusul teman prianya yang satu lagi.


"Woi, enak banget lu ya maen asal duduk. Udah jelas jelas gue duluan yang dapetin nih meja ama bangku." kesal Lia memukul meja keras. alhasil pria itu yang hendak makan jadi tersedak sedak dibuatnya. Dasar wanita.


"Uhuk, uhuk!" Dia mengambil minum dan meneguknya hingga tandas. Tenggorokannya menjadi sakit akibat ulah gadis itu.


"Gila amat ni cewek."


"Udah li, diemin aja. Mending kita makan," ujar Dhea santai kemudian duduk dihadapan pria itu.


"Ini kan masih ada bangku kosong, jadi gak papa kan. Udah ah makan aja yuk, ntar orang rumah kelamaan nunggunya." terang Dhea sambil memakan makanannya dengan tenang. Dhea sudah malas melihat perdebatan aneh ini. Mempermasalahkan sebuah tempat duduk sementara.


Mau tak mau, Lia mengikuti Saran Dhea untuk duduk dimeja yang sama dengan kedua pria menyebalkan itu.


"Punya lo pedas gak Li?" tanya Dhea saat merasakan nasi uduknya yang tidak terlalu pedas.


"Udah pedes banget ni goblok," balas Lia jujur karena sambalnya pedas level 5 tetapi Dhea tidak merasakan kepedasan sama sepertinya.


"Punya gua kok enggak yah?"


"Coba punya lu," lanjutnya lagi kemudian mencolek sambal Lia.


"Gimana, pedes kan?"


"Enggak."


Lia menganga tak percaya dengan ucapan Dhea, 'Lidah macam apa itu' pikir Lia.


"Gila lo!"

__ADS_1


"Aish, kok gak pedes sih. Gak enak banget deh."


"Cih, aneh banget nih cewek," ucap pria itu mencibir karena sedari tadi mendengar perbincangan mereka berdua.


Ya dengarlah, orang mereka ngomongnya besar besar kok suaranya. Cukup taulah gimana kalau cewek lagi ngomong. Minimal naik 3 oktaf.


"Apaansih, nyambung nyambung aja. Kita tu gak satu server ya sama lo." ujar Dhea sarkas lalau menatap sinis salah satu pria di hadapannya.


"Bodo!" balas pria itu santai.


Mereka berempat terdiam saat asik menikmati makanannya masing-masing, sampai Lia membuka suaranya lebih dulu.


"Li, lu tau gak kalau di kampus kita nih ada anak baru?"


Pria di depan Dhea mengerutkan kening dengan ucapan Lia barusan. Sepertinya ini perbincangan yang menarik.


"Emm, kayaknya sih gue baru tau juga. Soalnya lu kan baru kasih tau sama gua."


Otomatis Lia menggeplak lengan Dhea, kesal dengan jawaban gadis itu.


"Trus kan De, tadi gue denger kalau cowok itu ganteng banget katanya. Hampir mirip justin bibir gitu deh katanya."


"Justin biber Li, bukan bibir." ralat Dhea.


"Sama aja itu! Udah yah de, lu dengerin aja biar gue yang cerita, okay!" Dhea mengangguk saja.


"Jadi kan, kata kang gosip di tempat gue tadi, cowok baru itu berasal dari jerman. Anak dari seorang pengusaha terkenal di jerman, tapi mereka memutuskan untuk pindah ke indo karena tuntutan keluarga nya gitu. Dan parahnya de, si cowok itu terkenal dengan sifat ke brengsekannya yang suka gonta ganti cewek."


"APA?!" Tidak, tidak. Itu bukan suara Dhea, tapi suara itu berasal dari dua pria yang di depan mereka sekarang.


Baru saja Dhea akan bersuara namun batal setelah tiga orang wanita datang ke meja mereka. Berdiri di samping dua pria itu lalu bersikap sok cantik.


"Hay Kak. Kakak anak baru itu kan, perkenalkan aku Meisya dari fakultas ekonomi. Kalau kakak?"


Ucapan satu wanita itu sukses membuat Dhea dan Lia terkejut bukan main. Jadi pria itu adalah orang yang baru saja mereka bicarakan?


Astaga, ceroboh sekali mereka.


"Udah yuk, kita pergi aja. Soalnya suasananya sudah memburuk." kali ini Lia membela Dhea dan memeluk tubuhnya untuk pura pura seperti ada mahluk halus disekitarnya. Mereka harus segera pergi dari situ.


"Yuk!


Dan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kedua pria yang ternyata adalah most wanted di kampus mereka dan lebih buruknya sudah menjadi pendengar setia ketika Lia menggosipkan Dirinya.


Namun seperti yang kalian tau, kedua gadis itu masa bodoh, karena suami mereka lebih sempurna tentunya.

__ADS_1


__ADS_2