
Hari ini adalah Hari dimana semua murid Sma kls 12 melaksanakan UAS. Mereka harus berusaha semaksimal mungkin agar dapat menghasilkan nilai yang terbaik. Tak terkecuali dengan Dhea. Ia sangat bersyukur dengan adanya sang paman yang mau mengajarinya.
TRING, TRING
Bel pertanda masuk pun berbunyi. Semua siswa berhamburan masuk ke kelas nya masing-masing untuk melaksanakan ujian dengan hikmat. Begitupun Dhea.
Bahkan ia mengerjakan ujiannya dengan santai, sebab semua yang diajari oleh Tyo masuk di dalam kertas ujian tersebut.
"Beruntung banget sih gua punya paman kayak uncle Tyo, udah pintar Tajir, cool, dan Tampan."
"Paan sih gua kok mikirnya kejauhan! Ayah kan juga gak kalah ganteng."
"Yaiyasi mereka kan satu pabrik!"
"Ngomongin soal pabrik, itu si uncle kok mukanya agak beda ya dari ayah? "
"Atau jangan jangan?"
Dhea menepuk pelan kepalanya menggunakan pensil. Ia tidak mau berpikiran yang lebih jauh. Kemudian ia pun melanjutkan kembali mengerjakan kertas ujianya yang sempat tertunda karna sibuk berperang dengan pikiran nya itu.
Awalnya ia memuji kelebihan pamannya, tapi malah berujung yang tidak-tidak.
***
__ADS_1
"Lo pulang ama gua aja ya De?" tanya Lia, sahabat Dhea.
Saat ini mereka sedang menuju parkiran tempat mobil Lia diparkirkan. Hari ini mereka pulang lebih cepat dari biasanya dikarenakan karna ujian tersebut. "Sekalian mampir," lanjutnya lagi.
"Mampir ngapain dah?" tanya Dhea memastikan. Lisa itu memang sering mampir ke kediamannya, namun kali ini beda. Karena sementara waktu ini Dhea tinggal di Apartement pamannya, jadi dia agak takut mengizinkan sahabatnya datang ke Apartement Tyo. Bukan takut apa apa, Dhea hanya takut dimarahi dengan membawa orang tampa seizin si pemilik rumahnya.
"Lha kok gitu, ya mampir buat belajar bareng la, emang gak boleh ya?"
"Bukan gak boleh, tapi sekarang ini gua tinggal di Apartement uncle gua Li." terangnya, ia takut sahabatnya sakit hati.
Seketika Lia menghentikan langkahnya. "Loh kok di Apartement paman lo? abis diusir lo ya? ngapa lo diusir? kok gua gak tau? tau gitu gua bawa lo ke rumah gua." Tanyanya panjang lebar dengan wajah mengintimidasi.
Dhea hanya geleng-geleng kepala. " Ayah sama bunda lagi keluar negeri, ada urusan kerja, ya jadi sementara ini gua tinggal ama Uncle Tyo."
Dhea menarik tangan Lia untuk melanjutkan perjalanan menuju parkiran. "Yuk lah, kalau cuma belajar ya pasti boleh mah itu." ucapnya bersemangat.
"Wihhh, luas juga ni Apartement," kata Lia sambil melihat lihat seluruh isi apartement Tyo. Matanya secara tidak sengaja melihat sesuatu yang 'enak dipandang'.
Tanpa di perintahpun ia sudah langsung berjalan mendekati sebuah foto yg 'enak di pandang'itu. Yaps, foto itu adalah foto Tyo dengan pose gaya memakai setelan jas rapi yang sedang duduk di kursi kebesarannya nya.
Takjub?
Tentu saja Lia takjub. Bagaimana dia tidak takjub setelah melihat seseorang yang sangat tampan, sangat mirip dengan oppa-oppa koreannya.
__ADS_1
Dhea yang menyadari itu hanya menepuk pelan bahu sang sahabat. Lia tersadar dengan lamunannya.
"Ini paman lo ya? " tanyanya sambil menunjuk foto yang ada di depanya.
"Iya, emang kenapa? " tanyanya balik, bersikap seolah olah tidak tau.
"Gilaaa sumpah! paman lo tu, arghh, uda kayak oppa-oppa korea gua dah." Lia tersenyum setan sambil membayangkan jika dirinya sedang memeluk Park jimin, salah satu anggota boyband kesukaanya.
Dhea menyentil pelan dahi Lia. "Aww sakit goblok," memegang dahinya yang sedikit agak sakit.
"Lo si, lebay banget." Dhea berjalan meninggal kan sang sahabat. Lia yang melihat itu pun mengekori Dhea.
"Ih lebay apanya si de? gua itu lagi memuji ciptaan Tuhan yan paling sempurna tau gak lu. Bukan melebay-lebay kan." bawelnya masih sambil berjalan.
Tiba-tiba langkah Dhea berhenti, alhasil kepala Lia menabrak bahu Dhea yang berhenti secara spontan. Lia meringis lagi karna jidatnya kembali sakit.
"Kalau mau berhenti ngomong dulu donk. Ck, kan jidat gua jadi sakit!"
"Lebay lo,"
"Seterah dah seterah, lo yang menang. "
"Terserah Lia,"
__ADS_1
"Biarin, wlek."
Dhea tak menggubris ucapan Sahabatnya itu. Ia memilih menghampiri Bik Nur sang asisten rumah tangga. Ia dapat melihat bik nur yang sedang sibuk mengaduk sesuatu. Tampaknya sedang membuat adonan kue.