
"Oma lagi ngapain?" tanya Dhea mendudukkan diri di samping oma.
"Sedang menjahit baju bayi sayang," balas oma menoleh sekilas kearah Dhea, "Sayang, kamu manggilnya Mami aja ya biar sama kayak Tyo."
Mengangguk setuju, "Baik oma, eh ralat, mami." sambil cengengesan.
"Hehehe, harus terbiasa ya sayang," Hilda mengelus lembut kepala Dhea.
"Emm, baju bayinya lucu banget mi. Tapi itu untuk siapa ya mi?" tanya Dhea. Ia merasa dirumahnya tidak ada seorang bayi pun, dan untuk apa baju bayi tersebut.
"Mami lupa bilang ya, kalau ini nantinya untuk calon bayi kamu." ucap Mami tersenyum bahagia.
Dhea jadi merasa bersalah karena selama ini telah menunda untuk memberikan hak Tyo sebagai suaminya. Padahal ia tahu kalau Tyo sangat menginginkan seorang bayi hadir di keluarga mereka.
Gadis itu mengambil tangan Mami lalu mengusap usapnya pelan, "Dhea janji bakal kasih Mami seorang cucu secepatnya." ucapnya mantap.
"Janji?"
"Janji Mami!" katanya membuat mami merasa sangat senang lalu memeluknya.
"Aduh, Dhea sampai lupa." melepaskan pelukannya, ia berdiri dari duduknya. "Mi, Dhea pergi sebentar ya."
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Mami heran karena Dhea yang tampak terburu buru.
"Dhea ada janji sama Lia untuk ketemuan di Cafe."
"Cafe mana sayang?"
"Cafe dekat sini juga kok mi," pamitnya lalu menyalami tangan Mami, "Dhea pergi ya mi."
"Hati hati sayang."
Dhea melangkah keluar rumah menuju tempat janjiannya dengan Lia. Dia sengaja berjalan kaki sebab jaraknya memang cuma 200 meter dari rumahnya. Sekalian olahraga malam.
Sahabatnya itu sengaja mengajaknya bertemu diluar rumah agar lebih leluasa berbincang tentang persiapan pernikahannya dengan Ryan. Sekalian Lia juga mau numpang hotspot katanya, sedang menghemat paket.
__ADS_1
Gadis itu terus bernyanyi nyanyi untuk mengusir sunyi nya saat berjalan sendirian begini. Kemudian ia melihat ada sebuah mobil hitam lewat, eh maksudnya bukan lewat, melainkan berhenti di samping Dhea.
Dhea heran dan merasa takut juga tentunya. baru saja ia akan berlari, namun dengan cepat penghuni mobil turun dan membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Dia pingsan, membuat orang itu langsung memasukkan nya ke dalam mobil. Dengan secepat kilat, mobil tersebut melaju meninggalkan tempat itu.
15 menit kemudian mobil tersebut sudah sampai di markasnya dan orang orang tersebut menggendong Dhea turun lalu membawanya masuk kedalam gedung remang remang tersebut.
"Bos, kami sudah melaksanakannya." kata salah satu bawahan Bimo yang author pun tak tau namanya. Lelaki itu membawa Dhea kehadapan Bimo sehingga membuat Bimo tersenyum menang.
"Ikat dia." perintahnya dan segera dilaksanakan oleh orang tadi.
Dhea kemudian didudukan disebuah bangku lalu kaki dan tangannya diikat. Tak lupa juga mulutnya diberi lakban berwarna hitam.
***
Tyo baru saja pulang dari kantor dan tubuhnya benar benar merasa letih. Ia langsung menuju kamarnya guna membersihkan tubuhnya.
Usai melakukan aktifitas mandinya, ia berniat memanggil Dhea namun nyatanya gadis itu tak ditemukan disudut rumah manapun.
"Kamu mau kemana nak?" tanya Mami
"Mencari Dhea mi, sedari tadi aku tidak melihatnya dimana pun."
"Tadi dia sudah meminta izin untuk bertemu Lia di cafe yang ada didekat dekat sini."
Tyo menghembuskan nafas lega, "Okeh baiklah, aku kira tadi dia hilang."
"Ish kamu nih,"
"Hehehe."
Detik kemudian hp Tyo berbunyi, dan ia melihat nomor baru disana. Pria itu sebenarnya tidak ingin mengangkat, but, bisa saja itu orang penting.
"Hallo, ini siapa?" katanya setelah menjawab panggilannya.
__ADS_1
📞"Apakah kau masih ingat suaraku, Mr. Tyo?" itu suara Bimo.
"Tidak, aku sama sekali tidak mengingat suara mu." Tyo memang seperti pernah mendengar suara orang tersebut, namun ia lupa dan ya sudahlah. Masih berpikir itu tidak penting.
📞"Huh, kau pelupa rupanya. Kalau begitu lupakan istrimu ini yang sudah bersamaku." ucap Bimo membuat Tyo syok tak percaya.
"Apa maksudmu?!" katanya berusaha mengendalikan diri.
📞"Maksudku adalah, sekarang istrimu sudah ada bersamaku. Tadi aku sudah mencuri paksanya dan membawanya ke tempatku. Kalau kau tidak percaya, coba kau lihat gambar yang sudah ku kirim barusan."
Dengan segera Tyo mengecek pesan masuk dan terlihatlah disana gambar Dhea yang terduduk lemas dengan tangan dan kaki yang diikat, beserta mulut yang sudah dilakban.
"Bang*at kau, kau siapa Hah?!" Tyo sudah tak bisa mengendalikan diri.sekarang emosinya sudah di ubun ubun karena tak terima istrinya diculik paksa.
Mami sama terkejutnya dengan Tyo, namun ia bisa menenangkan diri dan berusaha menyabarkan Tyo. Tangannya mengusap pelan lengan Tyo untuk mengurangi kemarahan pria itu.
📞"Bimo! aku Bimo, Tyo."
"Kenapa kau mencuri istriku Bajin*an?!" bentak Tyo. Setelahnya terdengar tawa menggelegar dari sebrang sana. Hal itu membuat Tyo semakin emosi saja.
📞"Hahahah, kau tanya kenapa?" mulai berbicara serius, "*Sa*lahkan dirimu yang masih berhubungan dengan Tania, hingga membuat wanita ku itu menjauh dariku." suaranya melemah diakhir kalimat.
Tyo menggeleng tak percaya atas ucapan Bimo. Bisa bisanya pria itu memperjuangkan seorang wanita jal*ng.
Bimo memang benar benar sudah gila. Dia gila karena cintanya terlalu besar kepada Tania.
"Sekarang aku minta kau lepaskan istriku." pinta Tyo dengan suara sekecil mungkin.
📞" Hoho, tidak akan! Sebelum kau membawa Tania kepadaku, aku tidak akan pernah melepaskan gadis ini."
"Kau gila, aku tidak tau dimana Tania sekarang."
📞"Aku tidak mau dengar alasan apapun.dan jika kau tidak bisa membawa Tania dalam waktu 2 jam, maka jangan salahkan aku jika memperkosa gadismu ini."
"Kurang aja kau, coba saja kau sentuh gadisku maka setelahnya kau akan melihat mayat Tania di hadapanmu," ancam Tyo lalu mematikan telponnya.
__ADS_1
Tyo langsung berlari menuju mobilnya dan segera melajukan mobilnya entah kemana. arahnya.