Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Anak penurut


__ADS_3

Dhea POV


Sudah tujuh bulan lamanya setelah kejadian yang hampir menyebabkan ku keguguran. Dan selama itu pula aku tidak pernah melihat keberadaan Kak Tania lagi. Aku berpikir mungkin Kak Tania sudah kembali ke Amerika dan melanjutkan pekerjaan modelnya disana.


Selama tujuh bulan ini, banyak kisah suka yang ku lalui bersama suamiku. Aku bangga karena bisa memiliki Hubby Tyo yang begitu perhatian terhadap diriku dan calon bayi kami.


Biar aku jelaskan, sesibuk sibuknya dia, hubby Tyo tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk mengajakku berjalan jalan atau sekedar melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemauanku.


Diawal kehamilanku, aku sempat merasa kewalahan karena terus mengalami muntah dan pusing yang berlebihan. Sangking ambigu nya, aku sempat berpikir kalau aku terkena penyakit geger otak. Tapi setelah bunda mengatakan kalau itu adalah hal yang wajar, aku bersikap biasa biasa saja.


Pernah sekali, sewaktu aku mengidam. Aku kepingin banget dibeli kan baju daster yang sama dengan seperti dipakai oleh sarwendah. Tentu kalian pasti tahu la kan, apalagi istri dari ruben onsu itu sangat hobi memakai daster ketika di rumah.


Awalnya Hubby Tyo menolak karena permintaan ku cukup aneh. Bagaimana tidak aneh, wong aku tidak pernah memakai daster sekali pun. Dan tiba tiba menginginkan benda itu meski hanya sebentar saja.


Setelah menuruti kemauanku, Suamiku membelinya dan memberikan Daster itu kepadaku. Lalu tahu apa yang aku lakukan? Dengan santainya aku membolak balikan baju itu, lalu mencium nya sebentar. Dan setelah itu, aku mencampakkan begitu saja daster itu ke lantai.


Suamiku meresponnya dengan berpura pura pingsan, dan setelahnya dia akan menidurkan diri begitu saja dilantai kamar kami. Kasihan kan? tentu.


Tak sampai disitu, aku juga pernah meminta dibelikan soto ayam yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor suamiku.


Dengan suka rela, dia akan menuruti kemauanku begitu saja. Dia akan mencoba mengalah dan selalu sabar dengan tingkah aneh ku. Sebenarnya bukan kemauanku sih, hanya ini kemauan dari calon bayiku yang selalu minta ini, minta itu. Pokoknya dia itu sangat senang mengerjai ayahnya.


Back to topick.


Aku memesan soto ayam, dan sekitar 2 jam kemudian. Barulah soto ayam pesanan ku tiba. Setelah menerimanya dari Hubby Tyo, aku membawanya ke dapur.


Seketika aku syok ketika melihat mie nya yang sudah membengkak karena dicampur bersamaan dengan kuahnya.

__ADS_1


Mie nya mengambang ambang layaknya seperti cacing yang tersiram air panas. Tentu aku sedikit ilfeel melihatnya.


Melihat keanehan ku, Hubby Tyo heran dan datang menghampiriku.


"Kok gak dimakan?" tanyanya sambil memelukku dari belakang. Bisa kulihat wajahnya yang benar benar kelelahan karena sehabis bekerja seharian.


"Liat tuh...Gak selera Dhea makanya." ucapku mengaduk aduk Soto ayam ku tanpa berniat memakannya sama sekali.


"Astaga Dhea, Aku udah capek nyariinya. Mutar sana mutar sini, belok sana belok sini loh sayang."


Mendengar itu, dengan tidak rela aku memakan sesendok kuah soto itu lalu menjauhkannya dari hadapanku.


"Udah kan?" ucapku bangga.


"Tobat saya Dhea liat kamu," Hubby Tyo frustasi lalu pergi meninggalkanku begitu saja.


Setelah lelah tertawa, barulah aku menyusul suamiku kedalam kamar dan membujuknya dengan berakhir pergelutan di atas ranjang.


Dengan cerdiknya, suamiku itu mau memaafkan ku jika aku mengizinkanya mengunjungi Tyo junior kami.


Awalnya aku menolak dan berpura pura jual mahal, tapi ujung ujungnya aku mau juga kok. Siapa sih yang gak senang kalau bayinya dikunjungi oleh ayahnya sendiri.


Minyi, minyi!


Alah, alasan aku doank itu mah. Yang pasti aku senang kedua duanya dan menikmati tentunya.


"Udah Hubby, Dhea capek." kataku setelah lelah bermain kuda-kudaan. Entah sudah berapa ronde kami melakukanya.

__ADS_1


Aku juga heran melihat suamiku. Bukankah dia sehabis bekerja seharian, dan kenapa bisa begitu semangat jika berhubungan soal beginian. Dari pertama kami melakukannya, dia tetap bersemangat saja sampai sekarang. Padahal kan sudah tua.


Ups, jangan bilang-bilang. Ini rahasia kita, antara aku dan kamu.


"Terima kasih sayang," Hubby Tyo mencium keningku lalu ikut berbaring di sebelahku. Tak lupa juga tanganmya yang terus mengelus lembut perutku. Seolah paham itu tangan ayahnya, anakku didalam sana merespon dengan menendang kuat perutku.


Tentu itu membuatku meringis merasakan sakit.


"Jangan nakal nakal baby, mami kamu lagi kecapean habis ngelayanin papi kamu," ucap suamiku lalu mengecup lama perutku.


Dan ajaibnya, setelah mengatakan itu, Bayiku sudah tidak melakukan pergerakan lagi. Sia seolah menurut dengan kemauan papinya tapi tidak denganku. Hahaha, lucu sekali ya. Masih di dalam perut saja dia sudah pilih kasih, lalu apa kabar setelah anak kami keluar. Sungguh tidak adil!


"Terkadang aku heran deh Bi, dia itu anak aku atau anak kamu sih?" tanyaku menatap intens manik mata suamiku.


"Anak kita berdua sayang, kan kamu yang mengandung, sedangkan aku hanya bisa mencolok saja." ucap Hubby Tyo yang malah membuatku tertawa keras.


"Hahah, tahu diri juga rupanya," ucapku disela sela tawaku.


"Emm," Hubby Tyo memejamkan mata dan memeluk tubuhku kuat seakan tidak ingin melepaskan ku kemana pun. Padahal aku tidak ingin pergi kemana mana.


"Jangan pergi sayang, aku mencintaimu!" Ambigu suamiku saat masih tidur. Sepertinya ia sedang bermimpi buruk.


Aku dengan cekatan menghapus jejak keringat di dahinya lalu berbisik pelan di telingannya, "Dhea masih disini Hubby, tidak akan pergi kemana-mana."


Setelah mengatakan itu, aku membalas pelukannya yang sangat erat itu.


"Selamat malam Hubby!" ku kecup kedua pipi Hubby Tyo lalu ikut menyusulnya ke alam mimpi yang indah.

__ADS_1


__ADS_2