
"Ayah ingin kamu menikah dengan uncle Tyo."
ucap Bastian masih dengan memandang wajah sang putri, menunggu reaksi selanjutnya.
Dhea terdiam sesaat, lalu setelahnya ia tertawa.
"Hahaha, Ayah lucu banget deh." Tawa Dhea pecah seketika. Ia menganggap ucapan ayahnya hanya sebuah candaan.
"Sayang, kali ini ayah serius." Bastian kemudian melirik Tyo, "Benar kan Tyo?" tanyanya membuat pria itu mengangguk lemah.
Seketika Dhea terdiam, bingung harus mengatakan apa.
"Dhea uncle minta maaf, tapi ini harus terjadi, uncle gak maksa kamu tapi keadaan harus memaksa uncle untuk melakukanya."
Dhea masih terdiam. Ia mencoba mencerna kata-kata dari Tyo. Sampai akhirnya ia paham dan berkata,
"Tapi kenapa uncle? bukankah seharusnya Aunty Tania? kalian jangan bercanda!" Dhea masih berharap semuanya mimpi. Dirinya juga masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Benar-benar tidak masuk akal.
"Aunty Tania sudah berkhianat dengan uncle, Dhea, jadi uncle mohon kau mau menikah dengan uncle!"
Flashback on
Tyo sedari tadi gelisah karena tak melihat Tania. Ia kemudian melangkahkan kakinya mendekati Bastian dan Lisa.
Tyo mengajak Bastian dan Lisa sedikit menjauh dari kerumunan para tamu.
"Bang, Tyo sedari tadi masih belum melihat Tania." Raut wajahnya begitu terlihat khawatir.
"Tenang dek, gimana kalau kita langsung menjemputnya ke ruang rias." kata Bastian mencoba menenangkan Tyo.
"Ya sudah mari kita kesana."
Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang rias. Setelah sampai, semuanya dibuat panik karena tidak melihat wujud Tania sama sekali.
"Gimana kalau kita periksa ke kamarnya saja?" saran Lisa.
"Mari."
Ketika hendak memasuki pintu kamar Tania, Tyo tampak berpikir sejenak. Bastian menepuk pelan pundak sang adik dan Tyo pun tersadar.
Tyo menekan bel beberapa kali, namun tak kunjung dibuka. Karena tak kunjung mendapat respon, Tyo berinisiatif menelepon pihak Resepsionis hotel untuk meminta kunci cadangan kamar hotel Tania.
Saat ini Tyo benar-benar sangat panik, begitu pula dengan Bastian dan Lisa.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan hotel dengan membawa kunci cadangan yang diminta oleh Tyo.
Tanpa banyak tanya, Tyo menarik kasar kunci tersebut dari tangan si pelayan wanita tersebut. Bastian hanya memaklumi saja. Si pelayan pamit kepada Lisa, dan dibalas senyuman hangat olehnya.
__ADS_1
Ceklek
Kemudian pintu terbuka, mereka bertiga dibuat terkejut dengan pemandangan di depan sana.
Tampaklah sepasang kekasih yang sedang tertidur dengan indahnya tanpa menggunakan busana. Tania dan Bimo sepertinya sangat kelelahan sehabis bercinta semalam.
Bimo menyadari bahwa ada orang yang telah masuk ke kamar Tania. Lantas ia terbangun, dan turun dengan santainya dari ranjang. Mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya di hadapan ketiga orang tersebut.
Bimo berjalan dengan santainya ke arah Tyo. Tak lupa senyuman manis dilemparkannya kepada mereka bertiga.
"Jadi sekarang lo udah tau kan." Katanya sambil tersenyum licik.
Tyo mulai jijik dengan orang yang ada di hadapannya.
"Gue dan Tania udah lama berpacaran, dan kami juga sudah biasa melakukan hubungan seperti ini." ucapnya lagi sambil melirik Tania yang sedang tertidur di atas ranjang dengan hanya mengenakan selimut sebatas dada.
"TIDAK TAHU DIRI SEKALI KAU, BAJINGAN!" Tyo meninggikan suaranya, emosi.
Tyo menarik kerah baju Bimo dan,
Bugh,
Satu bogeman Tyo berhasil melayang di wajah mulus Bimo. Bimo memegang sudut bibirnya yang berdarah menggunakan satu jempolnya.
Bukanya melawan, Bimo malah tersenyum kepada Tyo.
"Sudah Yo, biarkan saja dia bahagia bersama wanita jalang itu." katanya sambil menunjuk Tania.
"Tapi bang?"
"Gak ada tapi-tapian, kamu harus segera melangsungkan pernikahan mu sekarang juga." Bastian terlihat santai.
Tyo dan Lisa kaget saat mendengar ucapan Bastian. Bukankah si pengantin sudah berkhianat, lalu siapa yang akan menggantikannya? pikir Tyo dan Lisa.
"Kita bicarakan masalah ini diluar," Bastian menarik tangan istrinya untuk mengikutinya. Disusul Tyo di belakang mereka berdua.
Akhirnya mereka keluar dari kamar hotel Tania. mereka memilih berbincang diruang rias.
"Jadi ini gimana bang? hancur sudah semua impianku." Tyo mulai putus asa. Ia benar-benar tidak menyangka jika Tania bisa mengkhianatinya.
"Impianmu tidak akan hancur dek, kau akan tetap menikah."
"Tapi dengan siapa bang?"
"Dhea! ya, Dhea akan menjadi istrimu." Saat mengatakan itu, Bastian seolah begitu santai seperti tanpa beban. Padahal itu bukanlah hal yang main-main.
Sontak Tyo dan Lisa kembali kaget dibuatnya.
__ADS_1
"Tyo mohon jangan bercanda bang, aku ini pamannya Dhea bang, jadi itu tidak akan pernah mungkin."
"Abang serius dek. Bukankah kalian itu bukan paman dan keponakan kandung? Jadi apa salahnya?"
"Dhea pasti menolak, yah." Lisa akhirnya membuka suara. Ia yakin bahwa putrinya itu pasti akan sangat sedih dan kecewa.
"Ayah pastikan Dhea tidak menolak."
"Tapi, dia tahu nya kalau aku uncle kandungnya bang." Tyo masih ragu atas ucapan Bastian.
"Nanti abang akan jelasin semuanya dengan dia, dan sekarang yang terpenting itu, kamu setuju atau tidak? waktu kita sudah tidak banyak lagi dek."
"Ya, Tyo mau bang." ucap Tyo pasrah.
"Kamu harus janji kalau kamu harus selalu bisa membahagiakan Dhea. Abang percaya sama kamu."
"Tyo janji bang bakal selalu menjaga dan melindungi Dhea, Tyo juga akan belajar untuk mencintainya." ucap Tyo dengan tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum paksa.
"Kalau begitu, cepat kamu panggilkan Dhea, bun!" perintah Bastian pada Lisa.
Lisa pun menurutinya. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri sang putri.
Flassback off
"Jadi seperti itu cerita sebenarnya, Dhea, sayang." Bastian mengakhiri ceritanya lalu menenangkan sang putri yang sudah menangis tersedu sedu.
Dhea saat ini merasa sangat kecewa dan sedih. Sungguh, kenyataan ini benar-benar tidak pernah melintas sedikitpun di pikirannya.
"Jadi kamu mau kan sayang?" Tanya bastian memastikan sang putri. "Bukankah kamu sudah berjanji dengan ayah kalau kamu bakal menerima permohonan ayah."
"Hiks, A-ayah yakin?" tanyanya sekali lagi. Bastian mengangguk mantap.
Sejenak ia menarik nafas lalu membuangnya kasar. Begitu sesak saat menyetujuinya permintaan ayahnya. "Kalau begitu Dhea mau, yah."
Bastian dan Tyo tersenyum.
Berbeda dengan Lisa, sang ibu. Wanita itu tahu kalau putrinya merasa sangat sedih, dan dengan terpaksa mewujudkan permintaan ayahnya.
Tyo berjalan mendekat kearah Dhea. Ia duduk di hadapan Dhea, dan mengambil tangan Dhea.
"Uncle janji bakal selalu ngebahagiain Dhea, uncle juga janji gak akan buat Dhea kecewa, dan akan selalu belajar mencintai Dhea mulai detik ini juga." Tyo berbicara dengan menatap intens kedua manik mata Dhea.
Dhea yang sedari tadi menangis sambil menunduk, perlahan-lahan mulai menegakkan kepalanya dan membalas tatapan Tyo. Dhea dapat melihat sebuah kejujuran dari kedua sorot mata indah itu. Tanpa sadar ia tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Sedangakan Lia yang sedari tadi menjadi penonton hanya bisa tersenyum dengan respon Dhea terhadap Tyo. Ia memilih tidak ikut campur karena memang ini masalah keluarga.
Ibu Dhea membawa Dhea untuk berganti pakaian dan merias sedikit wajah Dhea.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Dhea sudah selesai dengan kegiatannya. Ia kemudian keluar bersama Tyo dan yang lainya dari ruangan tersebut. Mereka berjalan ke tempat dimana akan dilaksanakannya proses ijab kabul yang tertunda.