Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Ngeri sendiri


__ADS_3

"Assalamualaikum oma," salam Dhea kemudian mendekati oma yang sepertinya sedang memasak makan siang bersama bik Nur.


"Wa'allaikumsalam sayang, gimana hasil kelulusan kamu?" tanya oma masih sambil membolak balikan ikan yang ada di atas wajan.


"Alhamdulilah Dhea lulus oma dan mendapatkan peringkat 2, hehehe."


"Wow itu sangat bagus, berarti kita boleh merayakannya donk?"


"Tentu!" ucap Reyhan yang tiba tiba datang dan ikut mengambil alih pembicaraan.


"Egh, dia siapa oma?" tanya Dhea. Ia memang sama sekali belum pernah berjumpa dengan Rayhan.


"Ini Rayhan sayang, anak oma dari opa Edwart."


Dhea mengangguk angguk mengerti.


"Hye, kenalin aku Rayhan." mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Nama aku Dhea, paman," kata Dhea sambil menerima jabatan tangan pria dihadapannya.


Mendengar kata uncle, membuat Ray bingung. "Paman?" tanyanya.


"Heem, bukankah kau anak dari oma? Itu berarti kau adalah pamanku bukan?"


Sebenarnya apa yang dikatakan Dhea itu adalah benar, kalau dia uncle nya. Namun ia tidak suka bila di umurnya yang setara dengan gadis itu, bila harus sudah dipanggil uncle.


"Hmm, tidak ada panggilan yang lain kah?"


Dhea menggeleng, kemudian melirik Tyo yang berjalan begitu saja melewati mereka yang saat ini ada di dapur untuk menuju ke kamarnya.


"Bagaimana kalau kau memanggilku kak Ray? " tawar pria itu.


Dhea meletakan jari telunjuknya di dahi, seperti sedang berpikir. "Hmm, gimana ya?"


"Oma,bolehkan?" tanya gadis itu.


"Sesuai keputusanmu sayang," kata oma yang saat ini sudah menyelesaikan kegiatan masaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu aku setuju." finishnya lalu tersenyum girang.


"Oh okeh, kamu jangan sungkan sungkan denganku ya."


"Siap kak Ray!"


"Yasudah, kalau gitu kamu ganti baju dulu gih, biar kita makan siang bareng. Sekalian panggilin Uncle Tyo mu yah sayang."


"Baik oma!"


Dhea melangkahkan kakinya menaiki tangga. Seketika ia malu sendiri mengingat kejadian dirinya dan Tyo yang berada di mobil tadi.


"Astaga, sepertinya urat malu ku sudah hilang setelah kejadian itu." batin Dhea.


Dhea masuk ke kamarnya dan menutupnya. Ia berjalan kearah lemari pakaian untuk memilih baju yang akan diambilnya.


Tiba tiba ia teringat perkataan Tyo yang ada di mobil tadi, yang Tyo mengatakan kalau dirinya harus bersiap siap karena pria itu akan meminta haknya.


"Siap seperti apa yang dimaksud uncle sih?"


"Emang gw mau perang apa, harus pake siap siap segala?"


"Ish, kok gua mikirnya jauh banget sih."


"Katanya kan dia mau minta haknya?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri.


"Itu berarti sebentar lagi gua uda bakal gak perawan donk?"


"Huwa, bunda Dhea sebentar lagi bakal gak gadis lagi."


"Awh, kepolosan ku akan segera hancur."


Dhea menggelengkan kepalanya kuat untuk menyingkirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


Ia menjadi ngeri sendiri jika membayangkan jika dirinya dan Tyo mela-, Arghh sudahlah.


Dengan secepat kilat gadis itu mengganti pakaiannya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Ia menatap takut kearah pintu kamar Tyo. Ketika hendak mengetok pintu, pintu sudah terbuka dengan sendirinya yang menampilkan sosok Tyo.


"Hmm, uncle. Oma nyuruh Dhea buat manggil uncle," ucapnya gugup lalu mengalihkan pandangan kearah lain.


"Untuk?" jawab pria itu sambil menutup pintu kamarnya.


"Buat makan siang bareng."


Tyo mengangguk dan merangkul bahu Dhea untuk berjalan beriringan.


Terkadang Dhea bertanya, apakah Tyo dengan tanpa rasa canggung dan menganggap seolah olah kejadian tadi tidak pernah terjadi.


Jangan tanyakan Dhea.


Gadis itu tidak akan mungkin melupakan kejadian memalukan tadi dan bodohnya itu sudah terjadi.


Bagaimana bisa ia melupakannya jika Tyo sudah melihat salah satu bagian intimnya. Dan yang lebih parahnya, pria itu sudah menjamah kedua gundukan miliknya itu.


Dhea menggelengkan kepalanya untuk bisa berpikir jernih.


Tyo yang melihat itu pun dibuat bingung.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu.


"Gak kenapa napa."


Pria itu mengangguk, "Kamu sudah menghubungi ayah bunda?" Ia bertanya kembali.


Dhea menggeleng pelan. "Belum, rencananya nanti setelah makan siang ini."


"Jangan sampai lupa," ucap Tyo memperingati.


"Hmm."


Votenya kaka,


Like,

__ADS_1


Komen,


Maapkan diri ku bila ada kekurangan dalam penulisan kata, heheh


__ADS_2