Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Kekhawatiran Tyo


__ADS_3

"Li gua pinjam baju lu ya?" Dhea bertanya dengan tangan yang sudah mengambil sebuah kemeja berwarna biru dari dalam lemari pakaian Lia.


"Pakai apa yang lo suka." kata Lia sambil mengeluarkan laptop bermerk apple yang tergigit seperempat itu dari dalam tasnya.


Dhea membuka pakaian sekolahnya dan hanya menyisakan Bra serta CD nya saja, kemudian memakai kemeja yang tadi dia pinjam dari Lia.


"Gak pake celana pendek lo de? " Tanya Lia karena melihat Dhea yang berganti pakaian di hadapannya barusan. Ia melihat Dhea mengenakan kemeja tipis di atas lutut, yang otomatis paha putih Dhea terekspos bebas.


"Enggak, panas gua." jawab Dhea sambil memasukan seragam sekolah kedalam tas miliknya.


Lia tak menjawab lagi, karena Dhea sudah terbiasa seperti itu ketika mereka sedang berduaan saja.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menonton Film Horor Thailand menggunakan laptop Lia. Namun ketika sedang fokus menatap layar laptop, tiba tiba hp Dhea berbunyi.


Ting


Notifikasi chat dari hp Dhea. Dengan segera Dhea melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.


Uncle Tyo


Kamu dimana? udah pulang belum?


me


Dhea lagi di **r**umah Lia, uncle.


Uncle Tyo


Kok belum pulang?


"Siapa si de?" tanya Lia, karena melihat sahabatnya itu mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya.


"Uncle Tyo." jawabnya masih fokus terhadap benda pipih ditangannya.


Me


Bentar lagi, masi asik nonton.


Uncle Tyo


"Yasudah, nanti saya jemput."


Dhea hanya membaca pesan Tyo yang terakhir, ia membiarkannya begitu saja. Gadis itu mematikan hp nya dan lanjut menonton Film horor bersama Lia.


"Eh de, lo tau gak?" Tanya Lia kepada Dhea disela sela menontonnya.

__ADS_1


"Mana tau gua." jawab Dhea sambil menyeruput jus mangga nya.


Lia menepuk jidatnya pelan atas ketololannya. "Iya juga sih,"


"Lo tau kan rumah besar yang ada didepan rumah gua?"


"Hmm."


"Lo tau gak itu rumah siapa? "


"Gak!" jawab Dhea polos.


"Itu adalah rumah... " ucap Lia, dengan sengaja menggantung kalimatnya.


"Rumah siapa emang?" tanya Dhea sambil mengernyitkan dahi. Menjadi sedikit penasaran.


"Rumahhhhhh..... " ucapan Lia masih menggantung.


"Siapa si, Gj bat dah lu." Dhea mulai kesal dengan tingkah goblok sahabatnya itu.


"Rumah Kak Ryan!"


"Seriusan?" tanya Dhea tak percaya.


"Hoom."


Jus dan camilan yang ada sudah dilahap tak tersisa oleh kedua gadis itu. Dhea baru menonton setengah film horor tersebut, namun matanya sudah tak bisa diajak kompromi.


Akhirnya ia memilih untuk tidur dari pada melanjutkan nontonnya.


Sementara Lia, ia tidak pernah meninggalkan sedetikpun kelanjutan cerita film tersebut. Beda dengan Dhea yang sekarang sudah tertidur seperti orang mati sambil memeluk guling.


Lia hanya geleng geleng kepala ketika melihat paha Dhea yang sedikit terbuka. Dengan malas, ia bergerak untuk menyelimuti sahabatnya itu.


Ketika Film horornya sudah habis, Lia berniat menyusul Dhea ke alam mimpi. Namun ketukan pintu menganggu dirinya.


Gadis itu beranjak untuk membukakan pintu.


Dan ketika pintu sudah terbuka, Lia ternganga shock dengan orang di hadapanya.


"Apakah ada Dhea didalam?" Tanya Tyo.


Ya, orang tersebut adalah Tyo. Dari tadi pria itu sudah menghubungi Dhea, namun tidak diangkat. Akhirnya Tyo memutuskan untuk langsung datang ke rumah Lia setelah menanyakan alamat rumah Lia kepada Ryan sang asistennya.


Flassback on

__ADS_1


Di Kantor Tyo.


Sedari tadi Tyo hanya berjalan bolak balik sambil terus berusaha menghubungi seseorang. Ia sudah mencoba 15 kali panggilan, namun tak diangkat juga.


Sementara itu, Ryan yang menyaksikan tingkah konyol bosnya itu hanya bisa geleng geleng kepala.


"Anda sedang menghubungi siapa pak?" Tanya Ryan yang akhirnya membuka suara.


"Dhea," jawab pria itu sambil berjalan ke kursi miliknya.


"Udah 15 kali saya hubungin, tapi gak diangkat sama sekali." ucap Tyo sambil memijit pangkal hidungnya.


"Emang nona Dhea saat ini ada dimana?"


"Tadi dia mengatakan sedang ada di rumah Lia, sahabatnya itu. Tapi kenapa tidak diangkat angkat ya?"


"Kalau begitu bapak langsung saja datang ke rumah Lia nya."


"Itu masalahnya, saya tidak tahu dimana rumah Lia."


"Saya tahu!"


seketika Tyo menatap Ryan tak percaya. Ia berpikir bagaimana bisa asistennya itu mengenal sahabat istrinya. Apa jangan jangan...?


"Kalian berpacaran? "


"Tidak!" tolak Ryan.


"Jadi?"


"Kami bertetangga, rumah kami saling berhadap hadapan."


"Yasudah, cepat kau beri alamatnya!" seru Tyo bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya.


"Kirim lewat pesan saja." ucap pria itu sebelum benar benar meninggalkan ruangannya.


Ryan hanya geleng geleng kepala melihat tingkah bosnya yang kelewatan khawatir itu.


Mungkin bosnya sedang dimabuk cinta, makanya bersikap berlebihan seperti itu.


dengan cepat ia mengirim alamat yang diminta oleh Tyo tadi, dan kemudian keluar dari ruangan Bosnya tersebut.


*Flassback off*


Hi, apa kabar? semoga sehat semua ya.

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, komen dan vote ya, hehhe.


__ADS_2